My Vampire Prince

My Vampire Prince
Kejadian Buruk Setelah Makan Malam part 1


__ADS_3

Di sepanjang makan malam, Rize tidak makan apapun, dia hanya duduk dan menikmati minuman berwarna merah yang ada di dalam gelas burgundynya.


"Rize, kamu kenapa tidak makan?" tanya Rose.


"Aku tidak menyukai makanan seperti itu," jawab Rize santai sembari tetap menikmati minumannya.


"Kamu tidak perlu diet, Rize. Tubuhmu sudah sangat bagus," timpal Deona.


"Aku tidak sedang diet, aku memang tidak menyukainya."


"Apa aku boleh meminta minuman yang kamu minum? Kelihatannya sangat enak dan aku tidak pernah melihat minuman itu." Leonil melihat Rize dengan pandangan curiga.


Rize melihat datar pada Leonil. "Apa kamu yakin ingin mencobanya?"


"Tentu saja aku mau, kapan lagi aku merasakan minuman yang terlihat sangat enak itu dan tidak pernah aku minum." Leonil menyodorkan gelasnyan pada Rize.


Rize menuangkan sedikit minuman itu pada gelas Leonil. Wajah pria muda itu tampak terlihat senang. Dia menghirup aroma dari minuman yang baunya sedikit agak aneh. Rize memang memasukkan sesuatu pada botol minuman yang tentu saja isinya darah binatang itu agar tidak tercium anyir.


"Cobalah." Rize mengajak bersulang.


Leonil mencobanya dan mukanya merubah aneh. "Kenapa rasanya seperti ini?"


"Kenapa, Leonil?" tanya sang ibu penasaran.


"Kenapa seperti darah?" Leonil melihat pada Rize.


"Memangnya kamu pernah merasakan minum darah?" tanya Deona dengan wajah menertawakan.


"Aku pernah merasakan darahku sendiri saat tanganku terluka dan mengeluarkan banyak darah dan rasanya hampir seperti ini. Ini minuman apa, Rize?"


"Ini minuman yang sangat disukai oleh keluargaku di kota asalku yang jauh dari sini." Rize masih dengan santai menikmati minumannya.


Wajah Leonil tampak aneh dan dia tidak meneruskan untuk menghabiskan minumannya itu karena bagi Leonil rasanya sangat tidak enak.


"Apa minuman itu mahal harganya, Rize?" tanya Deona.


"Harganya tidak mahal karena aku mudah sekali mendapatkannya. Kalian habiskan saja makan makan malamnya. Bersulang." Rize mengajak mereka untuk bersulang.


Coral terlihat memandang ke arah kekasihnya yang tampak melihat dingin pada keluarganya. "Rize, apa itu termasuk minuman beralkohol?" tanya Coral yang sebenarnya dia dari tadi ingin tanyakan.

__ADS_1


"Ini bukan minuman semacam itu, Coral."


"Oh ya? Maaf, aku bertanya seperti itu karena aku tidak suka jika kamu minum minuman yang ada alkoholnya. Itu tidak baik bagi kesehatan, Rize."


"Tentu saja ini bukan minuman seperti itu."


"Apa aku boleh mencobanya?"


Rize terdiam sejenak, dan kemudian dia menuangkan ke alam gelas Coral yang ada di atas meja. "Cobalah."


Coral perlahan mencoba mencicipi minuman yang terlihat Rize sangat menikmatinya. Wajahnya tampak biasa saja saat menikmatinya, kemudian minuman itu pun diteguk Coral hingga habis. Rize yang melihatnya tampak terkejut, bahkan paman Helius yang ada di sana.


"Kamu menyukainya?"


"Rasanya tidak terlalu buruk dan memang ini bukan minuman beralkohol."


Rize tersenyum miring mendengar apa yang Coral katakan. "Kamu memang pantas menjadi kekasihku, Coral."


Wajah Coral seketika tampak tersipu malu mendengar ucapan Rize. Beda dengan ketiga orang yang juga duduk di satu meja dengan Rize. Mereka bertiga tidak senang melihat hal itu.


"Aku juga mau mencobanya, Rize. Aku penasaran dengan rasanya." Deona dengan cepat menyodorkan gelas minumannya.


Rize menuangkan sedikit ke dalam gelasnya dan Deona yang sebenarnya ingin dianggap Rize juga pantas jika menjadi kekasihnya, dia mencoba minuman itu dan hasilnya dia malah ingin muntah.


