My Vampire Prince

My Vampire Prince
Rencana Tinggal Bersama part 1


__ADS_3

Coral malah tertawa mendengar kekasihnya yang memiliki wajah datar dan dingin itu mengumpat. Semakin terkesan saja itu wajah menyebalkannya.


"Kalau hanya membuat nasi goreng saja aku bisa dan tidak sulit. Kamu tidak pernah dibuatkan ibumu nasi goreng?"


"Tidak pernah. Di tempatku tidak ada makanan seperti ini."


"Lalu, makanan seperti apa yang ada di tempatmu?" Coral melihat serius pada Rize.


"Makannya tidak enak dan kamu pasti tidak akan suka." Rize tidak mau membahas tentang dirinya.


"Memang makanan seperti apa, Rize Menurutku semua makanan itu enak, tergantung selera saja kalau untukku. Apa lagi karena Ibu tiriku jarang memberiku makan yang aku makan hanya sisa dari mereka."


Rize yang mendengarnya tampak tertegun. "Kamu tenang saja Coral selama kamu menjadi kekasihku tidak akan ada lagi kesedihan, bahkan kamu tidak akan merasakan kelaparan."


"Terima kasih, Rize, aku sempat berpikir jika kamu adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku, walaupun kamu datangnya tiba-tiba dan membuat aku benar-benar tidak percaya apalagi kamu menyatakan jika ingin menjadi kekasihku."


"Memang aku ingin menjadi kekasihmu, bahkan setelah kamu lulus aku akan menikahimu dan membawamu tinggal di istanaku."


"Istana? Memangnya kamu pangeran yang tinggal di negeri dongeng?" seloroh Coral tertawa dengan senangnya.


"Rize, aku makan ya nasi gorengmu? Aku ingin mencoba nasi goreng seorang pangeran di negeri dongeng."


Coral menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya perlahan-lahan dia mengunyah nasi goreng itu, dia merasakan rasa masakan nasi goreng kali ini berbeda dari nasi goreng lainnya. Rize tampak menunggu komentar dari Coral. Coral sekali lagi menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya. "Bagaimana rasanya? Apa kamu menyukainya?"


"Rasanya aneh, Rize?"


"Hah? Aneh? Aneh bagaimana?"


Rize yang sebenarnya penasaran ingin mencoba, tapi dia lebih merasa sakit sendiri jika punya niatan ingin makan, makanan itu.


"Kamu coba saja sendiri bagaimana rasanya dan bandingkan dengan rasa nasi goreng yang pernah kamu rasakan selain ini."


Bandingkan? Bandingkan bagaimana? Rize saja tidak pernah makan yang namanya nasi goreng, yang dia tahu hanya darah binatang singa berbeda dengan darah rusa. Bagaimana dia bisa membedakan atau memberi komentar tentang rasa nasi goreng?


"Kalau kamu tidak suka, tidak usah dimakan kita cari saja makanan di luar untuk kamu." Rize beranjak dari tempatnya dan menggandeng tangan Coral.

__ADS_1


"Rize, tunggu! Apa aku keluar memakai baju seperti ini? Bajuku kotor dan aku tidak memiliki baju ganti. Aku juga belum mandi, Rize." Coral melihat pada bajunya.


"Kalau begitu kamu mandi dan pakai bajuku dulu. Sementara itu aku akan membelikan baju untuk kamu."


"Apa? Beli? Tidak perlu, Rize. Aku pulang saja dan bisa berganti baju di rumah."


"Tidak perlu pulang dulu karena keluargamu sudah tidak mengharapkan kehadiranmu, Coral."


Coral menangkap ucapan Rize yang membuat dia bingung. "Maksud kamu apa, Rize?"


"Mereka tidak menginginkan kamu pulang."


"Mereka kemarin khawatir padaku saat para penjahat itu membawaku. Bahkan Leonil sampai dipukul wajahnya."


Rize berjalan mendekat dan memegang kedua lengan Coral. "Mereka itu hany sedang berpura-pura baik sama kamu. Semua kejadian tentang para penjahat itu hanya salah satu rencana dari mereka. Apa kamu tidak paham akan hal itu, Coral?"


Seketika kedua bola mata Coral mendelik. Dia seolah tidak percaya pada ucapan Rize, mengingat keluarganya yang waktu itu sangat membelanya.


