My Vampire Prince

My Vampire Prince
Murid Baru part 1


__ADS_3

Wajah gadis itu tampak senang walaupun dia harus menulis kembali ulangannya di luar kelas, dan duduk di lantai.


Coral mengerjakan dengan sungguh-sungguh karena dia ingin mendapatkan nilai yang baik dan belajarnya semalam tidak sia-sia.


Guru mereka mengatakan jika sudah mengerjakan, mereka bisa mengumpulkan di mejanya. Coral pun sudah selesai dan masuk ke dalam kelas untuk mengumpulkan, tapi Coral tetap di suruh untuk menunggu di luar sampai jam mata pelajaran bidang study yang saat ini sedang berlangsung selesai karena ini salah satu hukuman yang juga harus Coral terima agar tidak dikira guru mereka terlalu memberi hukuman yang ringan.


Saat Coral berdiri di depan kelas dia beberapa kali menengok ke dalam kelas untuk mendengarkan penjelasan gurunya yang memberi materi pelajaran untuk bab selanjutnya.


"Sekarang, kalian coba jawab soal isian yang ada di buku paket halaman 304, dan yang sudah selesai silakan keluar untuk beristirahat."


Seketika terdengar suara riuh di dalam kelas Coral.


Coral yang berada di luar kelasnya juga ikut mengerjakan karena dia juga membawa buku mata pelajaran saat ini.


Gadis itu fokus mengerjakan sampai dia tidak sadar ada orang yang melewatinya dan masuk ke dalam kelasnya.


Bahkan dia tidak sadar ada seseorang yang berdiri di depannya. Gadis itu masih saja fokus menulis jawaban dari soal yang ada di buku.


Coral mendongak melihat siapa yang mengetuk-ketukan kakinya beberapa kali di depannya.


Saat kepalanya sudah terangkat ke atas, dia amat terkejut sampai menganga melihat seorang pria dengan wajah datar dan dinginnya sedang menunduk menatapnya.


"Kenapa kamu duduk di sini? Apa dia dalam kelas kamu tidak mendapatkan kursi?"


Coral segera menutup mulutnya dan dia beranjak dengan cepat. Coral berdiri tepat di depan pria itu. Tampak sangat jelas jika tinggi mereka tidak seimbang, sampai pria dia depannya menundukkan sedikit punggungnya.


"Ka-kamu kenapa ada di sini?"


Belum pria itu menjawab, terdengar suara seseorang memanggil nama yang Coral tidak asing dengan nama itu.


"Aku masuk dulu, ya?" Tangan pria itu menepuk perlahan kepala Coral dan berjalan masuk ke dalam. Kelasnya?


Untuk apa dia di dalam kelas Coral? Coral yang penasaran lantas mengintip dari balik tembok kelasnya dan dia melihat pria yang dia kenal berdiri tepat di samping kepala sekolahnya.


"Dia mau apa?"


"Maaf, kalau ibu mengganggu pelajaran hari ini, tapi di sini Ibu ingin memberitahu jika mulai hari ini akan ada teman baru untuk kalian di kelas ini. Dia pindahan dari kota lain dan akan melanjutkan sekolahnya di sini."


Di dalam kelas itu langsung terdengar suara ramai anak-anak melihat siapa yang berdiri di depan kelas mereka, terutama para gadis yang ada di dalam sana.


"Perkenalkan, namanya Rize. Autum Rize dan mulai hari ini dia akan menjadi teman baru kalian di sini, dan ibu harap kalian bisa berteman baik dengannya di sini."


Rahang Coral seolah terlepas sampai membuat mulutnya menganga lebar mendengar hal itu.

__ADS_1


"Dia sekolah di sini?" Coral melihat dari atas sampai bawah. "Dia masih anak sekolah? Aku kira dia sudah kuliah atau kerja, dan kenapa dia malah masuk ke sekolahku?"


"Rize, apa ada yang mau ditambahkan?"


"Tidak, Bu, terima kasih, nanti aku akan berkenalan sendiri seiring berjalannya waktu selama aku bersekolah di sini."


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu dan Rize, semoga kamu senang bersekolah di sini."


Rize menanggap dengan anggukan kecil. Semua anak-anak tampak ramai, terutama para gadis yang berteriak memanggil nama Rize dan ada yang menggodanya dengan memuji ketampanan wajah Rize.


"Kalian jangan berisik, kerjakan tugas kalian dan setelah itu kalian boleh beristirahat."


"Iya, Pak," jawab mereka serentak.


