
Pria paruh baya itu seketika beranjak dari tempatnya. "Ruff, kamu mau ke mana?"
"Aku mau menemui Coral. Hari ini biar aku yang mengantar kalian pergi ke sekolah, dan tidak akan aku biarkan pria itu mendekati putriku."
Pria yang dipanggil Ruff itu berjalan mendekati putrinya yang sedang memakai sepatu.
"Coral, ayah sudah peringatkan agar kamu tidak dekat dengan Rize. Apa dia akan menyusulmu?"
"Rize pria yang baik, Yah. Dia selama ini yang membantuku dalam menghadapi semua perlakuan jahat yang ibu dan teman-temanku lakukan."
"Jangan menjelek-jelekkan Ibumu hanya karena dia melarangmu berpacaran dengan Rize."
Tidak lama pria yang mereka bicarakan itu datang dan berjalan mendekati Coral serta ayahnya.
"Selamat pagi, Paman," sapa Rize sopan.
"Pagi. Rize, bukannya aku sudah mengatakan agar kamu menjauhi putriku. Mulai hari ini dan seterusnya, selama aku di sini, kamu tidak perlu mengantar dan menjemput Coral karena dia akan pergi ke sekolah dan pulang dengan keluarganya. Sebaiknya kamu juga menjauhi Coral saat di sekolah."
"Ayah, jangan bicara seperti itu pada Rize. Kenapa ayah tidak bisa percaya dengan apa yang aku katakan?"
"Ayah bukannya tidak percaya, tapi ayah ingin menjagamu. Sekarang sebaiknya kamu ke sekolah saja biar Coral aku yang mengantarkan."
Rize tidak mau berdebat dengan ayah Coral, dia memilih pergi dari sana dengan mobilnya.
"Kasihan sekali anak itu. Dia selalu mendapat kesedihan dalam hidupnya."
"Kenapa dia tidak mengakhiri saja hidupnya."
"Kita tunggu saja nanti sampai dia benar-benar dipisahkan dengan Rize. Dia mungkin akan mengakhirkan hidupnya.
Mereka bertiga terkekeh dengan pelan. Setelah makan pagi selesai, Coral duduk dibangku belakang dengan Deona. Deona melihat Coral seolah mengolok-olok Coral.
Coral tidak mau memperdulikan Deona. Dia lebih memilih melihat ke arah luar jendela daripada dia harus melihat wajah Deona.
Sampai di depan sekolah. mereka berempat turun. Deona dan Leonil berpamitan dengan ayah mereka dan kemudian masuk ke dalam kelas.
"Coral, kalau kamu sayang pada ayah. Jangan dekati Rize dan putuskan hubunganmu dengannya."
"Aku tentu saja sangat sayang pada ayah, dan karena rasa sayangku itu, aku menahan semua rasa sakit dan kesedihan yang selama ini keluarga baru ayah berikan."
"Coral, kamu ini kenapa? Selama ini kamu selalu bilang bahagia dengan keluarga baru yang ayah sudah berikan untukmu."
"Terima kasih sudah memberikan keluarga yang sangat baik untukku," Coral mengucapkan seolah hal itu bertolak belakang dengan apa yang diucapkan oleh mulutnya.
"Anak itu benar-benar berubah. Semua itu memang pasti karena pengaruh buruk dari Rize."
Di dalam kelas Coral duduk tanpa menoleh ke arah kekasihnya yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Apa benar yang kamu katakan, Deona?" tanya Luana tidak percaya.
"Tentu saja apa yang aku katakan adalah hal yang sebenarnya. Ayahku menyuruh Coral berpisah dan putus dari Rize."
"Ini berita yang sangat menyenangkan yang aku dengar. Semoga mereka berdua benar-benar putus dan kita bisa mendekati Rize."
Deona masuk ke dalam kelas, dia sebenarnya mengawasi apa Coral masih saja berani mendekati Rize. Coral ternyata duduk di bangkunya dan Rize ada di bangkunya sendiri.
"Hai, Rize," sapa Luana.
"Ada apa?"
"Rize, ini ada undangan ulang tahun untukmu. Besok malam jangan lupa datang ke pesta ulang tahunku." Luana memberikan undangan berwarna merah jambu pada Rize.
"Terima kasih, besok aku akan datang. Oh ya, apa boleh aku datang dengan kedua temanku?"
"Teman kamu?"
"Sepupuku yang baru saja datang dan sahabat baikku."
"Tentu saja kamu boleh datang mengajak mereka. Pestaku terbuka untuk keluargamu."
"Aku akan datang."
Sekarang Luana dan Deona berjalan menuju bangku Coral yang sedang membaca buku. "Coral, aku minta maaf karena tidak bisa mengundangmu di acara ulang tahunku. Kartu undangan yang aku bawa ternyata sudah habis. Jadi, aku tidak bisa mengundangmu. Lagi pula kamu pasti tidak akan boleh hadir ke acara seperti itu. Benarkah?"
