
Wanita jahat bernama Rose itu berjalan pergi dari kamar Coral. Coral kembali duduk lemas setelah mendengar apa yang ibu tirinya katakan. Dia tidak menyangka, jika ayahnya akan menikah dengan wanita jahat seperti iblis itu.
"Coral," suara panggilan yang sangat Coral kenali suaranya.
"Rize!" Coral seketika berdiri dan berlari dengan cepat memeluk kekasihnya itu. "Kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Apa kamu lupa siapa aku? Aku bahkan dari tadi tidak pergi dari rumahmu."
Coral menarik tubuhnya dari Rize. Jadi, kamu bisa mendengar apa yang aku dan ibu tiriku bicarakan?"
"Tentu saja aku bisa mendengarnya. Dia wanita bodoh bicara seenaknya seperti itu."
"Dia tidak hanya menginginkan aku pergi dari rumah agar dapat menguasai harta ayahku, tapi dia juga ingin agar kamu menjadi milik putri kesayangannya."
"Andai menghisap darah manusia bukan sebuah peraturan yang harus aku patuhi, pasti sekarang akan aku hisap darah ibu dan kedua anak kembarnya yang sangat jahat itu.
Coral kembali menelusupkan kedua tangannya pada tubuh Rize. "Jangan melakukan hal itu lagi, Rize. Aku tidak mau kamu mendapat hukuman dari kerajaanmu karena melanggar lagi apa yang seharusnya tidak kamu lakukan."
"Aku tidak akan melakukannya jika mereka tidak benar-benar melakukan hal yang sangat buruk seperti apa yang pria brengsek itu lakukan sama kamu. Aku rela mendapat hukuman jika sampai mereka melakukan hal yang sangat buruk sama kamu."
"Jangan, Rize. Aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Malam itu Rize menemani Coral di loteng sampai gadis itu tertidur dengan nyenyak dan Rize baru berani meninggalkan dia di sana.
Rize merasa lega karena dia mengetahui jika raja Pedrona sedang dalam tahap memulihkan dirinya dari serangan pemburu vampire generasi pertama. Sebenarnya ini juga ancaman bagi kaum Rize karena bagaimanapun, para pemburu vampire itu adalah musuh utama bagi kaum vampire, tapi mengingat apa yang dilakukan Paman Dom yang juga adalah sang pemburu vampire, tapi bisa berdampingan dengan kaum vampire di kastil kerajaan Rize, Rize merasa sedikit lega dan tidak takut jika bertemu dengan mereka.
"Rize, rumahmu aneh sekali," ujar Sky yang berkeliling melihat setiap sudut ruangan di rumah Rize.
"Aneh bagaimana? Ini rumah manusia pada umumnya."
"Ada lemari es, aku kira isinya syok darah, tapi ternyata malah daging dan ada ayam serta sayuran. Apa kamu sedang belajar memasak?" Sky terkekeh.
__ADS_1
Rize menarik sudut bibirnya. "Apa kamu mau aku buatkan sesuatu?"
"Ahahahh! Aku lupa kapan terakhir aku makan makanan manusia. Apa kamu sekarang belajar makan makanan yang dimakan oleh kekasihmu itu, Rize?"
"Dia sering datang ke sini dan aku suka membuatkan dia masakan yang aku buat dengan tanganku sendiri."
"Apa? kamu serius membuat makanan dari semua bahan itu?" Sky tampak terkejut, dia semakin tidak percaya saat Rize mengangguk kan kepalanya mengiyakan ucapan Sky. "Apa kamu baik-baik saja selama membuat makanan itu?"
"Tentu aku baik-baik saja, bahkan baunya sama sekali tidak mempengaruhiku sama sekali."
"Kenapa bisa begitu? Gadis itu hebat sekali bisa membuat seorang pangeran Rize mau melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan ratusan tahun."
"Apa kamu tau jika gadisku itu juga tidak masalah saat dia merasakan darah binatang yang sering aku minum."
"Apa? Dia itu masih manusia, kan Rize?"
