
Rize berjalan semakin mendekat, dan saat dia ingin menusukkan pisau itu pada Coral. Kedua mata Rize menatap pada air mata Coral yang membasahi sebuah foto yang ada pada kalung Coral.
"Mama, Coral ingin menemui mama. Coral tidak ingin hidup lagi."
"Mamanya? Apa gadis ini juga kehilangan mamanya? Sebenarnya, bagaimana kehidupan gadis ini?" Rize sebenarnya juga tidak tega jika harus membunuh Coral.
Pria itu menggendong Coral dan membawanya ke atas tempat tidur. Sekali lagi Rize terpana saat melihat wajah Coral saat tidur. Entah apa yang membuatnya sampai dia mencium lagi bibir Coral kemudian dia pergi dari sana.
Coral tampak tersenyum setelah mendapat ciuman dari Rize. Dia mungkin bermimpi sesuatu.
Rize kembali menemui paman Helius dan mengatakan jika dia ingin cara lain agar bola mutiara hitam itu dapat keluar dari tubuh Coral.
Pria paruh baya itu sedang membuka buku yang dia bawa. "Sudah paman bilang kalau kamu tidak akan tega membunuhnya karena gadis itu sedikit banyaknya sudah menyatu denganmu. Buktinya hanya dia yang bisa mendengarkan apa yang sedang kamu pikirkan," ucapnya santai sembari membuka beberapa lembar halaman buku di tangannya.
Rize berjalan mendekat dan dia tampak bingung. "Apa karena ciumanku waktu itu? Dia sekarang jadi bisa mendengar isi hatiku."
"Sepertinya karena itu pangeran."
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Paman? Bola itu harus segera aku dapatkan sebelum raja Pedrona yang nanti akan mendapatkannya."
Wajah Paman Helius tampak sedang membaca bukunya serius. "Kamu bisa mendapatkannya asal kamu dan gadis itu--." Tatapan mata tua itu mengarah serius pada Rize.
"Apa, Paman?" tanya Rize penasaran.
"Jadikan dia pengantinmu."
"Apa? Apa maksud Paman dengan menjadikan dia pengantinku?"
"Kamu menikah dengannya dan kalian lakukan hal selayaknya seorang pasangan yang menikah karena dengan hal itu maka, bola itu akan dapat keluar dari tubuh gadis itu dan menyatu denganmu. Kamu sendiri akan memilik kemampuan untuk mengeluarkannya."
"Menikah dengannya? Tapi dia manusia dan aku bukan. Apa kita akan bisa bersatu? Lagi pula aku juga tidak memiliki perasaan apapun dengannya, Paman. Aku tidak bisa menikah dengannya. Paman, cari cara lainnya."
__ADS_1
"Hm ...!" Paman Helius hanya bisa menghela napasnya panjang. "Paman harus mencari tau lagi cara yang lain agar bola itu dikeluarkan dari tubuh gadis itu. Benar-benar hal yang rumit." Pria itu berjalan pergi dari sana.
Rize tampak memikirkan lagi kata-kata pria itu. "Menjadikan dia pengantinku?"
Rize berjalan pergi dari sana. Dia menuju ke kamar kedua orang tuanya. Rize melihat wanita dengan rambut curly panjangnya, tapi kali ini tidak ada mahkota di atas kepalanya. Wanita itu duduk sembari memegang erat telapak tangan suaminya yang masih terbaring dengan kedua mata tertutup.
"Mama, bagaimana keadaan ayah?"
"Dia tadi sempat terbangun, tapi paman memberikan dia obat dan darah agar keadaanya lebih stabil lagi."
"Ma, apa boleh aku meminta baju milikmu yang sudah tidak terpakai?"
Wanita itu melihat heran pada putranya. "Apa ini untuk seorang gadis?"
"Iya."
"Siapa? Tsamara?"
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan dia berjalan menuju lemari bajunya. Dia mengambil salah satu baju lama miliknya yang agak kecil karena memang mama Rize memiliki tubuh tinggi dan agak besar.
