My Vampire Prince

My Vampire Prince
Memata-matai


__ADS_3

Zio mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan kak Hena. Kak Hena malah terkekeh tidak jelas yang membuat Zio merasa semakin bingung.


"Kamu kalau aku tinggal di rumah sendirian. Kamu jangan mengajak teman gadismu yang waktu itu dia datang ke sini mencarimu."


Zio ingat, gadis yang dimaksud oleh Kak Hena adalah Mara. Mara memang sempat datang ke rumah Zio. Mara sengaja mencari rumah Zio karena pemuda polos itu tidak datang untuk menemui Mara sesuai apa yang dikatakannya waktu itu.


"Aku dan Mara tidak ada hubungan apa-apa, Kak. Kita saja baru berteman beberapa hari."


"Iya, Mara, dia cantik, ya? Dan dia kelihatan gadis yang tangguh. Beda sama kamu yang malah kalem begitu," sungutnya.


"Enak saja, aku juga tangguh, hanya saja aku lebih suka terlihat seperti ini."


"Pantas saja kamu tidak laku. Eh, kamu kalau bisa segera nyatakan cinta sama Mara, jangan sampai dia ambil oleh orang lain."


"Nyatakan cinta? Belum selesai aku bicara, sudah ditampol sama Mara. Aku lihat dia tidak mempunyai perasaan apapun sama aku, Kak."


Tangan Hena mengusap perlahan kepala Zio. "Kata siapa dia tidak memiliki perasaan apapun sama kamu? Aku lihat waktu kamu memberinya kalung mendiang nenek itu, wajah gadis itu seolah sangat bahagia dan dia sepertinya tidak pernah mendapat hadiah dari seseorang."


"Hah! Jadi, Kak Hena mengintip saat aku memberikan kalung itu pada nenek?" Wanita di depan Xio langsung mengangguk dengan cepat. "Kak Hena ini memang selalu ingin tau saja masalah anak muda."


"Kamu pikir aku sudah tua! Aku Juga masih muda, Zio. Sudah! Aku mau berangkat dulu. Pokoknya kamu jangan sampai membawa gadis itu atau siapapun di dalam kamarmu kalau tidak ada Kak di rumah. Nanti ada hantu yang bisa membuat kalian berbuat hal yang salah. Lulus dulu dan mencari kerja, baru nanti kamu memiliki calon istri."


"Iya, cerewet! Sudah pergi sana, nanti kamu terlambat."


"Bye, Zio." Kak Hena melambaikan tangan dan keluar dari rumah itu.


***


Keesokan harinya. Coral yang terbangun terkejut melihat ada Rize di sampingnya.

__ADS_1


"Pagi, Coral."


"Rize? Kamu masih ada di sini?"


"Tentu saja."


"Apa kamu dari semalam berada di sini? Apa kamu tidak tidur semalaman?"


Rize menggelengkan kepalanya. "Apa kamu lupa jika vampire itu tidak tidur dan makan?"


Coral terkekeh pelan. "Aku lupa jika kekasihku berasal dari dunia yang berbeda denganku."


"Nanti kamu juga akan terbiasa dengan hal itu. Coral bersiaplah karena aku sebentar lagi akan menjemputmu untuk berangkat sekolah."


"Memangnya kamu sudah membawa mobilmu?"


"Saat kamu tidur, aku pulang sebentar untuk menemui Sky, dan menjelang pagi aku berada di sini menunggumu sampai bangun tidur. Aku meletakkan mobilku tidak jauh dari sini."


"Tentu saja tidak, apa lagi jika setiap hari aku bisa melihatmu bahagia." Coral memeluk kekasihnya itu.


Brak!


Terdengar suara pintu kamar Coral tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh seseorang. Coral yang terkejut tidak sadar jika Rize yang dia peluk sudah menghilang dari sana.


"Leonil? Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu?"


"Kamu sedang apa, Coral?"


Leonil heran melihat tangan Coral yang seperti orang sedang memeluk, tapi dia memeluk angin karena tidak ada siapa-siapa di sana.

