My Vampire Prince

My Vampire Prince
Perdebatan Lagi part 1


__ADS_3

Luana dan Taza yang sedang berada di cafe sangat terkejut melihat video yang baru saja beredar di sosial media, mereka segera menghubungi Troy, tapi pria itu tidak mengaktifkan ponselnya, mungkin karena dia takut akan ditelepon oleh semua teman-temannya dan malah diejek.


"Kalau begitu kamu coba hubungi Rufo saja, mungkin ponselnya bisa dan aktif," kata Luana.


Tasya mencoba menghubungi Rufo, tapi ternyata ponselnya juga tidak aktif, mereka berdua benar-benar kaget, dan siapa yang sudah mempermalukan sahabatnya itu?


"Kita bertanya pada siapa kalau begini?"


"Sebaiknya kita pulang saja sekarang dan siapa tau Rufo ada di rumah. Jadi, aku bisa bertanya padanya." Taza mengajak Luana ke rumahnya. Dia menyambar tasnya dan segera keluar dari dalam cafe itu.


Di dalam mobil mereka masih memikirkan siapa yang sudah membuat kedua saudaranya sampai dipermalukan seperti itu? Dan karena melamunkan hal itu. Taza yang sedang mengemudi mobil sampai tidak sadar ada motor menyelonong dari arah belokan dan dengan cepat Taza membanting stir ke kiri.


"Argh!" Taza dan Luana berteriak


Brak!


"Luana, kita menabrak apa?" tanya Taza yang ternyata mereka berdua tidak apa-apa karena mobil mereka tidak sampai menabrak batu besar yang ada di sana.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya suara yang mereka pernah dengar, tetapi lupa di mana.


Mereka berdua keluar dan melihat ada gadis yang waktu itu hampir Rufo dan Troy celakai. Gadis yang sudah membela Zio saat akan dikerjai oleh mereka.


"Kamu, kan, gadis yang ada di dekat sekolahku itu?" Kedua mata Luana dan Taza mendelik.


"Ingatan kalian masih bagus, itu berarti kepala kalian masih baik-baik saja."


Luana dan Taza saling melihat, mereka juga sama-sama sedang memegang kepalanya karena memang agak sedikit pusing sebenarnya kepala mereka. Setelah memijat pelan kepalanya, mereka melihat lagi ke arah gadis yang sudah menolongnya, tapi gadis itu ternyata tidak ada di sana.

__ADS_1


"Loh! Ke mana gadis itu pergi? Kenapa dia cepat sekali perginya, dan lihat Luana, mobilku menjadi penyok. Apa gadis itu yang membuat seperti ini?" Taza tampak bingung.


"Iya aneh sekali, mobilmu langsung penyok, tapi kita tidak menabrak batu besar ini. Jadi,i yang kita tabrakan apa? Gadis itu? Tapi kenapa dia baik-baik saja? Dia sebenarnya manusia atau bukan? Kenapa dia tidak terluka sedikit pun? Malah mobilmu yang menjadi penyok seperti ini."


Mereka berdua saling menatap bingung, apa lagi pas kejadian mereka berad di tempat yang sepi.


Luana dan Taza langsung merinding. "Sebaiknya kita hubungi keluargaku agar datang ke sini dan membantu kita, atau kita pakai saja mobil ini untuk segera pergi dari sini."


"Ayo! Cepat-cepat, Taza! Di sini sangat menakutkan sekali." Luana dan Taza mencoba menyalakan mobil dan segera pergi dari sana.


***


Malam itu di rumahnya. Coral makan malam dengan keluarganya. Kalau ada ayahnya di rumah, hidup Coral akan sangat teratur dan terjamin. Dia bisa makan sehari tiga kali dan apa yang dia inginkan bisa saja dia dapatkan karena tinggal meminta pada ayahnya, tapi Coral sama sekali tidak mau melakukan hal itu. Dia memang anak yang sederhana dan tidak suka hal yang berlebihan.


"Ibu, besok malam aku ada undangan pesta ulang tahun Luana. Banyak anak sekolah kita terutama kelas tiga yang diundang ke acara pesta ulang tahunnya, aku boleh datang 'kan Bu? Leonil juga datang."


