
Coral berjalan pergi dari sana dengan tegas. Dia tampak lega sudah berani mengatakan hal itu. Sekali lagi hatinya merasa sangat bangga pada dirinya sendiri bisa dengan tegas melawan mereka yang jahat padanya.
"Aku percaya jika Rize akan selalu di sampingku dan Mara memang hanyalah sahabat Rize," Coral berdialog sendiri sembari berjalan menuju kamar lotengnya.
"Bu, bagaimana ini? Semakin hari dia semakin berani karena merasa Rize akan melindunginya." Wajah Deona tampak kesal.
"Kamu tenang saja, Deona. Dia tidak akan bisa berkuasa di rumah ini selama masih ada ibu."
"Bu, aku penasaran sebenarnya dengan sosok Rize itu dan aku akan mencoba mencari tau siapa dia. Aku akan mencari kelemahannya sehingga dia bisa kita kalahkan dan akhirnya tidak akan ada yang membela Coral." Leoni menatap Ibunya dengan datar.
Wanita itu kemudian mengambil pesawat telepon dan menghubungi seseorang. "Ayah, kapan ayah pulang?" suara Rose terisak di telepon.
"Rose, kamu kenapa? Apa ada masalah di rumah?"
"Ayah, aku tidak tau kenapa Coral bisa berubah seperti itu padaku dan kedua saudara tirinya."
"Berubah? Berubah bagaimana?"
"Coral menjadi berani padaku dan dia juga menyakiti Deona."
"Rose, kamu jangan mengarang cerita yang tidak-tidak. Coral itu putriku yang tidak mungkin bisa menyakiti seseorang, apa lagi dengan saudaranya sendiri."
"Kamu segera pulang dan kamu akan mengetahuinya sendiri. Coral memiliki seorang kekasih dan saat aku menasehatinya, dia malah marah dan tidak mau mendengarkan. Pria itu sudah membawa pengaruh buruk pada Coral, aku sudah mencoba menjelaskan jika Coral belum waktunya memiliki kekasih karena dia masih bersekolah, tapi Coral tidak mau mendengarkan dan malah marah padaku, ayah."
"Kekasih? Sejak kapan dia memiliki kekasih? Apa pria itu Zio?"
"Tentu saja bukan. Kalau Zio tidak mungkin aku sebingung dan setakut ini saat Coral tidak pulang semalaman karena menginap di rumah pria itu."
"Apa? Menginap?" Pria di seberang telepon tampak kaget mendengar apa yang istrinya katakan.
"Iya, pokoknya nanti kalau ayah sudah pulang akan aku ceritakan semua yang sudah Coral perbuat selama ayah tidak ada di rumah, dan aku sebagai ibu tiri tidak berani terlalu keras padanya karena aku tidak mau dikatakan sebagai ibu tiri yang jahat." kembali Rose terisak untuk meyakinkan aktingnya.
Deona dan Leonil yang melihat akting ibunya itu tampak tersenyum bahagia. Setelah menutup panggilannya, Rose mengatakan jika sekarang ayah Coral tidak akan menganggap putrinya itu sebagai gadis yang baik, dan aku nantinya akan mencari bukti bagaimana Rize sangat dekat dengan Coral. Aku tidak akan membiarkan gadis itu mendapat simpati dari ayahnya." Rose bersidekap.
__ADS_1
Di perjalanan pulang Rize melihat beberapa vampire baru yang sedang bertarung dengan--. Mara? Bahkan Paman Helius juga ada di sana.
Rize segera keluar dan dengan cepat memusnahkan para vampire baru itu agar tidak menyebar lebih banyak.
"Kenapa mereka semakin banyak?" Rize melihat pada Mara.
"Lumayan juga buat latihan setelah aku berkelahi melawan para manusia kecil itu."
"Manusia kecil?" Rize tampak bingung.
Mara menceritakan jika dia bertemu dengan seorang pria yang masih muda dan dia disakiti oleh beberapa teman sekolahnya. Mara membantunya dan menghajar para pria muda yang menyakiti temannya sendiri.