"Tentu saja, tapi dia merasakan darah binatang itu seolah dia meminum segelas jus tomat."
"Aku memang akan menikahinya dan dia akan tinggal beberapa hari di sana."
"Manusia? Kamu akan menikahi manusia?"
"Iya. Manusia yang tidak sengaja di dalam tubuhnya terdapat bola mutiara hitam dan aku harus mengeluarkannya sebelum Raja Pedrona membunuhnya."
Sky mengerutkan dahinya. Rize tau jika saudara sepupunya ini bingung. Jadi, Rize menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia bisa bersama dengan anak manusia bernama Coral itu.
"Sekarang dia sangat mencintaiku. Begitupun aku juga jatuh cinta dengannya."
"Wah! Kamu mencari masalah ini namanya Rize. Kenapa tidak kamu bunuh saja dan keluarkan bola mutiara hitam itu? Dengan begitu, maka kamu tidak akan sampai menjalani hal serumit ini."
"Aku tidak akan bisa membunuhnya. Dia gadis yang banyak sekali mengalami penderitaan, dan aku ingin menghilangkan penderitaannya."
__ADS_1
"Dengan membunuhnya, kamu juga bisa menghilangkan penderitaannya, Rize."
Rize terdiam sejenak. Dia memang hampir saja membunuh Coral saat pertama kali mengetahui jika gadis bernama Coral itu telah menyatu dengan bola mutiara hitam itu, tapi saat melihat wajah teduh dan penderitaan yang Coral alami, Rize berubah pikiran.
"Aku tidak bisa membunuhnya, Sky."
"Aku mengerti, cinta itu memang hal yang sangat melekat dengan kuat jika kita sudah merasakannya. Aku juga menyukai Mara, tapi gadis itu seolah tidak memiliki perasaan itu. Tidak hanya denganku, tetapi dengan semua vampire pria sepertinya."
"Mara? Oh ya, bicara soal Mara, dia ada di sini denganku. Dia tinggal selama beberapa hari di sini untuk membantuku menjaga Coral dari anak buah raja Pedrona selama aku mengalami cidera setelah bertarung dengan Zartu.
"Kamu mau mengkhianati saudara sepupumu?"
Rize berdiri dari tempatnya dan menuangkan stok darah yang ada di lemari khususnya ke dalam dua gelas yang ada di depan Sky.
"Mara dan aku sama-sama tidak pernah memiliki perasaan apapun." Rize meneguk segelas darah di dalam gelasnya dengan cepat sampai habis.
"Jika kalian saling menyukai, pasti sejak lama Mara menjadi ratu di kerajaanmu."
"Kamu sudah tau hal itu. Eh, tapi di mana dia sekarang?" Rize mengedarkan pandanganya mencari di mana Mara berada.
Dia bertanya pada Paman Helius, tapi Paman Helius hanya mengatakan jika Mara sedang berburu vampire baru yang mungkin akan ada di sekitar kota di mana mereka sekarang tinggal.
"Dia memang seorang gadis yang tangguh dan membuatku terpesona."
Sky pergi mencari di mana Mara berada dan dia tidak akan membuang kesempatan ini untuk bisa dekat dengan gadis idamannya itu. Siapa tau jika dia membantu Mara membereskan para vampire baru itu dia akan bisa lebih dekat dengan gadis itu. Sky menjelajah seluruh tempat di sana mencari di mana Mara berada.
Di sebuah lorong perumahan yang kebetulan sangat sepi, tampak seorang wanita dengan baju seksinya bersama dengan seorang pria yang sepertinya sedang terpengaruh minuman.
Kedua orang itu tengah berciuman dengan mesra dan wanita itu tampak menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
"Aku menyukaimu pria tampan. Apa kamu mau menjadi sepertiku dan menjadi pasanganku untuk selamanya?"
__ADS_1
"Aku tidak mau terikat sebuah pernikahan karena aku sudah memiliki istri dan seorang anak. Kita bersenang-senang saja."