
Coral sekali lagi berusaha untuk meyakinkan Rize agar tidak perlu berpikir ingin mereka menjadi sepasang kekasih karena Coral tidak mau memiliki kekasih sempurna seperti Rize.
"Aku tidak peduli walaupun kamu tidak setuju. Kamu adalah kekasihku mau atau tidak, dan kalau perlu aku akan mengatakan ini beberapa kali, bahkan setiap hari kalau kamu mau."
"Jangan, Rize! Kenapa kamu sulit sekali diberitahu? Rize, di luar banyak sekali gadis yang cantik dan pintar-pintar serta populer daripada diriku. Kenapa kamu tidak memilih mereka saja? Mereka lebih pantas menjadi pacarmu."
"Aku tidak tertarik pada mereka, bagiku kamu lebih cantik." Tangan Rize tepat berada di atas kepala Coral.
"Pembohong," ucapnya lirih.
"Kenapa kamu mengatakan aku pembohong?"
"Tidak ada yang menganggap aku cantik, semua di sini hanya menganggap aku si bodoh yang pantas untuk dipermainkan."
Coral beranjak dari tempatnya dan mengambil sapu untuk membersihkan lantai. Rize tau kenapa Coral seperti itu. Dia memang selalu diremehkan oleh orang-orang sekitarnya, bahkan keluarganya sendiri. Jadi, Coral tidak mudah percaya dengan orang lain, apa lagi yang bersikap baik padanya.
"Coral, aku akan melindungimu, dan aku berjanji tidak akan membiarkan anak-anak jahat itu berbuat buruk terhadapmu."
__ADS_1
Coral mendongak melihat pada wajah Rize. "Katakan sejujurnya padaku, Rize? Sebenarnya kamu punya maksud apa? Apa yang kamu inginkan dariku?"
Rize berdiri dengan tegap memasukkan satu tangannya pada saku celananya. "Aku tidak memiliki maksud apapun. Aku hanya kasihan saja sama kamu." Rize berjalan, kembali duduk di bangkunya dan bersedekap melihat pada Coral yang menatapnya dengan perasan curiga.
Waktu berlalu dan akhirnya pekerjaan Coral selesai. Ruang kelas itu menjadi bersih karena memang Coral gadis yang rajin.
"Rize, aku sudah selesai, apa kita bisa pulang sekarang?"
"Baiklah, kita pulang sekarang." Rize menggandeng tangan Coral berjalan menuju tempat parkir. Coral berusaha melepaskan tangannya, tapi sangat sulit karena pria yang menggandengnya tidak mau melepaskannya.
"Rize, jangan menggandengku begitu." Coral terlihat marah.
"Hah? Manusia? Memangnya kamu bukan manusia? Kamu alien?" Coral malah terkekeh.
"Aku bukan manusia, aku ini pangeran vampire," ujarnya santai.
Coral malah terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Rize. "Kamu lebih cantik jika tertawa seperti itu. Apa kamu tidak pernah tertawa?"
__ADS_1
Coral perlahan menghentikan tawanya. "Terima kasih sudah membuatku tertawa dengan ucapan kamu yang lucu itu."
"CK! Kenapa kamu selalu menganggap aku bercanda?"
Rize menjalankan mobilnya. Coral duduk dengan tenang di dalam mobil. "Rize, kamu tinggal di mana?"
"Apa kamu mau ke rumahku?"
"Hah? Tidak-tidak! Aku hanya bertanya saja sama kamu, tidak bermaksud ke rumahmu."
Rize mengambil ponselnya dan dia menghubungi paman Helius. "Ada apa, Pangeran Rize?"
"Paman, tolong siapkan makanan yang sangat enak karena aku akan datang dengan Coral."
"Hah?" Coral mendelik mendengar apa yang Rize bicarakan dengan paman Helius. "Rize, aku mau pulang saja. Ibuku nanti marah kalau aku pulang terlambat."
Rize tidak memperdulikan kata-kata Coral, dia kekeh akan mengajak Coral ke rumahnya karena Rize ingin tau Coral di rumah pasti akan di siksa dan tidak akan mendapat jatah makan siang.
__ADS_1
"Kamu diam saja, Coral, aku tidak akan membuat kamu dalam masalah."
Coral benar-benar tidak menyangka akan berurusan dengan orang seperti Rize yang suka berbuat semaunya sendiri. Coral ini sangat ketakutan jika nanti dia pulang pasti akan mendapat masalah di rumah.