"Aku tidak menyalahkan kamu jika dirimu tidak percaya. Kamu terlalu lugu dan polos sehingga mudah untuk dibohongi."


"Tentu saja aku tau karena aku mendengar sendiri mereka berbicara dengan apa penjahat itu."


"Mendengar? Kapan kamu mendengarnya?"


Rize sekarang malah sebal dengan semua pertanyaan Coral. "Nanti aku akan buktikan sama kamu. Sekarang, kamu mandi dan berganti baju." Rize mengambil ponselnya dan menghubungi paman Helius yang sedang berada di luar.


Coral yang masih berdiri di tempatnya tampak mengerucutkan bibirnya. "Kenapa dia selalu seolah menghindar kalau aku bertanya hal yang serius?"


Coral masuk ke dalam kamar Rize untuk mandi dan berganti baju. Setelah mandi dia membuka lemari baju Rize dan di sana hanya ada sekitar lima buah baju dan semua berwarna hitam.


"Dia tidak punya baju, tapi mau membelikan aku baju." Coral mengambil kemeja Rize dan memakainya. Kemeja itu tampak kebesaran dipakai oleh Coral.


Pintu diketuk oleh seseorang. Coral berjalan membuka pintu kamar, dan dia melihat sosok Rize berdiri di depannya dengan membawa tas berukuran sedang.


"Ini baju untuk kamu, Coral."

__ADS_1


Coral mengambil tas itu dan mengucapkan terima kasih pada Rize. Pintu Coral tutup perlahan walaupun Rize masih berdiri di sana.


Di balik pintu yang sudah tertutup Coral tampak mengambil napasnya dalam karena entah kenapa dia seolah merasakan hal yang aneh saat pandangan Rize menatap dengannya dengan lekat.


"Dia benar-benar tampak tampan dan mempesona. Aku seolah seperti mimpi bisa menjadi kekasih Rize."


Rize yang masih berdiri di balik pintu kamar itu dapat mendengar apa yang Coral katakan.


"Aku berharap ayahku akan senang jika nanti aku perkenalkan dengan Rize. Aku ingin Rize bisa mengenal ayahku dengan baik."


Coral segera berpindah tempat untuk berganti baju. Beberapa menit kemudian dari keluar dari kamar dan agak kaget karena ada Rize di depan pintunya.


"Rize? Apa kamu dari tadi berdiri di depan pintu? Kamu tidak mengintip aku, kan?"


"Apa aku ada tampang pria yang suka berbuat kurang ajar?"


Rize menggandeng tangan Coral dan mengajaknya pergi ke tempat mobi Rize diparkir.


"Aku akan mengajak kamu makan dan setelah itu kita pulang ke rumah kamu untuk berkemas."


"A-apa? Berkemas?" Kedua mata Coral berkedip beberapa kali.


"Iya karena mulai hari ini kamu akan tinggal di rumahku, Coral."


"Hah? Rize, kamu jangan bercanda. Kenapa aku harus tinggal di rumah kamu? Berdua? kita belum menikah, Rize."


Rize terdiam sejenak. Bagaimana Rize menjelaskan pada Coral tentang bahaya yang pasti akan segera mendekat ke arahnya. Bahaya ini tidak saja mengenai keluarga Coral, tapi juga dari bangsa vampire yang kejam. Raja Pedrona pasti sedang memburu Coral.


"Rize, bahaya apanya? Ibu tiriku dan kedua saudara tiriku sudah biasa memperlakukan aku tidak baik dan aku tidak maras takut, apa lagi ada kamu sekarang."


"Coral, mereka itu sudah semakin menjadi sama kamu dan aku takutnya tidak bisa menjaga kamu setiap waktu kalau kita tinggal berjauhan."


Coral memegang tangan Rize yang rasanya sangat dingin itu. Coral bahkan menganggap Rize ini bukan manusia, tapi es batu karena sangat dingin jika menyentuhnya.


"Aku baik-baik saja dan aku tidak bisa meninggalkan rumah karena kasihan dengan ayahku kalau nanti datang. Ayahku bisa membenci kamu nantinya jika tiba-tiba kamu mengajak aku tinggal di rumahmu."

__ADS_1


__ADS_2