
Coral tidak tau jika dari tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Rize melihat kesedihan serta kekecewaan Coral karena mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Rize ingin mengatakan jika bukan seperti ini yang dia inginkan. Dia bahkan ingin memeluk erat gadis itu, tapi niatnya itu dia bisa tahan. Rize akan mencoba membuat Coral percaya jika dia bukan vampire dan apa yang dia lihat hanya mimpi buruknya.
Rize akan menunggu besok saat masuk sekolah, dia akan menjemput Coral dan seolah-olah tidak ada apa-apa.
Beberapa jam Coral mengurung diri di dalam kamarnya. Dia kemudian teringat akan Zio. Jadi, dia memutuskan untuk pergi ke rumah Zio saja. Dia juga ingin menceritakan hal ini pada Zio dan semoga saja Zio percaya dengan apa yang dia katakan.
"Coral turun ke lantai bawah dan tidak menemukan ibu serta adik tirinya di sana. Coral memilih pergi saja dan dia akan berjalan kaki ke rumah Zio yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya walaupun pasti tetap saja dia akan kelelahan. Namun, masih mending daripada dia berjalan ke sekolah.
"Coral, kamu mau ke mana?" sapa gadis penjaga toko tanaman yang Coral dulu sering datangi.
"Aku mau pergi ke rumah Zio."
"Kebetulan, aku juga mau ke sana. Aku baru tau kalau nenek Zio meninggal dan aku ke sana untuk mengucapkan bela sungkawa karena aku juga mengenal neneknya Zio itu. Beliau dulu sering membeli tanaman di tempatku."
Akhirnya Coral pergi dengan gadis itu dibonceng sepedanya. Entah kenapa Coral seolah merasa diikuti oleh seseorang di belakangnya, tapi saat Coral menoleh tidak ada siapa-siapa di sana.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidak pernah ke tokoku lagi, Coral?"
"Itu, a-aku sudah tidak memiliki taman lagi," suara Coral memelan.
"Memangnya, taman kamu kenapa? Apa seluruh tanamannya layu dan mati?"
Coral mengangguk beberapa kali, dia tidak mungkin mengatakan jika tamannya dirusak oleh ibu dan saudara tirinya.
"Kenapa kamu membiarkan layu bahkan sampai mati? Setahuku kamu rajin membeli pupuk dan obat untuk merawat tanamanmu?"
"Aku beberapa hari karena sibuk dengan sekolah, jadinya aku lupa. Sudah! Sebaiknya tidak perlu membahas tentang hal itu karena aku pasti sedih jika mengingatnya."
Mereka sudah sampai dan gadis manis itu memberikan permen kesukaan Coral.
"Ini untukku?"
"Iya, itu permen yang selalu kamu sukai. Aku memberikan untukmu agar kamu tidak sedih lagi."
__ADS_1
Coral tersenyum dan sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih. Mereka masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Zio dan kak Hena.
Selama beberapa menit mereka berbincang, si gadis penjaga toko yang menjual bibir tanaman itu izin pulang dan Coral mengatakan jika dia akan pulang nanti saja dengan diantar Zio.
"Kak Hena, apa boleh aku pergi ke kamar dengan Coral?" tanya Zio.
"Tentu saja boleh, kalian berbincanglah dan aku akan mengurusi hal lainnya."
Zio mengajak Coral masuk ke dalam kamarnya. Zio duduk dengan membawa foto mending neneknya. "Rasanya nenek masih ada bersamaku, Coral.".
"Tentu saja nenek masih di sini dan melihat kita. Beliau akan senang jika kamu kuat dan tidak bersedih lagi."
"Iya, maaf jika aku terlalu seperti seorang wanita saja, tapi nenek adalah sumber kekuatanku selama ini."
"Bukan nenek, tapi kamu sendirilah menjadi sumber kekuatanmu. Kita berani atau takut itu karena kita sendiri yang buat."
"Dari mana kamu tau kata-kata seperti itu?"
__ADS_1
"Dari Rize." Coral seketika menutup mulutnya dengan cepat.