My Vampire Prince

My Vampire Prince
Rencana Tinggal Bersama part 2


__ADS_3

Coral tidak jadi makan di luar karena dia ingin menghabiskan nasi goreng buatan Rize.


"Itu tidak enak, kalau nanti sakit perut bagaimana?"


"Tidak akan sakit perut. Kamu sudah membuatkan dengan susah payah dan aku harus berterima kasih dengan memakannya." Coral tampak melahap nasi goreng buatan Rize yang memang rasanya agak aneh.


Rize hanya bisa diam melihat kekasihnya makan dengan nikmatnya seperti dirinya saat mendapat darah dari hewan buruannya.


"Rize, ayo makan!"


"Aku tidak suka makanan seperti itu. Kamu habiskan saja, aku mau mengambil minumanku." Rize beranjak dan mengambil botol berisi cairan berwarna merah seperti yang dia lihat saat diundang Rize makan malam di restoran.


"Kamu sangat menyukai minuman yang kata Leonil seperti darah itu." Coral malah tertawa.


Rize tidak menjawab, dia hanya bisa tersenyum karena ucapan Leonil memang tidak salah.


"Rize, kamu kenapa tidak makan sedikit saja, nanti kalau kamu sakit bagaimana?"


"Aku tidak akan sakit, bahkan tidak akan bisa meninggal."


"Rize! Jangan bicara seperti itu." Coral langsung meletakkan sendok makannya karena mendengar ucapan Rize. Dia seolah teringat dengan kematian ibunya, dan apa yang terjadi setelah ibunya meninggal. Hidupnya penuh penderitaan.


Dia sekarang bisa merasakan sedikit kebahagiaan karena ada Rize di sampingnya. Bagaimana jika Rize sampai pergi juga seperti ibunya. Tidak! Coral tidak mau memikirkan hal itu, dia takut kehilangan pria yang telah membuatnya jatuh cinta.


"Aku benar-benar baik, Coral, kamu tidak perlu khawatir padaku."


Coral melihat pria yang berjalan menuju ke arahnya itu dan--


Blup!


Coral tiba-tiba memeluk Rize seolah takut jika pria itu akan pergi darinya. Rize yang mendapat pelukan dengan rasa yang berbeda itu tampak mematung di tempatnya.


"Selama ini aku kuat untuk ayahku, tapi sekarang aku kuat karena memiliki kamu, Rize. Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi karena aku benar-benar takut." Coral memeluk tubuh dingin itu.


Paman Helius yang melihat dari kejauhan tau jika Coral sudah jatuh cinta pada pangeran vampire bernama Rize. Pun dengan Rize sepertinya juga jatuh cinta pada gadis manusia itu.

__ADS_1


Beberapa menit mereka masih berpelukan seperti itu. Pelukan mereka terlepas saat Paman Helius masuk di antara adegan mesra Rize dan Coral.


Coral langsung melepaskan pelukannya pada Rize.


"Kamu tidak perlu malu, Coral. Aku tidak masalah melihat hal pertama kali seperti itu karena memang Rize tidak pernah dekat dengan seseorang. Baru kamu saja yang berani memeluknya seperti itu." Mata paman Helius melirik pada Rize.


"Aku juga tidak pernah dekat dengan siapapun Paman. Selama ini hanya Zio teman baikku yang selalu dekat denganku."


"Kamu tidak pernah ada perasaan apapun kepada Zio, kan?"


Coral menggeleng pelan. "Dia dan aku hanya bersahabat baik, dan itu karena kita sama-sama sering mendapat perlakuan buruk di sekolah."


"Dia seorang laki-laki, tapi kenapa dia sangat takut pada gadis nakal-nakal itu?"


"Dia bukannya takut, tapi dia tidak mau sampai bertengkar dengan seorang gadis, tapi sebenarnya dia juga takut pada Taza karena Taza memiliki saudara laki-laki yang terkenal arogan dan Zio pernah hampir masuk rumah sakit dipukuli oleh kakak Taza dan teman-temanya.


"Kenapa seolah tidak suka jika aku meremehkan, Zio?"


"Bukan tidak suka, tapi Zio memang temanku yang sangat baik dan hanya dia yang mau berteman denganku selama ini." Coral mengerucutkan bibirnya.