"Apa mereka tau siapa dirimu?"
"Tentu saja tidak, Rise. Aku tidak sebodoh itu menunjukan siapa diriku."
"Pangeran, para vampire baru ini baru digigit beberapa jam yang lalu terlihat dari bekas gigitannya yang tadi sempat aku periksa."
"Raja Pedrona sengaja menciptakan mereka untuk membuat aku kewalahan atau mengalihkan perhatianku agar aku tidak bisa melindungi Coral."
Rize melihat ke arah Paman Helius. Sepertinya Paman Helius sudah menceritakan tentang misi Rize datang dan mendekati Coral.
"Aku memang membutuhkan kamu di sini Mara. Aku akan senang jika kamu tidak keberatan membantuku."
"Tentu saja tidak Pangeran Rize. Siapa tau jika aku nanti membantumu akan bisa menjadi panglima perang di kerajaanmu." Mara meringis.
"Nanti jika aku akan menyatakan perang melawan raja Pedrona."
Rize mengajak pergi Mara untuk mencari para vampire baru dan mereka harus segera memusnahkan mereka agar tidak membahayakan manusia, dan yang paling utama tidak sampai bangsa mereka diketahui oleh para manusia yang pastinya akan dapat menimbulkan masalah besar nantinya.
"Rize, kita kalau begini seperti Paman Dom saja."
"Memburu vampire?"
__ADS_1
"Iya. Dulu bukannya ada pemburu vampire, bahkan aku sendiri lebih takut dengan pemburu vampire itu daripada dengan Raja Pedrona, tapi anehnya setelah Paman Dom memilih ikut dengan ayah kamu, kenapa tidak ada lagi pemburu vampire itu?"
"Mungkin Paman Dom tidak memiliki lagi pewaris yang bisa menjadi sepertinya. Kamu tau sendiri jika memang Paman Dom hanya bekerja dengan dua rekannya yang dihabisi oleh para vampire itu dan akhirnya dimusnahkan sama Paman Dom sendiri."
"Iya, aku tau soal cerita itu."
"Sebenarnya ada baik dan buruknya jika tidak ada para pemburu itu. Baiknya bangsa kita akan bisa bergerak dengan aman tanpa rasa takut, tapi akhirnya banyak vampire dari ras peminum darah manusia berkeliaran dan bisa menyakiti para manusia."
"Rize berhenti," ucap Mara pelan seolah dia merasakan sesuatu.
"Ada apa, Mara?" Rize melihat bingung pada sahabatnya itu.
Mara memang memiliki kekuatan bisa merasakan jika ada kekuatan dari vampire lainnya dan dia berjalan keluar dari mobil Rize.
Mara berdiri di jalanan yang sepi karena memang jalanan itu jarang sekali dilewati oleh kendaraan umum maupun pribadi.
Mara sekali kali duduk berjongkok dan menempelkan tangannya pada tanah. Rize yang melihatnya ikut turun dan berdiri di samping Mara.
"Ada vampire dan dia bukan vampire baru karena aku merasakan kekuatannya."
Rize menepuk pundak Mara dengan pandangan mata tertuju tajam ke arah depan.
"Vampire itu sudah ada di depan kita. Dia Zartu salah satu kaki tangannya raja Pedrona."
Mara berdiri dari tempatnya dan melihat tepat di depannya ada sosok pria dengan baju hitam dan tampak rapi dengan adanya jubah hitam melekat pada tubuhnya.
"Pangeran Rize dan sahabat wanitanya."
"Ada apa kamu muncul di kota ini? Bukankah kamu seharusnya tetap berada di tempatmu?
"Aku haus dan ingin berburu para manusia yang lezat itu," ucapnya tenang seraya memberikan senyum tipisnya.
"Jangan berburu di sini karena ini bukan wilayahmu"
__ADS_1
"Apa kamu takut jika aku menggigit gadis kesayanganmu yang tidurnya di loteng rumahnya itu? Raja Pedrona pasti akan semangat mengetahui berita ini. Berita tentang gadis pembawa bola mutiara hitam." Zartu tersenyum miring.