My Vampire Prince

My Vampire Prince
Di Rumah Rize


__ADS_3

Rize menyuruh Coral makan makanan yang dia inginkan, bahkan Coral boleh menghabiskan semuanya.


"Jangan takut, aku tidak akan memotongmu setelah kamu makan."


Coral memutar bola matanya jengah. "Lebih baik aku makan saja. Kalaupun harus mati, aku akan mati dengan perut kenyang supaya tidak terlalu mqenderita hidupku. Tiap hari kelaparan, masak mau mati pun kelaparan," selorohnya sembari mengambil nasi dan sayuran.


"Menderita? Maksudmu? Apa kamu selama ini hidup menderita di rumahmu sendiri?"


Coral menelan salivanya dengan susah. Dia itu seharusnya menyembunyikan kekejaman ibu tiri dan saudara tirinya.


"A-aku bahagia, Rize. Kita makan saja karena aku sudah lapar." Coral yang tidak ingin Rize membahas tentang kehidupannya di rumah coba mengalihkan perhatian Rize.


Sepanjang Coral makan, Rize hanya memperhatikan saja. Rize sama sekali tidak menyentuh makanannya, bahkan piringnya pun tidak dia balik.


"Rize, kalau kamu tidak mau makan, akan aku habiskan semua makanan ini."


"Habiskan saja semuanya, kalau masih kurang akan aku suruh paman Helius membelikannya."


"Tidak perlu, Rize. Aku tidak makan sebanyak itu. Kamu itu kenapa tidak makan? Apa kamu diet?"


Rize bingung harus memberi alasan apa pada Coral? Kalau dia bilang dia tidak makan makanan manusia, lantas makan apa? Kalau bilang darah hewan yang ada Coral malah tertawa tidak percaya.


"Aku tidak makan makanan manusia, Coral. Aku ini vampire, jadi aku hanya minum atau makan kalau kalian menyebutnya. Aku minum darah hewan saja."


terdengar suara Coral yang terbatuk-batuk karena kaget. Rize yang melihat hal itu sudah tidak kaget.


Coral tidak akan percaya jika Rize adalah vampire. Jadi, Rize lebih baik mengatakan sebenarnya saja daripada harus mencari alasan.


"Kamu masih terobsesi dengan cerita vampire? Huft! Apa bagusnya? Yang ada kamu akan berkhayal terus seperti ini."


"Kenapa kamu susah sekali percaya padaku?"


"Bukan tidak percaya, tapi kamu seolah adalah banyak hal yang tidak terduga. Kenapa juga kamu mengatakan ingin aku jadi kekasihmu? Aneh."


"Aku tidak aneh. Cuma berbeda dengan kalian."

__ADS_1


"Sekarang menganggap dirinya Vampire."


Rize tidak peduli Coral percaya atau tidak yang terpenting dia bisa lebih dekat dan mengenal gadis yang tubuhnya terdapat bola mutiara hitam.


Setelan selesai makan, Coral diajak jalan-jalan oleh Rize mengitari taman yang ada di belakang.


"Kalau taman ini ditanami bunga mawar merah, pasti akan sangat cantik dan terlihat lebih indah."


"Aku tidak bisa berkebun."


"Aku bisa, tapi--." Coral terdiam, dia teringat dengan kebun miliknya yang dirusak oleh ibu tirinya.


"Pergilah ke rumahku setiap hari untuk merawat kebunku itu. Kamu boleh menanam apa saja yang kamu inginkan."


"Apa? Tiap hari?" Coral mendelik kaget.


"Iya, kalau kamu mau, kamu boleh ke sini dan berkebun di sini."


"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak ada waktu. Lagi pula aku harus mengatakan apa pada ibu tiriku. Dia pasti akan marah."


Rise mendekatkan wajahnya pada Coral. Pria itu menatap Coral dengan serius.


Coral menjadi bingung, apa lagi dia melihat tatapan mata Rize.yang seolah mengintimiddasinya.


"Rize, aku mau pulang." Coral berdiri hendak melangkah pergi, tapi tangannya dengan cepat ditahan oleh Rize.