Di sekolah. Zio tampak kepikiran kenapa hari ini Coral tidak masuk sekolah, bahkan Rize juga tidak masuk sekolah?


"Apa mereka janjian? Tapi Coral itu bukan tipe murid yang suka membolos, tapi tidak tau juga kalau cinta bisa mengubah segalanya."


Zio duduk malas di kantin sekolahnya. Di sekolah terasa tidak enak jika Coral tidak masuk.


Dari kejauhan Luana dan Taza tampak sedang membahas sesuatu. Mereka melihat pada Zio dan akhirnya menghampiri Zio.


"Eh, bodoh! Ke mana teman bodoh dan culunmu itu?"


Zio melihat malas pada Luana dan Taza. "Tidak tau, aku itu bukan ibunya." Zio melihat melengos dari pandangan dua gadis yang tampak kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Zio.


Beberapa detik kemudian Zio tampak berlari ketakutan sampai keluar gerbang sekolah karena Taza mengadu pada sepupunya yang sekolah di sana juga, tapi beda kelas. Sepupu Taza memiliki Genk yang ditakuti di sekolah. Rufo berlari mengejar Zio karena sudah bersikap menyebalkan pada Taza.


Bruk!

__ADS_1


"Aduh! Sakit!" Zio memegang lengan tangannya yang menabrak sesuatu karena tidak melihat saat berlari.


"Kamu tidak apa-apa, Kan?"


"Tidak apa-apa bagaimana?" Zio tampak marah pada orang yang dia tabrak. Zio berdiri dan seketika kedua matanya terpaku melihat sosok yang ada di depannya.


"Aneh! Kamu yang menabrakku, tapi kamu yang marah." Gadis itu berjalan melewati Zio yang masih terdiam di tempatnya.


"Kena, kamu! Dasar makhluk menyebalkan! Beraninya kamu membuat saudaraku jengkel."


"Rufo, aku minta maaf, tapi aku tidak menjawab apa adanya."


"Jawaban kamu itu seolah tidak menghormatiku, jelek!" Taza menarik kra baju Zio.


Kedua teman Rufo memegangi tangan Zio. Rufo sudah tersenyum iblis. Dia yang hendak memukul Zio terhenti karena mendengar suara tepukan dari arah sampingannya.


Rufo dan lainnya melihat ke arah seorang gadis yang berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Gadis itu bertepuk tangan berkali-kali seolah dia ingin meremehkan apa yang akan dilakukan Rufo dan para cecunguknya.


"Dia cantik sekali, ya Luana?"


"Iya, tapi penampilannya agak aneh," Luana mencibir seenaknya.


Gadis itu mendekat ke arah para gerombolan anak sekolah itu. "Bangsa manusia memang kebanyakan adalah pengecut dan suka melemparkan kesalahan pada orang lain. Sungguh menjijikan," ucapnya sembari melihat mereka satu persatu.


"Kamu siapa dan jangan ikut campur dengan urusanku. Lebih baik kamu pergi atau kamu akan kami jadikan bahan tertawaan yang nantinya bisa membuat kamu ingin mati saja."


"Hah? Mati? Aku sudah pernah merasakan hal itu dan aku tidak takut."


"Kamu pergi saja, jangan ikut masalah ini," teriak Zio. Zio khawatir jika gadis yang baru saja ditabraknya itu nanti akan menjadi korban perundungan yang dilakukan Rufo dan teman-temannya seperti yang dia alami.


"Kenapa aku harus pergi? Aku sama sekali tidak takut dengan kalian semua, para manusia pengecut," ucap gadis itu menekankan.


Taza dan Luana kesal dikatakan pengecut oleh gadis yang entah dari mana datangnya. "Dia harus diberi pelajaran juga Rufo."


Luana mendekat pada gadis itu dan hendak menarik bajunya, tapi dengan cepat tangan Gadis itu mencengkeram leher Luana dengan kasar sehingga Luana mendelik kaget dan mencoba untuk bicara, tapi sulit sekali kata-kata itu keluar.

__ADS_1


"Hei! Lepaskan dia!" teriak Rufo marah.


__ADS_2