
Bisa di bilang wajar jika aku cemburu, karena aku memang mencintai mu. Maskipun dalam diam.
.
.
.
.
" Jangan panggil saya pak mbak!" protes Bima, merasa geli sekali di panggil istri bosnya bapak. Seakan dirinya begitu tua, melebihi tua dari umur bosnya.
" Eh!" Pekik Mawar, menatap Bima yang masih menyetir.
" Panggil saya Bima saja Mbak! Saya masih muda." Ucap Bima.
" Enggak enak pak, enggak sopan. Biar saya panggil bapak saja." Tolak Mawar, menghormati Bima yang lebih tua darinya dan tidak mungkin juga harus memanggil mas, karena pastinya itu akan membuat Kevin cemburu.
Mendesah tak percaya harus di panggil bapak oleh istri bosnya, hanya mengangguk pasrah dan tidak mau memaksa. Takut jika nanti akan di adukan oleh bosnya.
" Tolong mampir ke toko buku sebentar ya pak? Ada yang ingin saya beli." Kata Mawar, mengangguk mengerti dan mencari toko buku yang tak jauh dari jalanan pulang ke apartemen Kevin.
Berhenti tepat di swalayan toko buku, memarkirkan mobil, berniat untuk membukakan pintu istri bosnya tapi sudah lebih dulu Mawar keluar.
" Pak Bima mau ikut!" Kata Mawar, melihat Bima yang akan ikut berjalan ke dalam toko buku.
" Memastikan keselamatan istri bos, karena sudah tanggung jawab saya." Jawab Bima.
" Enggak usah segitunya juga kali pak! Aku bukan artis!" Seru Mawar, merasa kesal jika harus di ikuti oleh asisten Kevin atau anak buah Kevin yang lainnya.
" Tapi lebih dari artis mbak! Demi kebaikan bersama." Kata Bima, hanya berdecak malas berdebat dan membiarkan Asisten Kevin ikut dengannya.
Mengambil ponsel, menghubungi sekertarisnya dan meminta padanya untuk menyampaikan pada Kevin jika dirinya sedang pergi ke sekolah Mawar dan mengantarnya pulang.
Mengikuti Mawar dari lorong ke lorong mencari buku yang sedang di perlukan dengan sesekali Bima juga ikut mencari buku yang di inginkan dan ingin di berikan pada wanita yang menemani harinya.
Sedang asyik mencari buku hingga tak sengaja Bima menabrak seseorang dari samping, membuat orang itu terkejut dan menatapnya.
" Bima!" Seru wanita itu.
" Zellin?" Ucapnya yang juga sama terkejut mendapati Zellin di toko buku.
__ADS_1
" Ngapain ke sini?" Tanya Bima.
" Seharusnya aku yang tanya? Kenapa kamu di sini. Bukannya seharusnya kamu kerja?" Kata Zellin.
" Aku sedang mengantarkan istri bo-," Terkejut tak mendapati Mawar yang hilang dari pandangannya. " Lho! Kemana dia." Ujarnya lagi dengan panik membuat Zellin mengerutkan kening.
" Dia siapa?" Tanya Zellin, tapi tak di hiraukan Bima lantaran Bima mulai berjalan dengan langkah lebar dan mencari keberadaan istri bosnya.
" Bima! Tunggu!!" Kata Zellin mengikuti langkah Bima dengan cepat dan penasaran kenapa Bima begitu takut.
Merasa kesal melihat Bima yang masih berjalan menengok kanan kini tak kunjung menemukannya.
" Kamu ini cari siapa sih Bim!!" Kesal Zellin, yang masih mengikuti langkah Bima.
" Cari istri bo-," Dan melangkah cepat saat melihat Mawar yang berada di kasir.
" Istri?" Gumam Zellin, mengulang jawaban Bima. " Istri siapa? Istri Bima? Enggak mungkin Bima punya istri." Ujarnya lagi, dan melangkah begitu cepat menghampiri Bima.
" Bima?" Teriak Zellin, menghampiri bima bersama dengan gadis berseragam sekolah yang sedang berada di kasir hingga membuat orabg yang mengantri menatap Zellin.
Bima dan Mawar juga sama menatap Zellin, dengan tatapan Zellin yang mulai menajam.
"****!" Umpat Bima yang lupa jika ada Zellin dan tatapan Zellin yang mulai horor.