"Kamu tidak perlu menjelaskan karena bekas merah di pipimu itu sudah menjelaskan semuanya."


Tangan Coral langsung memegang pipinya. Setahu Coral dia sudah berusaha menghilangkan bekas tamparan ibunya, tapi memang Rize, kan, sudah tau perlakuan keluarga Coral. Dia hanya ingin Coral yang mengatakan sendiri.


"Rize, kita pulang sekarang saja karena aku tidak mau nanti dikira pergi ke mana-mana."


***


Mereka sampai di depan rumah Coral dan terlihat di sana ibu tiri Coral mondar mandir di pintu depan rumahnya dan tentu dengan wajah yang tampak marah.

__ADS_1


Rize keluar lebih dulu agar Coral tidak mendapat marah dari ibu tirinya. "Loh, kamu Rise, kan?"


"Bibi, saya minta maaf tidak meminta izin dulu mengajak Coral pergi."


Kedua mata Rose mendelik mendengar apa yang Rize katakan. "Kamu dan Coral kenapa bisa pergi bersama?"


"Se-selamat siang, Bu," sapa Coral takut.


"Sayang, kamu kenapa tidak bilang jika pergi dengan Rize." Tangan Rose mengusap lembut rambut Coral.


"Bi, aku murid baru di kelasnya Coral dan aku meminta tolong Coral mengajakku berkeliling sekolah." Rize berbohong.


"Oh begitu. Deona juga satu sekolah dengan Coral, hanya saja mereka beda kelas, kalau mau kamu bisa minta tolong putriku itu mengenalnya lingkungan sekolah dan teman-temannya. Teman Deona sangat banyak."


"Terima kasih, Bi, tapi tadi sudah dibantu oleh Coral."


"Kalau kamu mau berkeliling untuk mengetahui tempat yang indah di kota ini, kamu ajak saja Deona. Dia itu suka sekali jalan-jalan dan tau tempat-tempat yang bagus di sini karena Coral ini anak yang lebih suka di rumah. Dahal hal itu sangat membosankan, tapi Coral memang suka hal itu."


Rize melihat pada Coral. "Kalau begitu dia sangat cocok denganku karena aku sendiri tidak suka keluar rumah dan hal keramaian."


Rose mencoba pura-pura tersenyum, dahal dia sama sekali tidak suka hal itu. "Rize apa kamu mau masuk dulu dan mencoba teh hangat buatan Deona. Rasanya enak dan kamu pasti suka."


"Terima kasih, Bi. Bi besok aku undang makan malam di tempat yang sudah pamanku katakan waktu itu."


"Oh! Tentu saja kami akan menghadirinya Rize." Sekarang wajah Rose tampak bersinar bahagia. Sepertinya bekas tamparan itu tidak terlihat oleh Rize. Buktinya dia mengajak makan malam.


Rize izin pulang, dan setelah mobil Rize pergi dari sana, tangan Rose segera menarik baju Coral masuk ke dalam rumah. Dia menyeret Coral dengan kasar.


"Aku akan mencoba menahan diriku untuk tidak menamparmu karena aku tidak mau undangan makan malam Rize gagal lagi.


"Ibu, aku tidak mau ikut undangan makan malam itu."


"Kenapa tadi tidak mengatakan langsung pada Rize. Memang sebaiknya kamu tidak perlu ikut karena akan mengganggu pemandangan saja. Aku berharap Rize bisa dekat dengan Deona, dan kamu jangan sampai menjadi penghalang dalam rencanaku ini," ancam wanita paruh baya itu dengan melihat tajam pada Coral.


"Besok akan aku katakan pada Rize jika aku tidak bisa datang, Bu."

__ADS_1


"Kamu harus mencari alasan yang tepat agar Rize tidak memaksa kamu datang. Kamu paham, kan?"


Coral mengangguk dan dia izin pergi ke kamarnya di loteng. Mereka berdua tidak tau jika Rize di sana mendengar semua yang mereka katakan. Rize akan menunggu Coral memberikan alasan kenapa besok dia tidak bisa datang ke acara makan malam itu."


__ADS_2