Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
pojok kenangan


__ADS_3

" Kak Mawar sudah kenal lama sama Kak Kevin?" Tanya Intan duduk berdua di ranjang tempat tidur Kevin.


Sedikit canggung untuk pertama kalinya Mawar bertemu dengan Intan, adik iparnya. Terlihat ramah dan suara begitu bersahabat di telinganya. Penasaran akan sosok gadis sudah membuat kakaknya menikahinya dan kehidupan kakaknya yang berubah.


"Tujuh bulan Kak?" Jawab Mawar, bingung dirinya harus memanggil apa. Pasalnya di hadapannya sekarang wanita yang lebih tua darinya dan tidak sopan jika memanggil namanya saja, meskipun sebenarnya dirinya adalah istri dari kakaknya.


" Panggil saja aku Intan Kak, kan kamu sekarang kakak ipar aku." Kata Intan.


" Maaf, tapi umur kita berbeda. Lebih baik aku memanggil kak Intan saja. Gak sopan jika manggil nama." Tolak halus Mawar, memang berasa tak sopan jika harus memanggilnya nama saja. " Kak Intan, lebih baik panggil aku Mawar saja, jangan kakak." Imbuhnya lagi, dengan senyum hangat untuk pertama kali pada keluarga Suaminya.


Hanya mengangguk dan juga tersenyum. Msngiyakan ucapan Mawar, memang sedikit aneh tapi mau bagaimana lagi. Kakak ipar berbeda jauh umur denganny.


Foto terjajar rapi di sudut ruangan, beberapa bingkai foto memperlihatkan gambar begitu sejuk di lihatnya, Mengerutkan kening melihat foto dua insan sedang melihat senja di teras balkon.


" Apa wanita di foto itu kamu Mawar?" Tanya Intan, menelisik foto untuk ke dua kalinya ia melihatnya di kamar kakaknya.


Pernah bertanya, siapa wanita yang duduk di sebalahnya Kevin yang merangkul bahunya dan wanita yang menyandarkan kepala di bahu Kakaknya. Dengan pemandangan senja di balkon apartemen.


" Untuk pertama kali, kakakku mempajang foto bersama wanita yang tidak menunjukkan wajahnya. Itu berarti Wanita di dalam foto sangat berarti baginya selain ibu dan adiknya." Ujarnya lagi, membuat Mawar tersenyum, merasa terharu jika dirinya juga berarti dalam hati dan kehidupan suaminya.


" Itu waktu aku masih menjadi patner pacar sewaan Mas Kevin kak?" Kata Mawar.


" Pacar sewaan?" Ulang Intan, hingga Mawar juga terkejut dengan perkataannya sendiri. Membongkar rahasianya pada kakak ipar, dimana foto itu, Kevin dan dirinya masih sebagai patner kerja dan juga menjadi pembantu rumah tangga di apartemen Suaminya.


" Dulu Mas Kevin menyewaku Kak, Kami bertemu di pesta pernikahan klaen Mas Kevin. dia memberiku pekerjaan sebagai kekasih bohongannya. untuk melindunginya dari para mantan kekasihnya." Kata Mawar, bagaimana pertama kali bertemu dengan Kevin dan memberinya pekerjaan dengan imbalan bigitu banyak. Asal bisa melindungi dan mengusir para mantan kekasihnya untuk tidak mengganggunya lagi.


" Kamu mau?" Tanya Intan.


" Aku sempat menolaknya, tapi karena dia selalu saja mengejar, memohon dan akan memberiku gaji yang banyak hingga itu aku mau menerima tawarannya." Jawab Mawar. " Aku menerimanya karena aku juga butuh uang. Membiayai sekolahku dan adikku, memenuhi kebutuhan adik dan nenekku." Imbuhnya, wajah kembali sendu akan ingatan dirinya pada keluarganya.


" Ayah dan ibu kamu?"

__ADS_1


" Ke dua orang tuaku meninggal. dan sebelum aku menikah dengan Mas Kevin, nenek meninggalkan kami." Jawabnya. Kehidupannya hancur, sehancur-hancurnya kala di tinggal neneknya pergi dan mengetahuinya hamil di luar nikah, di tinggal pria menghamilinya, entah kemana hingga tidak bisa di hubungi ataupun dia tidak menghubunginya sama sekali.


Stres pikiran, situasi sangat membingungkan. Takut akan dunia yang menghakiminya. Sempat dirinya ingin melakukan hal sangat jahat dan di benci oleh Tuhannya. Tapi dengan dukungan dari adik serta orang-orang baik di sekitarnya, ia memutuskan mempertahankannya meskipun ia tau akan konsekuensinya.


