
Zio bingung dengan sikap Coral yang sekarang malah celingukan seperti orang yang sedang ketakutan akan suatu hal.
"Coral, kamu kenapa?"
"Zio, sebenarnya aku ingin bercerita sama kamu tentang hal yang sangat penting."
"Ada apa sih? Kenapa kamu bicaranya seperti serius sekali?" Zio sampai mengerutkan kedua alisnya dan melihat serius pada Coral.
"Zio, vampire itu ternyata memang benar ada di dunia ini dan dia hidup berdampingan dengan kita selama ini?"
"Apa? Vampire? Kamu baru melihat mereka lagi atau malah mimpi buruk tentang vampire?"
"Aku serius, Zio. Apa yang waktu itu aku ceritakan ternyata memang beneran ada dan aku sekali lagi melihat dengan kedua mataku sendiri."
Zio duduk mendekat pada Coral. "Memangnya sekarang kamu melihat di mana?"
"Di rumahku, tepatnya di atas loteng kamarku dan dia menghisap darah saudara sepupunya Leonil dan Deona. Anak laki-laki yang dulu aku ceritakan sama kamu."
"Siapa? Dre itu? Katamu dia itu pria yang tidak jauh tingkahnya dengan Leonil dan Deona. Sama-sama jahat."
Coral dengan cepat mengangguk. "Aku masih bingung. Coba kamu ceritakan kenapa bisa kamu bilang ada vampire yang menghisap darahnya."
"Kemarin Deona mengadakan pesta ulang tahun dan aku merasa jika pesta itu sengaja diadakan karena ada rencana yang tersembunyi di sana."
"Rencana? Rencana apa maksudmu?"
"Rencana untuk melakukan sesuatu padaku, Zio."
"Apa? Mereka membuat rencana jahat buat kamu?"
Coral mengangguk dengan cepat. "Iya, mereka merencanakan hal jahat untukku. Setelah aku minum dan naik ke atas loteng kamarku untuk istirahat, tiba-tiba kepalaku sakit dan aku seperti orang yang kehilangan tenaga. Tidak lama aku merasakan sesuatu menyentuh tubuhku dan saat aku membuka kedua mataku walaupun agak berat, tapi aku bisa melihat ada Dre yang sedang di atas tubuhku."
"Apa? Dre di atas tubuh kamu?" Zio mendelik sangat terkejut. Apa yang dia lakukan sama kamu, Coral?"
"Sepertinya dia ingin berbuat hal buruk denganku, Zio." Coral tampak sedih.
__ADS_1
"Dia benar-benar keterlaluan! Apa dia berhasil dengan apa yang dia lakukan sama kamu?"
Coral menggeleng dan terlihat wajah Zio lega. "Lalu, bagaimana kelanjutannya?"
"Aku tidak tau, tiba-tiba dari belakang Dre aku melihat ada Rize yang wajahnya tampak menyeramkan. Bola mata Rize berubah hitam dan kedua giginya mengeluarkan taring yang sangat tajam, dan dia menggigit Dre dengan kejamnya."
"Apa? Rize?" Zio sampai mendekatkan wajahnya pada Coral. Kemudian dia menariknya perlahan. "Fix, kamu itu cuma bermimpi karena saking rindunya pada kekasihmu itu."
"Zio! Aku itu tidak bermimpi. Aku jelas-jelas melihat Rize ada di sana. Dia menolong dari Dre," ucapnya lirih pada kalimat terakhir.
Coral memang menyadari jika kekasihnya itulah yang sudah menyelematkan dia dari perbuatan buruk Dre yang akan dilakukan padanya, tapi Coral tidak ingin Rize seperti itu karena sama saja Rize sudah menyakiti atau bahkan membunuh orang lain.
"Kamu bilang jika merasakan ada hal aneh dalam tubuh kamu, dan melihat Dre melakukan sesuatu sama kamu?"
"Iya. Aku sebenarnya tidak yakin tentang sosok Rize yang ada di sana. Aku kira aku hanya bermimpi, tapi tadi pagi Rize ada di rumahku, hanya saja aku tidak ingin bertemu dengannya karena aku merasa takut akan kejadian semalam."