"Aku ada, Bu. Gaun yang masih belum, aku pakai saja itu nanti."


"Coral, apa kamu juga akan hadir pada pesta itu?" tanya ibu tirinya pada Coral yang saat itu tengah memutar-mutar sendok makannya di atas piring.


"Iya, aku akan datang juga karena aku juga mendapat undangan dari Luana."


"Apa kamu sudah memiliki gaun untuk kamu pakai ke acara pesta itu? Kalau tidak, nanti Ibu belikan.'


"Tidak perlu, Bu, aku masih punya gaun yang lama, itu saja yang aku pakai, lagi pula aku tidak terlalu suka memakai gaun.Jadi, untuk apa membeli banyak-banyak?"


"Tidak apa-apa, Coral. Ibu itu senang bisa membelikan kamu gaun yang cantik-cantik dan indah." Wanita itu tersenyum berpura-pura.

__ADS_1


Sejak kapan Rose membelikan gaun yang indah untuk Coral. Kalaupun membelikan, gaun itu pasti akan dipakai dan setelah itu manjadi hal milik Deona. Atau kalau tidak, gaun itu pasti akan dirusak oleh Deona bagaimanapun caranya.


"Tidak perlu, Bu, terima kasih."


"Ibumu sangat sayang dan baik padamu, Coral, dan kamu seharusnya menurut pada Ibumu. Ibumu pasti sudah tahu apa yang terbaik buatmu dan tidak."


"Aku menyayangi Coral sama seperti aku menyayangi Deona dan Leonil, Ruff. Coral putrimu anak yang baik dan penurut, mungkin karena salah dalam memilih teman saja dia menjadi seperti ini, tapi aku yakin dia nanti akan bisa menjadi anak yang baik lagi." Tangan wanita itu menggenggam erat tangan suaminya yang udah di atas meja


"Oh, ya! Apa Rize juga ada dalam acara ulang tahun itu?"


"Tentu saja Rize juga hadir dalam acara itu, Ayah karena Luana satu kelas dengan Rize. Jadi dia juga diundang, tapi dia bilang dia akan membawa temannya dan sahabat wanitanya yang sekarang tinggal satu rumah dengannya," terang Deona yang melebihkan dan sengaja menjelek-jelekkan Rize.


"Apa? Coral, apa benar yang dikatakan oleh Deona?"


Coral melihat ke arah Deona yang dengan wajah santai melihat ke arah Coral.


"Iya, Ayah, Mara gadis yang bersahabat dengan Rize sejak lama dan dia sekarang tinggal di rumah Rize untuk sementara, tapi di sana juga ada paman Helius yang adalah asisten kepercayaan ayahnya dan ada juga Sky saudara sepupunya Rize," terang Coral secara jelas.


"Kenapa kamu bisa menyukai pria seperti itu dia saja sudah tidak setia dengan mengizinkan sahabatnya tinggal serumah dengannya. Coral lebih baik benar-benar lupakan saja Rize. Ayah nanti akan mengenalkan kamu dengan anak dari teman ibumu. Dia pria yang baik dan sudah bekerja. Dia juga anak dari orang yang terhormat di kota ini."


"Kalau dia sangat sempurna seperti yang Ibu ceritakan pada ayah, kenapa dia harus dikenalkan padaku? Kenapa dia tidak dikenalkan saja pada Deona. Deona pasti lebih cocok dengannya."


"Aku? A-aku--?" Deona langsung bingung karena dia tidak mau dikenalkan pada pria yang jauh lebih tua darinya.


"Coral, Deona tidak suka dengan pria yang lebih tua usianya, lagi pula Deona juga masih ingin melanjutkan kan kuliahnya. Jadi, dia tidak ingin memikirkan hal pernikahan dulu."


"Aku memang siap jika menikah, tapi itu dengan Rize, bukan dengan yang lainnya."

__ADS_1


"Kamu itu benar-benar sudah tidak bisa dibilangi ya, Coral."


__ADS_2