" Ayo aku jelaskan!" Tarik tangan Zellin ketika mendekatinya, sudah membayar semuanya dan berjalan keluar di ikuti Zellin dan Mawar yang saling menatap.
" Jelaskan ini siapa!" Menunjuk jarinya ke arah Mawar dengan Mawar yang mengerutkan kening.
" Dia istri -,"
" Istri! Ini istri kamu Bim! Kamu jahat bim, kamu jahat sekali Bima!! Bilangnya masih single tapi nyatanya sudah punya istri. Istri kamu masih sekolah lagi! Kenapa sih bim!!" Cecar Zellin dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca kaca. Sedangkan Mawar dan Bima terkejut dengan Zellin.
" Dengar dulu Lin! Kamu salah paham." Kata Bima, mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang di lihat dan di dengar Zellin.
" Salah paham gimana!" Bentak Zellin. " Aku dengar dan enggak tuli bim, jika kamu tadi tadi cari istri kamu." Kata Zellin.
" Dan kamu!" Menunjuk lagi ke wajah Mawar. " Masih sekolah mau saja di ajak nikah sama ini cowok." Ujarnya lagi, dan Mawar sudah mulai marah di tunjuk-tunjuk seperti itu hingga dirinya memukul tangan Zellin dan mulai berkacak pinggang.
" Mbak!! Dengar ya!! Saya ini bukan istrinya pak Bima, saya ini istri bosnya pak Bima! Istri bosnya pak Bima, ingat itu!! " Kata Mawar mulai galak melebihi Zellin yang terkejut serta mengerutkan kening.
" Mbak Mawar ini istrinya bosku Zellin!" Ucapnya Lirih memasang muka marah sekaligus takut dengan Mawar.
__ADS_1
Menelan saliva saat ia merasa takut sendiri dengan tatapan Bima dan Mawar yang berkacak pinggang seperti wanita hamil yang sedang sensitif.
" Istri bos Bima." Lirih Zellin.
" Iya! Saya istri bosnya pak Bima dan bukan istrinya pak Bima!" Seru Mawar, masih berkacak pinggang dan mata yang melotot.
" Maaf? " Lirih Zellin hingga Mawar menghembuskan nafas berat, mencoba mengatur emosi yang sedari pagi membuatnya ingin marah sekali.
" Iya mbak, maaf juga sudah marah dan memukul tangan mbak." Kata Mawar dengan senyum dan kembali bersabar. Dan Bima sedikit bisa lega karena istri bosnya begitu baik dan sabar bisa menahan emosinya kembali.
****
" Sayang?" Teriak Kevin, masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
" Mbak Mawar ada di kamar mas?" Ucap Angga melihat tv di depan ruang tamu, terkejut dengan Kevin berteriak dan tidak mengucapkan salam.
Masuk ke dalam kamar Mawar, membuka pintu dengan sedikit kasar hingga Mawar terkejut saat ia membaringkan tubuhnya di kasur, karena sudah lelah pikiran dan lelah badan.
" Mas Kevin?"
" Sayang? Kamu enggak papa?" Tanya Kevin duduk di hadapan Mawar yang mulai duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur.
" Aku enggak papa? Kenapa?" Tannya Mawar balik.
" Kenapa enggak bilang sama aku tadi di telpon!" Khawatir Kevin, mengetahui semuanya dari Bima. Yang di mana istrinya di bully dan di fitnah dengan gosib murahan. Serta hampir membuat Mawar di keluarkan dari sekolah jika Asistennya itu tidak segera bertindak dan mengancam kepala sekolah. Dan menyuruh pihak sekolah untuk menutup kasus Mawar.
" Soal apa?" Tanya Mawar, sungguh Asisten Kevin tak bisa di percaya untuk tak bilang pada suaminya, tapi nyatanya dia mengadukan semuannya.
" Jangan bilang soal apa!" Mulai marah dengan Mawar.
" Aku enggak papa mas?" Kata Mawar yang tersenyum dan mengarahkan tangan Kevin ke perutnya. " Dia juga enggak papa, malah menjadi kuat." Ujarnya lagi sambil mengusapkan perutnya.
Mengatur nafas menahan emosi di hadapan istri dan memeluk istrinya serta menciumi puncak kepalanya.
" Aku gak mau istri dan anakku terluka? dan Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran." Gumam Kevin, dengan sorot mata tajam.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