
Rize memusnahkan semua para penjahat yang baru saja tergigit oleh dua vampire baru itu.
Kemudian, Rize dan Paman Helius kembali ke rumah untuk membawa Coral. Coral di baringkan di atas ranjang milik Rize. Rize ini sebenarnya tidak pernah tidur. Dia menata rumahnya sedemikian rupa agar mirip dengan rumah manusia pada umumnya supaya tidak menimbulkan kesan mencolok.
"Sebaiknya dia menginap saja di sini sampai dia sadar. Keluarganya benar-benar kejam pada Coral, mereka tega membuat rencana yang begitu kejam untuk gadis ini."
"Iya, Paman, dan aku juga selalu khawatir jika tidak mengawasi keluarga Coral karena mereka pasti selalu memiliki niat untuk melukai gadis lugu ini." Rize memandang lekat pada wajah Coral yang tidur dengan nyenyak.
"Aku akan mengobati luka pada lengan tangan gadis ini, sebaiknya Pangeran pergi dari sini karena hal itu akan bisa menjadi sangat menyakitkan untukmu, Pangeran."
"Aku baik-baik saja. Paman obati saja lukanya dan aku akan tetap berada di sini."
Paman Helius ini menyuruh Rize pergi karena takut Rize akan tidak tahan mencium bau darah dari gadis si pembawa bola mutiara hitam karena bau darah gadis ini menjadi sangat khas. Mungkin karena ada bola mutiara hitam di dalam tubuhnya.
Bahkan Paman Helius yang sudah berlatih cukup lama saja merasakan hal yang agak sakit saat menciumi bau darah Coral.
"Apa Pangeran baik-baik saja?" Paman Helius bertanya karena dia melihat Rize seolah menahan sesuatu yang tidak enak. Rize bahkan sudah menghancurkan kursi besi yang dia pegang.
"Bau darahnya kenapa seolah membuat aku ingin meminumnya sedikit saja."
"Tahan dirimu, Rize. Jika kamu kamu sudah merasakannya maka, dirimu tidak akan bisa berhenti."
Rize berusaha menahannya sampai luka itu ditutup dengan baik oleh Paman Helius.
Rize mendekat dan memegang tangan Coral. "Pangeran, apa kamu menyukai gadis ini?"
Rize terdiam sejenak. Beberapa hari mengawasi dan dekat dengan Coral membuat ada suatu perasaan aneh yang dirasakan oleh Rize.
"Aku tidak menyukainya, Paman. Aku hanya kasihan melihat kehidupan yang sangat jahat padanya."
"Nikahi saja dia dan jadikan dia seperti bangsa kita. Aku yakin jika dia akan bisa membantumu memimpin kerajaan suatu hari nanti, dan dengan begitu dia akan hidup lebih bahagia daripada dia harus menderita menjadi manusia."
__ADS_1
"Aku tidak tau. Aku hanya ingin mengambil bola mutiara hitam itu, tapi aku tidak ingin dia menjadi bangsaku karena belum tentu dia akan bahagia jika menjadi seperti kita, Paman. Dia manusia dan biarkan dia menikmati takdirnya sebagai manusia."
"Tapi kehidupan manusia yang dia jalani sangat menyakitkan." Tangan pria paruh baya itu menepuk pelan pundak Rize. "Pikirkan lagi, Pangeran."
Paman Helius pergi dari sana meninggalkan Rize berdua dengan Coral. Rize menjaga Coral. Dia berdiri di depan jendela kamarnya dan pandangannya tidak lepas dari gadis yang sedang berbaring itu.
"Entah kenapa aku tidak memiliki keinginan untuk menjadikan kamu sepertiku, Coral," dialognya sendiri.
Di sebuah tempat tampak tiga orang sedang berlari ketakutan, mereka seperti sedang dikejar oleh sesuatu. Dua orang pria dan satu wanita, dan mereka seolah sedang kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi.
"Kalian akan aku musnahkan!"