__ADS_1


"Em! Aku sedang berolahraga." Coral baru ingat jika dia tadi sedang memeluk Rize yang ternyata langsung pergi saat Leonil menerobos masuk ke kamarnya. Dia merasa lega karena kekasihnya sudah pergi dari sana.


"Coral, kamu tadi bicara dengan siapa?"


"Bicara? Apa maksud kamu? Aku tidak sedang bicara dengan siapa-siapa. Aku di sini sendirian." Coral berusaha menyembunyikan wajah cemasnya. Dia takut jika Leonil curiga padanya.


"Kamu jangan berbohong, Coral. Aku tadi mendengar sendiri kalau kamu sedang berbicara dengan seseorang di sini."


Leonil berjalan mengelilingi kamar Coral mencari siapa tau ada seseorang yang Coral sembunyikan di atas loteng. Leonil memeriksa ke arah jendela. Coral seketika panik karena takut jika Leonil akan menemukan Rize.


"Tidak ada siapapun di sini," ucap Leonil kecewa.


"Memang tidak ada siapa-siapa di sini, dan aku tidak berbicara dengan siapapun juga. Jangan katakan kalau kamu sekarang suka mengawasiku, Leonil. Memangnya apa yang sudah aku lakukan sama kamu sampai kamu seolah memata-mataiku?"


"Dre menghilang sampai hari ini dia belum ditemukan, dan aku tidak tau di mana dia. Terakhir dia ada di dalam kamarmu, tapi setelah itu dia menghilang seperti ditelan bumi. Aku yakin jika hilangnya Dre pasti ada hubungannya denganmu dan kekasih anehmu yang bernama Rize itu."


"Aku dan Rize tidak ada hubungan dengan hilangnya saudara sepupu jahatmu itu. Rize bahkan tidak ada dikota ini dalam beberapa hari. Kamu jangan pernah berpikiran buruk denganku dan Rize. Memangnya kamu ada bukti dengan semua yang kamu ucapkan?"


"Aku memang tidak ada bukti dengan semua itu, tapi aku yakin jika memang kalian ada hubungan dengan hilangnya Dre. Sebentar lagi aku akan mencari buktinya."


"Cari saja. Kalaupun ada yang menanyaiku apa benar Dre menemuiku sebelum dia menghilang? Aku akan mengatakan dia ingin menemuiku karena ingin melakukan hal yang sangat jahat padaku dan dia ingin melakukan hal itu karena diperintahkan oleh bibi dan kedua saudara sepupunya."


"Kamu jangan menuduh aku dan ibuku serta saudara kembarku yang menyuruh Dre. Kami sama sekali tidak merencanakan apapun padamu. Dre ingin menodaimu karena itu adalah keinginannya sendiri."


"Kita tunggu saja Dre ditemukan dan biar dia mengaku sendiri nantinya. Dia melakukan atas keinginan sendiri atau atas rencana yang sudah kalian buat. Sekarang pergi dari sini, Leonil!" usir Coral dengan marah.


Leonil berjalan pergi dari sana. Sejujurnya di dalam hati Leonil sekarang dia menjadi takut, apa lagi Coral sudah mengetahui tentang rencana itu. Kalau Dre ditemukan dan Coral menyuruhnya mengaku. Nasib dirinya, Ibu serta saudara kembarnya akan terancam.


"Bagaimana kalau begini? Apa aku harus tetap mencari di mana keberadaan Dre? Atau malah aku biarkan saja dia menghilang agar rahasiaku dan keluargaku tetap aman." Leonil tampak berpikir sejenak. "Lebih baik aku mencarinya saja dan kalau sudah aku temukan, aku akan membuatnya agar tutup mulut tidak sampai membuka semuanya. Aku benar-benar penasaran sebenarnya dia ada di mana?"

__ADS_1


Coral yang berada di dalam kamarnya kesal dengan sikap saudara tirinya itu. Rize kembali masuk dan melihat Coral berdiri dengan wajah kesalnya.


"Leonil sepertinya laki-laki yang cerdas. Dia sekarang akan terus mengawasi kamu karena dia sedang mencari keberadaan saudara sepupunya yang tidak akan bisa dia temukan."


__ADS_2