
Kita berbeda, kau dan aku tak akan mungkin bersama.
.
.
.
.
" Jam segini dia belum pulang." Gumamnya, memandang jam dinding menunjuk angka sembilan malam.
Bukan jenuh untuk menunggunya pulang ataupun jenuh hanya berdiam diri di rumah. Tapi ada rasa sedikit khawatir, kala dia pernah pulang malam dengan keadaan mabuk waktu lalu dan beruntungnya Kevin tidak berbuat macam-macam padanya.
Entahlah kenapa dia bisa mabuk, atau memang dia suka mabuk di saat pulang kerja atau jika dia ada masalah saja.
Menggelengkan kepala, mengusir rasa khawatir padanya dan mulai menggerutu sendiri saat jarum jam sudah berjalan dengan cepat. Tidak seharusnya dirinya khawatir padanya, karena dirinya hanya seorang kekasih bayaran.
ia pun mulai berdiri dari duduknya, mengambil tas dan mengenakan jaket bersiap untuk pulang dan tidak ingin menunggu Kevin.
Membuka pintu dan terkejut mendapati Kevin yang berdiri di sana dengan wajah yang sangat letih.
" Kamu belum pulang?" Tanya Kevin, yang juga sedikit terkejut melihat Mawar membuka pintu saat dirinya akan masuk ke dalam rumah.
" Aku ketiduran, habis ngerjain tugas." Bohong Mawar, sebenarnya memang mengerjakan tugas tapi dirinya tidak ketiduran. ia terpaksa berbohong dan gengsi jika mengatakan jujur bila dirinya khawatir padanya.
" Kamu baru pulang, kenapa malam sekali." Tanya Mawar.
" Hmm, aku meting dengan klaen." Jawab Kevin, masuk ke dalam rumah di ikuti Mawar dari belakang yang berbalik tak jadi pulang saat melihat Kevin sangat kelelahan.
Mungkin dirinya akan sedikit membantu Kevin terlebih dulu sebelum dirinya pulang.
" Makasih?" Ucap Kevin, menerima segelas air dari tangan Mawar dan meneguknya dengan habis.
Melepas jas, dasi dan membuka dua kancing kemaja, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
" Mau aku siapin air hangat untuk mu mandi." Tawar Mawar.
" Tidak, terima kasih." Lirih Kevin. " Kamu memasak." Tanyanya.
" Iya, kamu mau makan. Biar aku siapkan."
" Hmm, iya boleh. Tolong buatkan aku jeruk hangat." Kata Kevin dan di anggukkan Mawar.
__ADS_1
Saat dirinya merasa lelah, dirinya menyadari jika ia membutuhkan pendamping seperti ini. Berada di rumahnya, menyiapkan segala kebutuhannya dan menemaninya dalam kesendirian.
Tersenyum melihat Mawar yang menyiapkan makan malamnya, sebenarnya dirinya sudah makan malam bersama klaen tapi karena melihat Mawar yang sudah menyiapkan makanan dirinya pun tak tega untuk menolaknya. Entah kenapa?
Memutuskan untuk mandi terlebih dulu, dan mulai bergabung di meja makan saat Mawar sudah menyiapkannya untuknya.
" Aku pulang ya, sudah malam takut nenek nyariin." Pamit Mawar.
" Temanin aku makan dulu." Pinta Kevin, seakan dirinya tak rela jika Mawar pulang.
" Haiss, baiklah." Jawab Mawar, menemani Kevin yang sedang makan malam dengan lahap dan membuatnya senang karena Kevin menyukai masakannya.
" Kapan ujian.?" Tanya Kevin.
" Minggu depan." Sambil membereskan piring kotor di atas meja.
" Ayo aku antar pulang." Ajak Kevin, yang sudah melihat Mawar selesai membersihkan dapur dan meja.
" Eh! Enggak usah, aku bisa pulang sendiri." Tolak halus Mawar. " Selamat istirahat." Ujarnya lagi tanpa mempedulikan Kevin yang menatapnya tajam seperti tak terima akan penolakan.
Bukan Kevin namanya jika dirinya tidak bisa bertindak, ia pun mulai mengambil jaket dan kunci montor mengikuti Mawar dari belakang hingga mengantarnya sampai rumah.
Mawar tau jika Kevin mengikutinya dari belakang, dirinya melihat dari spion motor. Tidak menghiraukannya hingga dirinya sampai di depan rumah.