Sebuah kilatan cahaya dari pedang besar yang dipegang oleh seorang pria dengan wajah kejamnya itu berhasil membuat salah satu pria yang berlari ketakutan itu musnah menjadi sebuah abu.
"Jangan, ampuni kami, Tuan." Mohon dua orang yang juga sepertinya akan menjadi korban dari pedang besar itu.
Sekali lagi kilatan pedang itu berhasil memusnahkan dua orang yang akan berlari darinya.
"Kalian tidak pantas aku beri ampun karena kalian bisa membahayakan banyak manusia," ucapnya kejam dan tubuhnya dikelilingi abu dari dua orang yang baru saja dia musnahkan.
Zio bangun dari tempat tidurnya dan melihat wajahnya pada cermin yang ada di dalam kamarnya. "Pria yang ada di dalam mimpiku itu memang aku, dan aku membunuh banyak orang, tapi kenapa aku membunuh mereka?"
Zio melihat pada kalung ayahnya yang ada kantong kecil sebagai liontinnya, sejak kalung itu diberikan sampai sekarang, Zio tidak pernah membuka isi kantong itu. Dia hanya akan memegang erat kalung itu jika dirinya merasa sedang dalam hal yang tidak baik karena setelah memegang kalung itu, Zio merasa lebih baik.
"Lebih baik aku tidur lagi saja karena besok aku tidak mau terlambat masuk sekolah."
***
Keesokan harinya, Coral yang terbangun nampak kaget melihat dirinya berada di sebuah kamar yang asing baginya.
"Aku di mana?" Coral mencoba memeriksa tubuhnya karena dia teringat akan kejadian tadi malam. "Aku tidak digigit oleh vampire itu dan apa benar semua ini nyata?" Coral tampak bingung sendiri, dia juga melihat lengan tangannya yang sudah dibalut oleh perban. Coral berjalan keluar kamar untuk mencari tau siapa yang sudah menolongnya.
__ADS_1
"Oh ****! Kenapa jadi seperti ini?"
"Rize?" Coral kaget melihat ada Rize di dapur dan dia tampak membuat berantakan dapurnya.
"Coral? Kamu sudah bangun?"
"Aku tadi bingung ini kamar siapa? Tapi setelah melihat luar kamar itu, aku baru sadar jika ini rumah kamu."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik. Rize, bagaimana kamu bisa membawaku ke sini? Bukannya aku dibawa oleh tiga orang penjahat dan ada dua vampire." Coral mendelik saat mengatakan itu.
"Aku mengalahkan mereka semua," jawab Rize santai.
"Apa? Kamu serius?"
"Tentu saja, aku bisa bela diri, Coral, dan mereka semua bukan tandinganku."
Coral agak bingung. Meskipun Rize bisa bela diri, tapi bagaimana dia bisa mengalahkan para vampire itu?
"Rize, lalu para vampire itu kamu mengalahkannya bagaimana?"
Rize menatap pada Coral. Dia harus mengatakan sebenarnya apa harus berbohong? Jika dia mengatakan sebenarnya, pasti Coral kali ini percaya karena ada buktinya, dan dia takut nanti Coral tidak mau menikah dengannya. Dia waktu itu kesal saja pada Coral dan mengatakan seenaknya.
"Mana ada vampire? Kamu percaya dengan apa yang aku katakan waktu itu?"
"Ada Rize. Semalam aku melihatnya sendiri dan mereka menghisap darah para penjahat itu sampai tiga penjahat itu merasakan kesakitan."
"Kamu mungkin berhalusinasi karena saking takutnya."
"Aku tidak berhalusinasi, Rize! Aku masih sadar dan tidak bermimpi. Ada vampire di dunia ini."
__ADS_1
Rize melihat Coral sepertinya tidak bisa di bohongi. "Rize, mereka ada dan--." Coral melihat serius pada Rize dan dia perlahan menjauh dari tubuh Rize.
"Kamu kenapa?" Rize tampak melihat heran pada Coral yang seolah takut melihatnya.