"Semoga ini cocok untuknya." Wanita itu memberikan baju dress panjang berwarna putih dengan dengan bagian bawah berbentuk payung ada gambar bunga mawar menyebar di seluruh bagian roknya.
"Terima kasih."
"Dia pasti cantik memakainya." Senyum manis itupun terlukis dari bibir wanita yang sudah menciptakan Rize.
Rize segera pergi dari sana dan mama Rize tidak mau bertanya lebih banyak lagi tentang gadis yang dimaksud Rize karena dia tau sifat putranya.
Rize kembali dengan cepat ke dalam penginapan Coral. Dia melihat Coral yang masih tertidur di atas tempat tidurnya.
"Entah kenapa aku merasa ingin mengenal kamu lebih dari hari ini?"
__ADS_1
Rize semalaman berada di sana memandangi wajah Coral yang tengah tertidur.
"Siapa di sana?" Coral tiba-tiba terbangun karena dia seolah mendengar seseorang sedang membicarakan tentang dirinya.
Namun, dia tidak mendapati siapapun di dalam kamarnya. Dia tidak melihat ada siapapun di sana. "Tidak ada siapa-siapa? Tapi kenapa aku seolah mendengar seseorang berbicara tentangku?"
Rize sigap sekali. Dia langsung pergi dari sana saat mengetahui jika Coral tiba-tiba terbangun. Rize berada di atas atap penginapan di mana Coral menginap.
Coral yang harus mencari air minum di lemari dekat meja kacanya. Sebenarnya di penginapan itu Coral tidur satu kamar dua orang, tapi karena tidak ada yang mau satu kamar dengan gadis itu, maka Coral hanya tidur di sana sendirian.
"Ini baju siapa? Kainnya bagus sekali!" Kedua bola matanya membesar melihat baju di depannya.
Coral sekali lagi melihat sekitar tempat itu dan memang tidak ada siapa pun. Dia juga memeriksa pintu kamarnya dan dia sudah menguncinya, tadi.
"Apa ini turun dari langit? Kenapa sejak bertemu pria es itu aku merasa banyak keanehan dalam hidupku, tapi juga suatu yang membahagiakan."
Coral kemudian melihat jam di dindingnya dan ternyata memang sudah pagi. Dia harus segera bersiap-siap agar tidak tertinggal rombongan karena hari ini mereka akan pulang ke kota di mana dia tinggal dan bersekolah.
Setelah mandi Coral segera menuju baju yang tadi dia letakkan di atas tempat tidur. Dia akan memakai baju itu saja karena tidak ada baju miliknya yang bisa dia pakai.
Coral melepas handuk mandinya, tapi tidak lama dia langsung memakainya lagi karena dia mendengar suara seperti orang menelan saliva dengan sulit. "Siapa di sini?" Mata Coral kembali mengedar ke seluruh ruangan mencari suara siapa yang dia dengar, tapi lagi-lagi tidak ada. Coral tampak bingung dengan yang dia dengar.
"Lebih baik aku memakai penutup telinga saja agar tidak mendengar sesuatu lagi." Coral mengambil kapas dan menutup kedua telinganya dengan kapas. Benar saja sekarang dia tidak mendengar apapun.
Coral kembali melepaskan handuk mandinya dan berganti dengan baju yang Rize siapkan di sana.
Gadis itu tampak melihat ke arah cermin dengan baju yang dia pakai. Dia tidak tau jika ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikannya bahkan melihat semuanya.
"Ada apa ini?" Rize mencengkeram tepi dinding yang dia gunakan untuk menyandarkan punggungnya karena dia merasakan sesuatu yang begitu bergejolak dalam tubuhnya setelah melihat pemandangan indah barusan.
"Gadis itu. Kenapa dia juga bahkan bisa mendengar suara yang sangat pelan dari gerakanku?"
__ADS_1
"Bajunya kepanjangan. Aku pasti akan mendapat hinaan lagi kalau seperti ini," ucap Coral sedih.