My Vampire Prince

My Vampire Prince
Keseriusan Rize


__ADS_3

Wanita itu memasang senyum pura-pura tatkala melihat Coral keluar dari dalam mobil Rize dengan membawa dia tas besar.


"Rize, kamu dan Coral dari mana?"


"Aku mengajak Coral untuk membeli gaun yang bisa dia gunakan untuk menghadiri undangan makan malamku karena aku tau dia pasti tidak punya gaun."


"Hah? Gaun? Mana gaunnya karena aku mau lihat!" Deona ingin merampas tas milik Coral, tapi ibu tirinya yang lebih tenang dengan cepat menahan tangan putrinya dan menyuruhnya menjaga sikap karena ada Rize di sana.


"Aku permisi dulu, kalau begitu. Bibi, jangan lupa nanti malam aku tunggu."


Rize berjalan menuju mobilnya dan pergi dari sana. Belum jauh Rize pergi. Deona sudah menyahut tas besar yang dibawa oleh Coral.


Deona segera membawa masuk tas itu dan membuka isinya.


"Deona, jangan merusaknya karena Rize menyuruhku memakai gaun itu saat nanti aku makan malam dengannya dan kalian," terang Coral dengan rasa takut.


"Gadis tidak tau diri! Bukannya aku menyuruhmu untuk mengatakan pada Rize jika kamu tidak bisa hadir di acara itu, kenapa sekarang malah dibelikan baju oleh Rize?"


"Sakit, Bu." Coral merintih kesakitan karena rambutnya sekali lagi dijambak oleh Rize.


"Kamu akan merasakan lagi sakit karena sudah membuat anakku Deona menangis. Bagaimana bisa Rize suka dan tertarik dengan gadis dekil sepertimu?"


"Bu, baju dan sepatunya sangat bagus. Ini tidak cocok untuk Coral. Bagaimana kalau buat aku saja." Gadis itu mencobakan pada tubuhnya.


Terdengar suara menertawakan apa yang Deona lakukan dan itu dari saudara kembar laki-lakinya. "Apa yang kamu tertawaan, Leonil?"


"Kamu memalukan."


"Apa maksud kamu?"


"Itu baju sudah dipakai oleh Coral dan Rize memberikan pada Coral, tapi kamu malah memakainya. Kamu memang lebih pantas menggunakan semua barang bekas dipakai oleh Gadis memalukan itu."

__ADS_1


Ucapan Leonil seolah mengena pada Deona. Gadis itu seketika cemberut dan wajahnya terlihat sedih.


"Ibu! Aku mau baju yang lebih bagus dan mahal dari punya Coral. Pokoknya kalau nanti Ibu mau aku pergi makan malam, aku harus memakai gaun yang sangat indah."


"Rusak saja gaun itu, supaya si anak menyebalkan ini tidak memiliki gaun yang bisa dia pakai."


"Kalian akan mendapat masalah dengan Rize karena Rize ingin aku datang dan memakai gaun ini. Dia juga akan membatalkan acara makan malam jika aku tidak datang karena aku adalah kekasih Rize."


"Apa? Kamu kekasihnya Rize?" Kedua mata ibu tiri Coral mendelik.


"Iya." Coral sekarang merasa dirinya memiliki kekuatan saat mengatakan dia adalah kekasih Rize, bahkan dia berani menatap mata Ibu tirinya. Coral membawa hadiah pemberian Rize naik ke loteng kamarnya.


Rize yang di sana melihat secara diam-diam seperti biasa, tampak senang dengan sikap tegas Coral. Dia yakin sebentar lagi Coral akan berubah menjadi gadis yang berani melawan jika dia ditindas oleh orang lain.


"Aku sudah bilang kalau Coral itu adalah kekasihnya, Rize, tapi Ibu malah tidak percaya."


"Tapi bagaimana mungkin itu terjadi?"


"Kalian semua sekarang harus berhati-hati pada Coral karena kekasihnya itu bukan orang biasa, bahkan tadi di sekolah saja dia berani dengan wali kelasnya yang suka sekali membela Luana, tapi guru itu sekarang tidak bisa berkutik dihadapan Rize." Leonil berjalan pergi dari sana.


