My Vampire Prince

My Vampire Prince
Mengetahui Kebenaran Part 3


__ADS_3

Rize tercengang mendengar jika Coral berjalan dari jam tiga pagi dari rumahnya sampai ke rumah Rize dengan memakai seragam sekolah.


"Kamu kenapa melakukan hal itu? Kenapa tidak menghubungiku dan menyuruhku menjemputmu?"


Coral melihat pada gelas minuman Rize. Coral tau sekarang, itu minuman apa, tapi anehnya Coral sama sekali tidak merasakan mual atau muntah.


"Aku ingin berjalan dan memikirkan tentang keputusan apa yang akan aku ambil."


Rize melihat heran pada Coral. Keputusan apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu?


"Coral, apa kamu di rumah disiksa lagi oleh keluargamu? Aku akan menemui mereka." Rize beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu yang menyiksaku, Rize," ucap Coral dengan bibir bergetar.


Rize menghentikan langkahnya dan melihat pada Coral yang masih duduk terdiam di tempatnya.


"Aku? Aku menyiksamu? Apa maksudmu?" Rize memandang serius pada Coral yang membelakanginya.


Paman Helius yang tiba-tiba datang dengan membawa sepiring nasi goreng dan telur ceplok membuat dua orang itu langsung tampak bersikap tidak canggung lagi.


"Maaf, apa Paman mengganggu kalian?"


"Tidak. Paman, letakkan makanannya di sana, dan Coral, sebaiknya kamu makan dulu, setelah itu kita akan segera berangkat sekolah atau kamu tidak ingin masuk sekolah dulu?"


"Aku mau pergi sekolah dan secepatnya lulus." Coral yang memang sangat lapar karena berjalan tadi menghabiskan nasi goreng hingga separuh piring.


"Apa enak, Nona?"


"Enak, Paman, terima kasih. Rize, kamu tidak makan?"


"Aku tidak suka makanan seperti itu. Lagi pula aku cukup minum ini saja."


"Kamu memang tidak pernah makan, Rize," ucap Coral lirih.


"Coral, katakan padaku, apa maksud pembicaraanmu tadi yang mengatakan jika aku yang menyiksamu?"


Coral menatap Rize dengan lelehan air mata jatuh pada pipinya. "Kenapa kamu jahat padaku, Rize? Kenapa kamu membohongiku selama ini?"


"Bohong tentang apa?"


"Jangan menyangkal lagi, Pangeran Autum Rize. Kamu tidak makan, makanan manusia dan kamu tidak tidur, di depanmu itu adalah darah, kan? Aku sudah tau semua Rize. Aku sudah tau." Tangisan Coral terdengar lebih keras sekarang.

__ADS_1


Rize hanya terdiam di tempatnya membiarkan kekasihnya itu menangis sepuasnya.


"Nona Coral, apa yang Anda pikirkan tentang Tuan Muda Rize?"


"Biarkan dia, Paman. Biar dia puas dulu menangis agar dia merasa lega."


"Kenapa kamu harus berbohong dan menyembunyikan hal sebesar ini padaku, Rize?"


"Memangnya apa yang aku sembunyikan darimu?" Coral menghapus air matanya dan menatap nanar pada Rize. "Apa kamu sekarang sudah mengetahui jika aku adalah seorang vampire?"


"Nona Coral, Tuan Muda Rize bukan seorang vampire. Jika dia seorang vampire, dia pasti akan menggigitmu," sela Paman Helius.


"Dia tidak menggigitku karena dia mencintaiku, Paman. Atau dia memiliki maksud lain padaku." Coral menatap Rize dengan datar.


"Tapi--." Paman Helius tampak bingung dia ingin tetap menyangkal ucapan Coral.


"Kenapa kamu tidak takut padaku seperti waktu awal itu dan malah datang ke sini?" Rize memotong ucapan Paman Helius.


"Karena aku mencintaimu dan percaya padamu." Coral mengeluarkan memory card dan menunjukkan pada Rize.


"Apa itu?"


"Apa?"


"Aku ingin kamu menghancurkannya karena di sini juga ada bukti tentang siapa kamu, Rize."


"Kamu ingin aku menghancurkannya? Kenapa? Apa kamu tidak takut padaku? Aku sudah memusnahkan pria itu, Coral," ucap Rize santai.


