Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
telepon sekolah


__ADS_3

Melihatnya senang, sudah membuatku ikut senang dan juga bahagia.


.


.


.


.


Menjalankan motor menuju keluar dari parkiran apartemen, di kala langit sudah menjadi gelap. Beruntungnya dia memiliki motor baru yang bisa buat dirinya tidak lagi menunggu angkot untuk kemana-mana.


Mengingat kembali saat dirinya makan dengan enak dan lezat, sedangkan yang di rumah sudah pasti makan dengan lauk di pagi hari, mungkin lauk yang sudah pastinya itu-itu saja tidak ada yang spesial kala ke dua orang tuanya sudah tiada.


Melihat depot makan bertulisan nasi padang membuat dirinya segera menepi dan memakirkan motornya tepat di depan depot yang tidak terlalu ramai akan pembeli.


" Pak, nasi padang dua ya.?" pinta Mawar.


" Ikannya apa mba." tanya penjualnya


" Ayam goreng saja pak, bumbunya pisah ya pak." jawabnya, dan melihat bagaimana seorang pria dengan cekatan membungkus dua nasi padang.


" Berapa pak.?" tanya Mawar


" Empat puluh mba." jawabnya dan menerima selembar uang biru dari tangan Mawar, mengembalikan kembaliannya dengan ucapan terima kasih.


Menaiki kembali motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Memasuki gang jalannl rumahnya yang tidak terlalu lebar hanya bisa di lalui dua motor bersalipan.


Rumah yang sederhana bercat putih pudar, terdapat pohon mangga, beberapa pot bunga mekar yang terawat serta tempat duduk dari bambu yang lebar di depan teras.


Pintu rumah yang terbuka dengan Angga yang sedang menonton tv bersama Nenek yang duduk di atas kursi kayu.


" Asalamuaikum.?" salam Mawar, dengan dirinya yang duduk kursi bambu melepas sepatu sebelum dirinya masuk.


" Walaikum salam.?" jawab kompak dari dalam rumah, memasuki rumah dengan Angga dan Nenek menatapnya dengan mengerutkan kening.


" Mbak Mawar naik motor?" tanya Angga.


" Motor, teman mbak.!" jawabnya yang mulai berbohong lagi." Ini?" menyerahkan kantong plastik putih berisi dua bungkus makanan ke hadapan Angga.


" Apa ini mbak." tanya Angga dan menerima kantong plastik serta membukanya.


" Wihh! nasi padang nich!!" seru Angga dengan senang, berdiri dari duduknya yang berlesehan di bawah berjalan menuju dapur untuk mengambil piring, sendok, serta minuman.

__ADS_1


" Dari mana Ar?" tanya Nenek.


" Dari rumah Lisa Nek.?" jawabnya, " Mawar ganti baju dulu Nek." Berjalan menuju kamar sebelum Mengangguk untuk memberi jawaban.


Melepaskan tas yang ada di punggungnya, melepaskan jaket, mengambil handuk yang tersampir di balik pintu dan berjalan keluar menuju kamar mandi.


Melepaskan baju, melihat baju yang ada di tangannya mengingat kembali jika baju yang dia pakai punya Kevin dan lupa, ia belum meminta ijin saat memakainya.


tak mau ambil pusing hanya karena baju to besok ia juga kembalikan tapi terlebih dulu ia akan mencucinya.


selepas mandi dan berganti baju, niat ingin merebahkan tubuhnya pun terurungkan saat mendengar teriakan adiknya dari luar yang memanggilnya.


" Mbak! ayo makan, Angga sudah nunggu dari tadi ini!" gerutunya dengan wajah masam.


" Lho kenapa nunggu mbak Ga.?" jawabnya dan berjalan membuka pintu kamar.


" Di suruh Nenek untuk makan bersama, ayo mbak." ajak Angga, berjalan terlebih dulu meninggalkan Mawar menuju ruang tamu yang ingin makan lesehan sambil nonton tv.


Duduk di sebelah Angga dengan tiga piring yang sudah tersaji nasi, serta piring lain yang menyajikan masakan padang serta lauknya.


" Jangan nunggu aku Nek! Mawar sudah makan tadi di rumah Lisa." ucapnya


" Mbak sudah makan?" tanya ulang Angga.


" Sudah? cepat sana makan." perintah Mawar.


Tidak mau menyia-nyiakan makanan yang ada di depan mata, Angga pun mulai makan dengan lahap dan mengambil ayam goreng serta sayur padang yang menggiurkan sedari tadi. Memperhatikan Angga makan dengan lahap membuatnya senang serta merasa sedih jika mengingat mereka sudah lama tidak makan enak seperti malam ini.


Sungguh miris keadaan Mawar dan Angga setelah di tinggal ayah dan ibunya, mereka mulai berkerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta harus hemat.