" Terima kasih sudah di antar, jangan masuk rumah sudah malam, sebaiknya langsung pulang saja." Tulis pesan Mawar, membuat orang yang ads di depan rumahnya tersenyum-senyum saat menerima pesan darinya.
" Selamat malam, semoga mimpi indah." Balas pesan Kevin, Membuat Mawar membulatkan mata melihat isi pesannya dan berbalik ke belakang menatap Kevin yang tersenyum manis melihatnya.
" Apa dia gak salah kirim." Gumam Mawar, kembali merasakan detak jantung yang tidak aman.
Ingin membalas, tapi dirinya merasa malu dan mungkin saja itu bukan untuknya. hingga dirinya memilih untuk mengabaikannya walaupun sebenarnya ia merasa salting sendiri.
****
" Kamu sudah menemukan stand untuk kita jualan." Tanya Mawar pada lisa, di jam istirahat sekolah.
" Ada beberapa yang stategis, nanti kita lihat yuk." Kata Lisa.
" Hmm, ayok." Semangat Mawar, tidak sabar untuk mereka memulai usaha baru walaupun modal yang gak seberapa, mereka akan tetap mencobanya agar mereka bisa mengubah nasib jadi lebih beruntung lagi.
Jam istirahat mereka memilih untuk ke perpustakaan, mencari buku untuk meluangkan waktu membaca buku atau mengerjakan tugas sekolah.
Murid kelas dua belas sudah mulai banyak ujian dan tugas dari guru, banyak yang menyibukkan diri untuk belajar dan mendapatkan nilai baik.
__ADS_1
" Sendiri?" Tanya siswa yang baru datang dan memilih duduk di depan Mawar.
" Fahmi." Lirih Mawar, sedikit terkejut akan kehadiran Fahmi yang sudah lama mereka tidak bertegur sapa saat mereka memilih untuk sama-sama menghindar demi kebaikan atau demi hati yang harus di jaga.
Melihat Mawar di perpustakaan duduk sendiri di pojok, sudah lama dirinya tidak bertegur sapa ataupun mengobrol dengannya. memutuskan untuk menghampiri Mawar walaupun sebenarnya ia gugup dab takut jika Mawar menghindar darinya.
" Bagaimana kabar kamu." Tanya Fahmi, tersenyum menatapnya.
" Baik, kamu?" Tanya Balik Mawar, sedikit kaku untuk memulai berbicara.
" Aku baik." Jawab Fahmi.
Sunyi. tidak tau harus berbicara apa lagi saat mereka sama canggung untuk memulai dari mana.
" Sebentar lagi ujian, kamu masih kerja? " Tanya Fahmi, membuat Mawar yang sedang membaca menatap
" Iya, masih?"
" Jangan terlalu lelah, jangan lupa belajar." Ucap Fahmi.
" Iya, kamu juga jangan lupa belajar." Kata Mawar dan di anggukkan oleh Fahmi.
Duduk berdua di pojok perpustakaan sambil membaca buku dan sekali-kali mereka berbicara sangat pelan takut jika penjaga perpustakaan marah.
Awal mula percakapan yang baru untuk memulai kembali menyapa dan kembali untuk mendekati Mawar, meskipun dia hanya menganggapnya teman, tidak masalah yang terpenting ia bisa dekat kembali dengan Mawar.
Sangat menyenangkan dan sangat membuat hati Fahmi tidak lagi galau kala dirinya mulai dekat lagi dengan Mawar.
Mencoba akrab kembali walaupun tak lagi seperti dulu, Merasa kasihan dan tidak tega mendengar dari cerita Lisa, jika Fahmi lebih banyak diam dan jarang sekali untuk senyum.
Tidak ada salahnya untuk berteman kembali, membuat dia untuk tersenyum dan kembali menjadi fahmi yang dulu.
Dan dirinya tidak akan melibatkan perasaan pada Fahmi, karena ia sudah mulai menyukai seseorang yang membuat kehidupannya berubah.
Yang selalu dekat dengannya, yang membuat dirinya tidak lagi kesusahan dengan kebutuhannya dan keluarganya, serta yang membuat dirinya menjadi wanita bar-bar saat harus menghadapi para mantan pacar dia.
Hanya dia yang mampu membuatnya nyaman jika berada di dekatnya.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