" Kak Kevin orang yang bertanggung jawab, meskipun dia pria yang suka berganti wanita untuk kesenangannya." Kata Intan. " Dulu kak Kevin tidak seperti itu, dia pria yang setia, hanya saja dia berubah karena wanita yang dulu di cintainya menghianatinya." Mengerutkan kening, kala Intan menceritakan masa lalu Kevin padanya. Bukan cemburu, hanya penasaran akan kehidupan nasa lalu suaminya yang ternyata belum pernah ia ketahui sama sekali.


Yang dirinya tau saat bersama Kevin, suaminya itu pria play boy, suka berganti pasangan tapi tidak pernah mendengar kabar jelek tentang suaminya.


" Meskipun Kakakku play boy, tapi dia akan setia, jika susah menemukan wanita yang tepat. Seperti kamu Mawar? dia akan menjadikan kamu satu-satunya wanita di hatinya."


Perkataan Intan memang benar, Kevin pria yang bertanggung jawab atas apas yang di perbuatnya dan menikahinya tanpa ragu. Tidak peduli status mereka yang berbeda. Antara langit dan bumi. selama bersama Kevin, Dia selalu memprioritaskan dirinya, menjaganya dan memberikan semua apa yang di butuhkan dan tidak di butuhkannya.


Kasih sayangnya selalu dia curahkan saat dekat dengannya, tidak peduli di hadapan adiknya, asistennya atau pekerja di rumahnya.


" Dan aku turut berduka atas kepergian calon anak kalian." Kata Intan, menyentuh tangan Mawar menatapnya dengan lembut. " Yang sabar ya, tolong jangan saling menyalahkan." Imbuhnya, memberi perhatian dan saran untuk tidak saling menyalahkan atas kepergian calon buah hatinya. Karena insting Intan tau akan gelagat kakaknya, yang menyuruhnya untuk mengantar istri kakaknya ke kamarnya, saat suasana semakin tegang antara keluarganya.


" Iya, makasih kak?" Ucap Mawar, membalas senyuman dan rasa syukur di terima dengan baik oleh adik iparnya. Dan dirinya tidak tau apa mertuanya juga akan menerimanya dengan baik seperti adik ipar atau malah sebaliknya, mereka membencinya karena sudah berbuat aib keluarga besar mereka.


Mawar mulai berjalan, menuju sudut ruangan memperhatian foto lebih dekat. Foto keluarga Kevin, foto orang tua, foto Kevin bersama intan dan satu foto Kevin dengan dirinya.


Mengambilnya dan mengusapnya, sungguh gemas Kevin memajang fotonya yang tidak terlihat wajahnya. Tapi dirinya juga sangat bahagia, jika Kevin mengabadikannya dengan selembar foto dan bingkai serta menjajarkannya di foto-fotonya bersama dengan keluarganya.


" Aku hanya punya foto itu, tidak ada lagi foto berdua dengan kamu. Dan aku mengabadikannya sebelum kita menikah." Suara suaminya dari belakang dan dirinya berbalik untuk menatapnya. Tepat di hadapannya, seulas senyum di bibir sang suami.


" Mau foto prewedding gak?" Tanya Kevin.


" Buat apa? Kan kita sudah nikah." Jawab Mawar.


" Itu cuma akad nikah, resepsinya belum."


" Eh!" Pekik Mawar. " Enggak usah pakai resepsi dech mas?"

__ADS_1


" Kenapa?" Mengerutkan kening, ucapan istrinya yang menolak untuk resepsi.


" Enggak PD." Jawabnya, membuat Kevin tertawa dan mengusap lembut pipi istrinya.


" Enggak usah malu, kan kamu cantik?" Puji Kevin, dan pipi berubah seperti tomat mendengar pujian dari suaminya yang selalu saja sukses membuatnya malu.


" Apaan sih, gombal mulu!" Protes Mawar di sela menahan senyum.


" Beneran! Istriku ini cantik banget, mama pun juga bilang begitu." Kata Kevin.


" Hhm! Mama dan papa Mas Kevin bagaimana?" Lirih Mawar, ada rasa khawatir dan takut jika tidak diterima oleh kedua orang tua suaminya.


" Gimana bagaimana?" Tanya ulang Kevin.


" Apa? Orang tua mas enggak meres-," Bukan mendapatkan jawaban, tapi pelukan hangat dari suaminya dan sudah di pastikan itu berarti dirinya tidak di terima oleh kedua orang tua Kevin.


Memejamkan mata, menangis dalam pelukan suaminya hingga suaminya melepaskan pelukannya.


" Kenapa menangis Sayang?" Tersentak kecil Kevin, mengusap air mata istrinya dan menenangkannya.


" Maaf, sudah membuat kamu bertengkar dengan orang tua mas."


" Aku enggak bertengkar sayang? Aku justru bahagia, karena mama dan papa merestui kita dan ingin mengajak kita makan malam bersama." Ucap Kevin, tersenyum bahagia kala ke dua orang tuanya merestui hubungan mereka dan mau menerima Mawar sebagai menantunya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2