"Coral, siapa tau waktu itu memang Dre melukaimu dan Rize datang tepat waktu untuk menolongmu."
"Iya, dia menolongku, tapi dia berubah menjadi vampire yang menyeramkan. Dia sudah membohongiku Zio. Dia bukan manusia."
Coral menggeleng pelan. Dia juga tidak mengerti. Rize beda dengan vampire yang pernah dia lihat saat membunuh para penculiknya itu.
"Zio, apa mungkin aku hanya berhalusinasi?"
"Bisa saja. Mungkin Rize datang ke sana menolong kamu terus meninggalkanmu karena sudah malam, tapi dia sudah memastikanmu aman."
"Tapi kenapa ibuku tidak membahas masalah itu? Semua masih membingungkan Zio."
Zio mencoba menenangkan semua baik-baik saja dan tidak ada hal seperti vampire di dunia ini. Coral merasa sedikit lega meskipun di dalam pikirannya masih terbayang terus kejadian kemarin malam.
Coral berada di rumah Zio sampai sore. Dia membantu Zio membereskan barang-barang nenek dan nanti bisa diberikan pada teman-temannya di panti jompo sesuai pesannya jauh hari sebelum beliau meninggal. Kamar nenek akan di tempati oleh mba Hena yang akan tinggal di sana menemani Zio.
"Kamu antar Coral dulu sebelum malam. Nanti Coral bisa dimarahi oleh ibunya kalau pulang kemalaman."
"Aku permisi dulu ya, Kak."
__ADS_1
"Iya, hati-hati dan salam pada ibumu kalau dia mau menerima salamku." Hena terkekeh. Hena tau bagaimana ibu tiri Coral itu karena Zio sering bercerita tentang perilaku ibu tiri Coral itu.
"Iya, Kak, nanti aku sampaikan."
"Semoga sekolahmu segera lulus jadi kamu bisa mencari pekerjaan dan pergi saja dari rumah. Kamu tinggal mandiri atau menikah dengan seseorang."
"Menikah?" Coral seketika ingat dengan Rize yang pernah mengatakan jika dia ingin menikahi Coral dan akan membawanya pergi dari rumahnya yang seperti neraka itu.
"Iya menikah, Coral. Menikah dengan kekasihmu. Kata Zio kamu memiliki kekasih yang tampan dan kaya raya ya? Kamu pintar sekali mencari pacar." Lengan tangan Kak Hena menyenggol pundak Coral.
"Kekasihku biasa saja, Kak."
"Bukan Coral yang mencarinya, tapi Rize yang mencari Coral, dia yang menyukai Coral. Aku sendiri heran pada Rize, kenapa dia bisa menyukai temanku ini?" Zio melihat pada Coral dengan pandangan tidak percaya.
"Aku sendiri juga tidak tau kenapa dia malah memilihku?"
"Memangnya kenapa kalau dia memilih Coral? Dia mungkin bisa melihat dengan hatinya, mana gadis yang baik dan pantas untuk dicintai. Sebenarnya, dulu aku mengira kalian ini nantinya akan berpacaran dan bersama karena persahabatan yang aku lihat selama ini, tapi ternyata kalian hanya memang bersahabat. Kalian hebat." Kak Hena memberikan jempolnya.
"Karena aku dan Coral memang dari awal hanya menganggap kita ini sebagai saudara."
"Coral, apa kamu tau jika Zio menemukan seorang gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta?"
"Apa? Apa itu benar? Kok aku tidak kamu beritahu?" Coral melihat kesal pada Zio.
"Mulutnya itu kenapa mudah sekali nyerocos seenaknya. Ayo, aku antar pulang." Zio menarik tangan Coral membawanya ke dekat motornya.
"Zio, siapa gadis itu?"
"Gadis apa? Nanti saja aku cerita, lagi pula aku baru mengenalnya."
"Dia satu sekolah dengan kita? Siapa, sih?" tanya Coral penasaran.
"Dia bukan salah satu teman sekolah kita."
Coral memaksa ingin tau siapa gadis itu, tapi Zio berjanji akan menceritakan nanti saja.
__ADS_1