Coral menggeleng pelan. "Aku bukan manusia yang tidak tau balas budi. Dre pria yang memiliki hati yang busuk dan bagiku dia memang pantas untuk dimusnahkan agar tidak ada wanita yang masa depannya hancur karena perbuatannya itu." Coral tampak terlihat marah mengingat perbuatan Dre yang akan dilakukan padanya. Rize memperlihatkan senyum miringnya mendengar apa yang diucapkan oleh Coral.


***


Mobil Rize berhenti di depan gedung sekolah. Rize turun dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Rize menggandeng tangan Coral dan mereka berjalan dengan wajah sumringah terlihat di wajah Coral.


Rize sudah menceritakan semua tentang dirinya dan ada hal yang membuat Coral benar-benar tidak takut pada Rize karena Rize mengatakan jika dirinya tidak minum darah manusia, dia hanya menghisap darah binatang yang dia buru. Kejadian dengan Dre adalah pengecualian karena waktu itu dia benar-benar marah melihat perbuatan Dre.


"Kenapa mereka terlihat seperti dekat kembali? Bukannya mereka sudah putus?" Luana tampak kesal melihat Coral tampak bahagia dengan tangan yang digandeng oleh Rize.


"Kata siapa mereka putus? Rize 'kan hanya tidak masuk sekolah dalam beberapa hari. Dia itu tidak meninggalkan Coral. Kalau dilihat seperti itu kenapa aku merasa mereka pasangan yang cocok."


"Bicara apa sih kamu, Taza?" Luana yang marah mendorong tubuh Taza, dan dia pergi dari sana.

__ADS_1


Jam pelajaran di mulai, tapi Coral tidak melihat ada Zio di sana. "Dia belum masuk sekolah. Mungkin dia masih memerlukan waktu untuk kembali ke sekolah."


Kegiatan sekolah berjalan dengan baik hari ini sampai bel istirahat pun berbunyi. Coral memilih tidak beristirahat karena dia ingin membaca saja di dalam kelas. Rize duduk di sebelahnya menemaninya juga, tapi dia tidak perlu belajar karena Rize sebenarnya sudah tamat sekolahnya dulu, hanya saja dia memang makhluk abadi. Jadinya dia tetap terlihat masih muda.


"Coral, apa kamu tau tentang hantu penolongmu?"


"Hah? Hantu penolong?" Coral melihat heran pada Rize. Kenapa Rize tau tentang hantu penolong?


"Dia itu aku. Aku selama ini selalu mengawasimu di rumah dan di manapun kamu berada."


"Kamu serius?"


Rize mengangguk perlahan. "Aku mengetahui semua yang kamu lakukan di rumah, aku juga mengetahui bagaimana perilaku ibu dan kedua saudara tirimu selama ini."


"Jadi, kamu adalah hantu penolongku yang selalu menjagaku selama ini?" Coral melihat dengan ada butiran air mata yang hampir menetes.


Tangan Rize mengusap perlahan air mata Coral yang akhirnya tidak dapat dibendung lagi.


"Kamu tidak perlu menangis. Sekarang tidak akan aku biarkan kamu mendapat penyiksaan lagi dari keluargamu."


Coral dengan cepat memeluk tubuh kekasihnya itu. "Terima kasih selama ini sudah menjagaku."


"Jangan memelukku begini, Coral."


"Kenapa? Kamu malu?" Coral malah memeluk erat kekasihnya.


"Bukan malu, hanya saja aku takut nanti lepas kendali dan --." Rize terdiam sejenak.


"Dan apa?"


"Aku menciummu. Tanpa aku lepaskan."


Coral seketika melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Rize.


"Memangnya seorang vampire memiliki keinginan seperti manusia pada umumnya, Ya?" Coral memelankan suaranya.


"Tentu saja. Kami di sana juga memiliki keturunan seperti manusia pada umumnya. Suatu saat aku akan mengajakmu pergi ke kastilku dan akan aku perkenalkan dengan ayah dan ibuku."


Coral seketika mendelik mendengar apa yang Rize katakan.


"Bertemu kedua orang tuamu? Aku belum siap, Rize."

__ADS_1


__ADS_2