
Rize mengatakan jika kedua orang tuanya sangat baik dan sudah Rize ceritakan tentang hubungannya dengan Coral.
Coral tampak bahagia mendengar jika dirinya bisa diterima oleh kedua orang tua Rize.
"Rize, apa Paman Helius dan Mara itu juga seorang vampire?"
"Tentu saja, mereka berdua juga seorang vampire yang sama sepertiku."
"Rize, kenapa kamu beda dengan para vampire yang aku lihat saat para penjahat itu mau membawaku? Mereka menghisap darah manusia."
"Vampire juga ada beberapa golongan seperti manusia pada umumnya. Ada yang jahat dan baik. Mereka vampire baru yang baru saja diciptakan atau digigit oleh vampire dari dunia bawah atau gelap. Awalnya di tempatku juga seperti itu. Bayi vampire yang lahir akan haus akan darah, terutama manusia dan para orang tua harus bersiap-siap mengatasi hal itu dengan mengajarkan mereka minum darah bintang yang ada di hutan di mana kita pelihara."
"Oh, jadi seperti itu. Rize, setelah aku mengetahui siapa kamu sebenarnya, aku jadi penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Kenapa kamu mau menikahi manusia sepertiku? Kamu seorang pangeran dan pasti banyak kaum vampire yang cantik dan juga seorang putri raja menyukaimu serta ingin menjadi ratumu. Kenapa kamu malah memilihku?"
Rize melihat datar pada Coral, dia bingung mau menjelaskan bagaimana. Rize memang sudah jatuh cinta pada Coral, tapi dia tidak ingin Coral menjadi sepertinya.
Rize hanya ingin menikahi Coral dan mengeluarkan bola itu dari tubuh Coral setelah itu mungkin dia akan memutuskan pernikahannya dengan Coral atau jika di perbolehkan akan bersama dengan Coral, tapi Coral akan tetap menjadi manusia karena menjadi vampire bukan keputusan yang baik.
"A-aku mencintaimu, aku sendiri tidak tau kenapa aku bisa jatuh cinta pada manusia dan itu adalah kamu."
"Rize, apa kita akan bisa bersama selamanya?" Entah kenapa saat mendengarkan Rize mengatakan hal itu, Coral merasa jika dia akan kehilangan Rize. Apa lagi sekarang dia tau jika Rize bukan manusia.
"Tentu saja bisa. Kita akan hidup seperti pasangan menikah pada umumnya." Rize terpaksa berbohong, padahal mungkin hal itu akan sulit mereka jalani.
"Rize, apa nanti kalau kita sudah menikah, kita akan memiliki anak yang seperti kamu ceritakan?"
Apa? Anak? Tidak, Coral tidak akan memiliki anak karena Rize akan membuat hal itu tidak akan terjadi.
"Lebih baik kita menikmati saja kehidupan pernikahan kita dulu dan jangan memikirkan tentang memilik anak. Apa kamu setuju?"
Coral mengangguk. "Aku juga belum siap kalau memiliki seorang bayi, Rize." Coral tersenyum aneh sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu?"
"Tidak, hanya saja aku selama ini tidak pernah berpikir akan jatuh cinta dan memikirkan akan menikah dengan seseorang, bahkan sama memilik anak. Aku hanya berpikir bagaimana bisa lulus dan keluar dari sekolah yang mengerikan ini. Sekolah di mana aku sama sekali hanya mendapat siksaan dan tidak dihargai."
"Kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu."
Coral mengangguk dan sekali lagi memeluk Rize. Mereka tidak tau jika Leonil mendengar beberapa kata yang mereka bicarakan.
Leonil tadi hendak pergi ke perpustakaan, tapi terhenti saat melewati kelas Coral dan melihat Coral dengan Rize ada di dalam kelas berdua. Dia penasaran dan mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi hanya mendengar Kalimat yang tidak terangkai dengan tidak sempurna.
"Kenapa mereka dari tadi membahas tentang vampire dan masa depan? Apa benar Rize akan menikahi Coral?"