Kadang pula adik kakak ini jarang sekali jajan di sekolah maupun di luar, tapi beruntungnya teman sebangku mereka mengerti dengan keadaannya dan mereka selalu membelikan makanan di jam istirahat, walaupun sebenarnya Angga dan Mawar merasa tak enak hati bila terus-terusan di traktir temannya. Tapi karena teman mereka salalu memaksa, mau tidak mau adik kakak ini selalu menerimanya.


" Mau nambah lagi.?" tanya Mawar, melihat nasi yang ada di piring adiknya habis dan masih menyisakan sayur dan ayamnya setengah. " Ini makan nasi mbak." imbuhnya, mengambil piring kotor adiknya dan memberikan nasi yang ada di hadapannya.


" Makasih Mbak tau aja kalau aku masih laper.?"


" Tau lah, orang perut kamu kayak karet mana bisa kenyang kalau nasinya sedikit." cibir Mawar dengan tertawa.


" Kok makannya dikit Nek?" tanya Mawar, sambil mengerutkan keningnya.


" Nenek tadi sudah makan?" jawab Nenek dan di anggukkan oleh Mawar.


Senang rasanya melihat nenek dan Angga makan. Apa lagi mereka jarang sekali makan seperti ayam dan daging. Jika tidak ada pemberian dari tetangga yang mempunyai hajatan.

__ADS_1


Tapi kali ini dia bisa membeli makan enak dari hasil keringat sendiri, memberikanya pada adik dan neneknya membuat dirinya lebih semangat lagi untuk bangkit dan mencoba membuka usaha kecil-kecilan agar ia bisa melihat ke dua orang yang dia sayangi bahagia.


Lancarkan segala urusan ku ya Allah. Amin." gumamnya dalam hati.


****


Pagi di sambut dengan wajah yang segar dengan dirinya yang sudah rapi. Bejalan menuju dapur mengambil dua lembar roti dan selai kacang untuk di oleskannya.


Mengambil susu dingin di dalam kulkas dan melihat kotak makan yang semalam gadis ingusan taruh di dalam sana membuat dirinya segera mengambilnya.


Memanaskan isi kotak makan di dalam oven, berjalan ke arah pantry dengan dirinya yang mulai makan roti dengan segelas susu dingin sebelum ia berangkat ke kantor.


Bunyi ting dari dalam oven segera ia ambil dan memindahkannya di atas piring putih, menaruhnya di meja makan dan menutupnya dengan tudung saji.


Entah kenapa dirinya seperti ini, mau memanaskan makanan yang bukan buat dirinya. Tapi yang pasti dia senang bila nanti gadis itu kembali ke apartemennya.


Mengendarai mobil sendiri membelah kemacetan pagi menuju kantor. Senyum merekah dari beberapa karyawan wanita yang menyapanya di pagi hari saat dirinya sudah memasuki lobby kantor.


Mood pagi ini membuatnya ikut membalas senyuman para karyawan wanita, membuat semua pada wanita terpesona dengannya. Bukannya setiap hari para karyawan wanita memang mengidolakannya, walaupun tidak ada satu dari mereka yang belum pernah di ajak kencan oleh Kevin.


Menuju ruang kerjanya di sambut dengan asistennya yang sudah lebih dulu ada di kantor, menyiapkan semua jadwal kerja untuknya hari ini. Memeriksa satu persatu dokumen sebelum memimpin rapat.


Rapat yang menghabiskan waktu dua jam dengan presentasi dari karyawannya dengan sedikit tidak puas dan menyuruhnya untuk memperbaiki semuanya, dan tidak ada kata marah-marah saat moodnya senag membuat semua karyawan sedikit heran dan bersyukur jika bosnya tidak marah hanya kesalahan kecil.


Kembali ke dalam ruang kerjanya dan sedang memeriksa dokumen kembali sebelum ia mendengar suara ponselnya yang berbunyi.


Mengerutkan kening melihat panggilan nomer seperti kantor yang tidak ada namanya, hingga ia mulai mengangkatnya.


" Hallo?"


" Selamat pagi apa benar ini dengan bapak Kevin." tanya dari sebrang sana


" Iya benar saya sendiri.?" jawabnya.


" Saya guru dari siswi Hanum Mawar Sari bisakah bapak datang ke sekolah karena putri bapak telah membuat keributan dan sekarang berada di ruang kepala sekolah." ucapnya, membuat Kevin mengerutkan kening saat mendengar ucapan dari sebrang sana yang mengira dirinya sudah mempunyai anak.


" Maaf, anda salah sam-." dan sejurus kemudian dirinya teringat nama Mawar.


" Alamat selolahnya di mana?"


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃


__ADS_2