"Deona, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Nona ke belakang saja. Jangan muntah di sini karena itu pasti sangat menjijikkan."


Coral memberikan air minum pada Deona dan gadis yang sekarang terlihat tidak baik wajahnya karena mencoba minuman aneh itu duduk dengan masih menahan tidak enak pada perutnya.


"Apa kamu sudah lebih baik, Deona?" tanya Coral.


"Kamu aneh sekali menyukai minuman itu. Apa karena kamu ingin terlihat lebih baik di mata Rize?" Deona menatap serius.


"Aku tidak mengatakan minuman itu enak, tapi aku hanya bilang jika minuman itu tidak begitu buruk, dan aku juga merasa biasa saja dengan minuman itu. Apa salahku?"


Deona tidak meneruskan perdebatannya dengan Coral karena dia ingin membuat perutnya lebih baik dulu.


Mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda karena minuman yang Rize minum dan membuat lainnya penasaran.

__ADS_1


"Rize, kapan-kapan aku ingin mengundang kamu dan keluargamu makan bersama di rumahku, apa kamu mau?"


Rize kembali terdiam sejenak dan tampak berpikir. "Bibi, kedua orang tuaku sangat sibuk dan mereka jarang sekali ke sini. Aku saja tinggal sendiri hanya dengan paman Helius. Kalau aku dan paman Helius saja yang datang, apa bisa?"


"Kedua orang tuamu pasti orang penting. Jadi, mereka sangat sibuk."


"Iya, mereka tidak bisa meninggalkan kerajaannya dulu saat ini."


"Ke-kerajaan? Maksud kamu apa, Rize?"


Rize keceplosan menyebutkan kerajaan di depan keluarga Coral. "Maksud Tuan Muda Rize, yaitu kerajaan bisnisnya," terang paman Helius yang setia berdiri di samping Rize. Dahal tadi Coral meminta agar Rize mengajak paman Helius untuk duduk dan makan bersama, tapi paman Helius tidak mau karena dia tau di mana posisinya.


Makan malam telah berakhir dan Rose izin untuk pulang bersama dengan ketiga anaknya.


"Coral, besok aku akan menjemputmu, dan kita berangkat sekolah bersama-sama."


Coral mengangguk perlahan. "Rize, terima kasih makan malamnya hari ini."


"Aku juga berterima kasih karena kamu akhirnya mau datang, meskipun tadi kamu bilang tidak bisa ikut."


Coral melihat ke arah ibu tirinya yang memasang wajah kesal. Keluarga Coral naik ke dalam mobil dan mereka pulang menuju ke rumah. Di Perjalanan Coral melihat mobil yang dikendarai oleh ibu tirinya melewati jalan yang tidak seharusnya mobil itu lewati jika mau pulang ke rumah.


"Ibu, kita mau ke mana ini?"


"Ibu ingin ke rumah teman ibu untuk mengambil pesanan barang yang sudah ibu pesan. Kamu kalau sudah mengantuk Sebaiknya tidur saja."


Leonil yang duduk di samping ibunya menoleh ke belakang dan tersenyum seolah menertawakan sesuatu.


Entah kenapa perasaan Coral seketika menjadi tidak enak. Dia terus menjaga kedua matanya melihat sekeliling jalanan yang mobil ibunya lewati. Tiba-tiba mobil berhenti tepat di sebuah pematang sawah yang sepi. Sekitar tiga orang pria berjalan mendekati mobil mereka.


"Bu, siapa mereka?" tanya Deona.


"Ibu tidak tau. Kalian tenang saja di dalam mobil."


"Bu, biar aku yang keluar untuk bertanya apa mau mereka."


"Leonil, kamu diam saja di sini dan jangan berbuat hal yang membahayakan bagi kamu."


Jendela kaca mobil yang ada di sebelah Coral digedor dengan sangat keras, sehingga membuat gadis itu terkejut.

__ADS_1


"Ibu, mereka siapa?" tanya Coral yang ketakutan.


Pintu dibuka oleh salah satu pria yang terlihat seperti orang yang memiliki niT buruk. Tangan Coral ditarik secara paksa. Coral menjerit minta tolong. Pun dengan Deona juga dipaksa untuk keluar oleh salah satu pria di sana.


__ADS_2