Leonil segera pergi dari sana saat melihat ada beberapa teman Coral yang sepertinya berjalan ke arah kelas Coral.
"Rize, apa kamu tidak capek mengawasiku tiap saat di loteng?"
"Sama sekali tidak, aku malah senang, apa lagi saat melihat kamu duduk di perapian dan bicara sendiri sembari menyisir rambut kamu yang masih basah setelah keluar dari kamar mandi."
Coral tampak malu sendiri, tapi beberapa detik selanjutnya wajahnya berubah terkejut dan melihat dengan mendelik pada Rize.
Wajah Rize sekarang yang berubah bingung bin aneh. "Em ... soal itu ...?" Rize langsung beranjak dari tempat duduknya dan hendak kabur kembali ke bangkunya.
"Rize!" seru Coral kesal.
Namun, saat Coral ingin mengejar Rize ke bangkunya, anak-anak lainnya masuk karena sudah mendengar bel masuk berbunyi.
Rize tersenyum kecil melihat pada Coral yang wajahnya ditekuk kesal.
Pelajaran kembali di mulai sampai akhirnya jam pulang pun terdengar.
Beberapa hari berlalu dan berjalan dengan sangat baik. Coral tampak menikmati kebersamaanya dengan Rize. Dia sering diajak keluar oleh Rize, dan ibu tirinya tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi Rize yang datang sendiri ke rumah dengan sopan meminta izin padanya.
Rize sering mengajak Coral melalukan hal yang luar biasa yang tidak akan bisa dilakukan manusia biasa, seperti pada saat ini. Dia mengajak Coral ke atas tebing yang tinggi hanya dengan melompat secepat kilat dan hampir seperti terbang. Rize melakukan hal itu karena ingin mengajak Coral melihat indahnya pemandangan yang ada di bawah tebing.
"Rize, aku takut." Coral berpegangan erat pada leher kekasihnya.
__ADS_1
"Jangan takut karena aku akan menjagamu."
Coral mulai menikmati indahnya pemandangan sungai dan beberapa bunga yang bermekaran di antara banyaknya rumput di Padang rumput yang sangat hijau dan luas.
"Indah sekali, Rize."
"Tentu saja. Apa kamu mau melakukan hal lainnya?"
"Apa?"
"Kamu bisa berenang 'kan?"
"Berenang? Aku tidak terlalu bisa berenang, Rize."
"Bagus kalau begitu."
"Bagus apanya?"
Belum selesai Coral bicara Rize sudah membuatnya spot jantung saja dengan terjun seenaknya membawa Coral turun dari atas tebing dan langsung masuk ke dalam sungai yang malam itu pasti dingin sekali.
Kepala Coral menyembul di atas air dan terlihat dia kedinginan sembari memeluk Rize dengan erat.
"Rize, aku takut tenggelam."
"Jangan takut, aku akan memegangimu. Bagaimana jika kita menyelam dan melihat indahnya bawah air sungai ini? Pasti kamu belum pernah melihatnya."
"Tapi airnya dingin sekali, Rize."
"Coba ubah pikiran kamu tentang air ini. Pikirkan keindahan yang akan kamu lihat di bawah sana. Apa kamu bisa?"
Coral mengangguk dan Rize membawanya menyelam melihat indahnya bawah air di sungai yang memang terkenal jernih dan memilki kehidupan bawah air yang indah.
Coral sangat menikmati hari ini. Mereka kembali menyembulkan kepala di atas air menikmati indahnya bulan yang malam ini berbentuk bulat sempurna dengan cahaya sinarnya yang juga terlihat sangat terang apa lagi dilihat dari posisi mereka di dalam air.
"Apa airnya masih terasa dingin?"
__ADS_1
"Tidak terasa dingin. Rize terima kasih sudah membawaku ke sini dan memperlihatkan betapa indahnya dunia ini, di mana aku sempat berpikir jika dunia ini sangat jahat."