Mereka berdua tertawa dengan senangnya. "Aku juga tidak tertarik dengan pesta semacam itu, Luana."
"Bagus kalau begitu karena benar juga apa yang Deona katakan jika kamu pasti akan memalukan jika hadir di acara pesta itu."
Mereka berdua kembali tertawa dengan senangnya. "Luana, ini aku kembalikan kartu undangan ulang tahunmu."
Tiba-tiba tawa mereka berdua terhenti dan melihat ke arah undangan yang Rize sodorkan.
"Rize kenapa kamu berikan lagi undangan ini padaku?"
"Aku tidak mau datang ke acara pesta ulang tahun jika kamu memilih untuk tidak mengundang Coral."
"Aku bukannya tidak mau mengundang Coral, tapi memang kartu undangan ulang tahunku sudah habis, Rize."
"Ya sudah kalau begitu anggap saja kartu undangan kamu juga sudah habis dan tidak bisa mengundangku."
Rize memberikan kartu undangan itu pada Luana, kemudian dia berjalan dan duduk kembali ke bangkunya dengan santa. Coral yang melihatnya tampak terdiam.
"Bagiamana ini, Luana? Rize tidak mau datang ke acara ulang tahunmu, pasti ulang tahunmu tidak akan bisa meriah, secara bukannya kita ingin agar Rize bisa dekat dengan kita."
Luana tampak berpikir sejenak, kemudian dia duduk tepat di depan meja Rize. "Rize, aku
__ADS_1
akan mengundang Coral ke acara pesta ulang tahunku tanpa kartu undangan. Sebenarnya aku mau mengundang dia hanya saja aku sudah bilang kartunya sudah habis dan Deona yang mengatakan jika Coral tidak pantas datang ke acara pestaku bukan aku, Rize," Luana memelankan pada bagian kalimat yang menyebut pernyataan Deona.
Deona yang masih berdiri dekat Coral hanya bisa memperhatikan dua orang yang sedang bicara itu.
"Baiklah, aku akan datang jika memang kekasihku itu juga hadir."
"Iya, dia akan datang."
Luana beranjak dari bangkunya dan mengajak Deona keluar dari kelas. Wajah Luana tampak sebal karena dia harus mengundang Coral untuk hadir ke acara pesta ulang tahunnya.
"Bagaimana Luana?"
"Aku terpaksa mengundang saudara sepupumu yang menyebalkan itu, Deona!" Luana bersidekap.
"Ya sudah kamu undang saja, di sana kita akan membuat rencana untuk mempermalukannya. Bagaimana, kamu setuju tidak?"
Luana melihat ke arah Deona dengan licin. "Ide kamu bagus juga, kita akan membuat rencana agar dia malu di depan lainnya dan juga di depan kekasihnya sendiri."
Taza berjalan perlahan mendekati dua orang yang sedang membuat rencana busuk itu. Dia entah kenapa seperti sedang dijauhi oleh Luana.
"Luana, apa aku tidak boleh mengetahui apa yang sedang kamu dan Deona rencanakan?" tanyanya dengan suara lirih.
Luana melirik pada Taza. "Kamu itu sebenarnya temanku atau teman si anak menyebalkan itu?"
"Tentu saja aku temanmu, Luana."
"Kalau kamu temanku, kenapa kamu kemarin mengatakan kalau Coral dan Rize adalah pasangan yang serasi. Jujur, ya, Taza, aku sangat tidak suka temanku membela musuhku walaupun dia hanya bercanda. Kamu sudah tahu, kan sifatku?"
"Aku minta maaf, Luana, aku tidak akan mengulanginya lagi. Apa aku sekarang boleh berteman lagi denganmu?"
"Tentu saja boleh." Luana dan Taza saling berpelukan.
"Kalian sedang membicarakan hal apa? Apa ini rencana untuk anak menyebalkan itu?"
"Tentu saja. Besok adalah hari ulang tahunku dan aku sedang membuat rencana untuk membuat anak itu malu di depan pesta ulang tahunku nanti.
"Kamu serius? Apa yang kamu rencanakan, beritahu padaku, Luana? Aku akan membantumu karena aku juga ingin melihat acara yang seru di pesta ulang tahunmu nanti." Mereka bertiga tampak berbisik.
Zio datang dengan wajah datar, dia bahkan tidak menyapa Coral. Sepertinya ada hal yang sedari tadi dia pikirkan.
Coral yang melihat sikap aneh temannya itu beranjak dari bangkunya dan duduk di depan bangku Zio.
"Kamu kenapa, Zio? Apa ada masalah?"
"Aku tidak apa-apa, Coral," jawab Zio lirih.
"Kenapa kamu seperti tidak bersemangat seperti biasanya?"
__ADS_1
"Aku biasa saja." Zio memegangi perutnya yang terasa nyeri karena segel yang ada pada perutnya seolah memberi suatu sinyal dengan menyala terang.