Kedua wanita itu saling menatap heran. "Bu, aku mau menjadi kekasih Rize. Coral tidak boleh lebih unggul dariku." Deona tampak merengek sembari mengguncang tubuh ibunya.


"Deona! Kamu jangan malah merengek. Kamu harusnya mencari cara agar Rize membenci Coral." Wajah wanita paruh baya itu kesal.


***


Deona dan ibunya baru saja dari butik untuk membeli gaun baru untuk Deona. Deona ingin tampil lebih cantik daripada Coral.


Deona tampak tidak suka duduk bersebelahan dengan Coral. Dia melihat sinis pada Coral.


Mobil yang dikendarai oleh Rose berhenti di sebuah restoran mewah. Mereka turun semua dan masuk ke dalam restoran mewah itu. Di sana mereka dibawa ke tempat khusus yang sudah Rize persiapkan. Sebuah ruangan pribadi dengan pintu serba kaca melingkar menutupi semua yang ada di sana. Orang di dalam ruangan itu dapat melihat luar karena itu kaca satu arah.

__ADS_1


"Selamat malam, semua," sapa Rize dengan ramah."


"Selamat malam, Rize. Kamu sangat tampan sekali malam ini."


"Terima kasih, Bibi. Bibi juga sangat cantik, tapi putri Bibi jauh lebih cantik," puji Rize pada Coral, tapi yang malah merasa dipuji cantik, yaitu Deona, dahal tatapan Rize mengarah pada Coral yang berdiri di samping Deona.


"Putriku memang sangat cantik, Rize dia juga gadis yang pintar."


"Memang, kekasihku memang sangat cantik dan aku tau dia juga memiliki hati seperti berlian." Rize berjalan mendekat dan menarik tangan Coral mendekat ke arahnya.


Coral tampak sedikit kaget, tapi dia menuruti ajakan tangan Rize. Rize tersenyum padanya. Beda dengan tiga orang di sana yang wajahnya langsung berubah marah, tapi ditahannya.


Paman Helius mempersilakan mereka duduk karena hidangan makan malam akan segera datang.


Rize duduk berdampingan dengan Coral yang wajahnya tampak tidak bisa tersenyum karena dilihati dengan tatapan tidak suka dari keluarganya.


"Bibi, kapan ayah Coral pulang?" tanya Rize.


"Mungkin seminggu lagi. Memangnya ada apa, Rize?"


"Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Bagaimanapun juga aku adalah kekasih Coral dan aku ingin bisa mengenal baik ayah Coral."


Coral tidak percaya jika Rize mengatakan hal itu. Dia beneran serius pada Coral. Ada sesuatu yang menyentuh hati Coral saat menatap wajah Rize, walaupun wajah dingin itu tampak tidak bersahabat, tapi entah kenapa Coral merasa dia baru kali ini merasakan sesuatu yang berbeda. Apa dia sudah mulai jatuh cinta pada Rize?


"Rize, Bibi tau siapa ayah Coral dan dia tidak suka anak gadisnya berpacaran sebelum dia lulus sekolah. Jadi, sebaiknya kamu jangan bertemu dia dulu."


Coral sangat tau jika ibu tirinya berbohong. Coral tau ayahnya adalah orang yang sangat terbuka. Bahkan Coral pernah ditanyai waktu mereka ada waktu berdua. Ayah Coral pernah bertanya, apa Coral memiliki kekasih, bahkan ayah Coral mengira jika Zio adalah kekasih Coral, tapi Coral mengatakan jika dia tidak memiliki kekasih saat ini karena dia takut memiliki hubungan khusus dengan seorang pria.


Ayah yang baik hati dan bijaksana itu malah mengatakan agar Coral tidak perlu takut dan boleh memperkenalkan jika Coral memiliki kekasih agar ayah Coral dapat menilainya.


"Tapi Coral sudah dewasa dan sebentar lagi dia akan lulus sekolah. Kenapa pemikirannya seperti itu?"

__ADS_1


"Suamiku itu masih sangat kolot pemikirannya. Dia tidak memperbolehkan putrinya memiliki hubungan dengan seorang pria karena dianggap belum waktunya. Ternyata Coral malah melanggarnya." Tatapan wanita itu melihat pada Coral, seolah mengisyaratkan agar Coral tidak membuka mulutnya dan berkata yang lainnya.


__ADS_2