"Rize kamu duduk di bangku paling belakang, ya? Karena kamu sangat tinggi jadi saya memberikan bangku di belakang agar tidak menghalangi temanmu yang lain nantinya."


"Tidak masalah, Pak."


Rize berjalan dengan tegap menuju bangkunya, dan dia duduk dengan santai.


Luana melihat pada Taza. Mereka sepertinya sedang membicarakan Rize dari jauh.


"Luana, Taza, apa yang kalian bicarakan? Cepat kerjakan tugas kalian dan kalian boleh beristirahat."


Luana melengos kesal dengan perintah gurunya itu.


"Pak, apa saya boleh beristirahat?"


"Kalau kamu sudah selesai, kamu boleh beristirahat, Coral."


Coral bilang jika dia sudah selesai, dan guru itu memeriksa jawaban Coral. "Bagus, kamu sudah sangat baik mengerjakannya. Sekarang kamu boleh beristirahat."


"Terima kasih, Pak."


Coral sekilas menoleh pada Rize yang juga sedang menatapnya. Coral kemudian langsung berjalan cepat keluar dari kelasnya.


Rize berdiri dan dia bertanya pada gurunya, apa dia harus ikut juga mengerjakan tugas atau langsung boleh beristirahat?


"Karena buku-bukumu belum siap, maka, kamu boleh beristirahat, Rize."


Tanpa mengucapkan terima kasih, Rize kembali berjalan dengan angkuh dan dinginnya.


Guru itu melihat heran pada Rize. Pria paruh baya itu entah kenapa seperti ada rasa aneh melihat sikap murid barunya.

__ADS_1


Rize berjalan mencari di mana Coral berada. Pria itu mengedarkan pandangannya serta mengandalkan indra penciumannya mencari di mana gadis yang di dalam tubuhnya ada bola mutiara hitam milik kerajaannya.


"Di sana dia rupanya." Rize berjalan secepat kilat naik ke atas loteng gedung sekolahnya karena dia mencium aroma Coral meskipun jarak Coral agak jauh.


"Kamu kenapa bisa di sini?" Coral tampak kaget melihat tiba-tiba ada Rize di sana.


"Aku mencarimu, Coral."


Kedua alis gadis itu mengkerut bingung. "Mencariku? Untuk apa mencariku?"


"Karena hanya kamu yang aku kenal di sini. Jadi, aku mencarimu saja sekaligus aku ingin bertanya padamu."


"Be-bertanya? Bertanya tentang apa?"


"Apa kamu baik-baik saja? Lukamu yang waktu itu."


"Aku tidak apa-apa."


"Kata ibumu, kamu sedang sakit saat paman Helius pergi ke rumahmu untuk menyampaikan undangan makan malamku."


Coral tampak bingung. Dia harus menjawab apa? Apa dia harus berbohong? Tentu saja dia harus berbohong agar tidak mendapat siksaan nantinya.


"I-iya, aku sedang sakit, Rize. Kenapa kamu tidak mengundang keluargaku saja? Dan aku tidak perlu ikut karena aku tidak suka menghadiri acara semacam itu."


Sebenarnya Coral senang sekali menghadiri acara seperti itu. Dulu saja ayah dan mendiang mamanya sering mengajak pergi makan malam, atau kalau tidak pas mereka ada pertemuan dengan teman bisnis ayahnya. Kalau sekarang dia tidak akan merasa bahagia jika datang bersama keluarganya saat ini.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" Wajah Rize mendekat sangat dekat pada wajah Coral.


Gadis itupun reflek memundurkan wajahnya.


Terdengar suara dari perut Coral yang membuat gadis itu agak malu pada Rize.


"Kamu lapar?"


"Aku tidak lapar."


"Lalu, itu tadi bunyi apa? Ayo aku ajak kamu makan di kantin yang ada di sini. Kamu boleh membeli apapun yang kamu inginkan." Tangan dingin Rize menggandeng tangan Coral.


"Tangan kamu dingin sekali, sama dinginnya saat kamu menggendongku waktu itu, tapi--." Coral tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa?"


Coral seketika menggeleng dengan cepat. Dia sebenarnya ingin mengatakan jika ciuman Rize waktu itu tidak dingin, malah terasa hangat dan Coral entah kenapa menyukainya.

__ADS_1


"Aku punya permen yang bisa aku makan." Coral menunjukkan permen yang waktu itu dia beli. Jika lapar Coral memakan satu permen. "Kalau kamu lapar, kamu pergi saja ke kantin sendirian."


"Permen?"


__ADS_2