Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Hati


__ADS_3

Masih terasa kenyang dan juga sulit sekali untuk jalan atau bergerak. Rasa ingin memuntahkan semua makanan yang berada di dalam perutnya, karena ulah istri yang menyuruhnya untuk menghabiskan makanan di piringnya sendiri. Sedangkan makanan punya Mawar, tidak habis dan tidak berani protes pada istrinya. Jika berami protes sudah pasti akan membuat sang istri murka. Ini seperti bukan dirinya, di kantor semua orang menunduk dan tidak berani padanya, tapi dengan satu wanita di rumah dirinya begitu sangat takut dan tak bisa berkutik sama sekali. Ajaib, pria takut pada sang istri tercinta.


Sungguh makanan porsi banyak dan minuman jumbo membuatnya seperti orang kelaparan di hari pertama puasa, mendapatkan takjil begitu banyak, memakanny tanpa henti, hingga perut terasa penuh dan sulit untuk bergerak. Dan rasa kantuk mulai menjalar di mata yang tak kuat untuk membuka lebar.


" Masih kenyang? Gila, perutku bisa buncit ini kalau makan seperti tadi, terus menerus." Gumamnya sendiri, Duduk di kursi besar setelah mengantarkan istrinya pulang ke rumah.


" Tunggu, maksud istriku apa mengajakku makan di sana." Ujarnya kembali, mengingat ucapan istri dan pembeli makanan yang makan denga lahap.


" Banyak orang perantauan makan di sini mas, makan pun cari tempat yang murah dan porsi banyak biar kenyang dan semangat kembali bekerja."


" Kadang mereka harus pintar mengatur keuangan saat mereka sudah gajian, banyak tanggungan dan sisanya harus cukup untuk satu bulan ke depan. Kalua tidak cukup, terpaksa ngutang buat beli makan. Dan bayarnya lun setelah gajian lagi."


" Kasihan ya mas. Mungkin aku akan seperti mereka jika enggak bertemu dengan kamu mas."


Selama Ini rasa bersyukur di dalam diri Kevin belum cukup, dan masih saja dirinya berambisi lebih. Kini dirinya tau apa maksud dari perkataan istrinya dan mengajaknya makan di warung sederhana. Untuk menjadi orang yang bersyukur dan bisa membantu sesama yang membutuhkan serta menjadi atasan yang harus adil pada bawahannya.


Memencet telepon kantor, satu kali dering dan terangkat dengan cepat. " Siapkan semua kepala staf, dua menit lagi kita akan rapat." Perintah Kevin pada sekertaris Bima.


" Makasih sayang, kamu memang wanita yang baik." Gumamnya dalam hati, menatap foto istrinya di atas meja kerjanya.


Pikirannya mulai terbuka dan ada sesuatu yang harus di perbaiki dalam perusahaannya. Ia ingin adil dan bisa sedikit membantu perekonomian para pekerjanya. Serta ingin memberikan keringan hidup bagi karyawan perantauan, seperti ia melihat di warung makan sederhana. Yang makan dengan lahap, tanpa malu dan tanpa jail sama sekali. menghilangkan beban untuk sementara dimana makanan mereka harus kandas dan mulai beraktivitas kembali.


****


" Maaf, jika ucapan mamaku membuat hati kamu tersinggung." Ucap maaf tulus dari bibir Zellin, duduk di cafe bandara berdua dengan Bima untuk mengantarnya kembali ke indonesia.

__ADS_1


" Tidak papa, memang kenyataan." Jawab Bima, tersenyum pada Zellin yang menatapnya seperti rasa bersalah dan iba.


" Tapi tidak seharusnya mamaku bilang begitu Bim! pada kamu." Menundukkan kepala, seakan dirinya tak sanggup menatap manik mata hitam Bima.


" Apa reaksi papa kamu, tau latar belakang aku." Tanya Bima, membuat Zellin mendongakkan kepala dan sedikit terkejut dengan pertanyaannya.


Rasa tidak sanggup untuk menjawab, tak tidak sanggup untuk menyakiti hati Bima. Terutama dirinya tidak bisa untuk melupakan pria yang di cintainya.


Kembali menundukkan kepala, sulit bibir ranum itu untuk berbicara dan sulit mengatakan jika papanya tak setuju dengannya. Hanya karena masa lalu keluarga Bima, yang pastinya akan membuat keluarganya malu. Tapi tidak dengannya.


Diamnya Zellin membuat Bima mengerti dan tersenyum paksa untuk membuktikan dirinya baik-baik saja, meskipun rasa di dalam hatinya hancur.


Hancur akan hinaan, hancur akan cinta tak mendapat restu dari orang tua wanitanya dan hancur akan cinta yang belum sempat di mulai harus handas di tengah jalan.


Bukan salah wanita di hadapannya dan juga bukan salahnya berada di keluarga yang mempunyai masa lalu begitu suram. Semua memang sudah takdir, takdir di mana dirinya harus menerimanya dan tidak bisa menghindar meskipun sudah mencoba untuk menutupinya.


" Bim?" Lirih Zellin, menggelengkan kepala, mata berkaca-kaca. Tidak sanggup untuk mendengarkannya.


" Aku tidak ingin keluarga kamu membenci kamu hanya karena aku Lin, Aku juga tidak ingin kamu menderita."


" Kita bisa nikah lari Bim!" Tidak mempedulikan pengunjung yang mulai menatapnya, yang ada rasa penasaran dan juga terkejut mendengar suara Zellin sedikit meninggi.


" Bisa, tapi aku tidak ingin Lin, karena kebahagiaan keluarga kamu ada di kamu." Ucapnya, membuat Zellin meneteskan air mata.


" Bukan hanya kamu yang akan menderita, tapi keluarga kamu, dan juga aku Zellin." Ujarnya lagi, Kedua orang tua yang tidak merestui dan masih tetap memaksa menikah akan ada imbasnya di kemudian hari. Termasuk Bima yang pastinya akan sering di hina dan di banding-bandingkan oleh mama Zellin. Meskipun dirinya mempunyai segalanya yang pastinya akan terungkap suatu saat.

__ADS_1


" Kamu benar Bim." Ucap Zellin, menghapus air mata saat ia mencerna kata Bima. Dan tentunya, bukan dirinya yang menderita, tapi Bima. Yang pastinya akan lebih menderita daj akan sering terjadi pertengkaran ataupun hasutan dan juga kesalah pahaman antara dirinya dan Bima.


" Kamu benar, bukan aku yang menderita, tapi kamu. Dan itu pasti karena mamaku." Imbuhnya lagi.


" Aku tidak menyalahkan mama kamu."


" Aku tau Bim, kamu tidak akan pernah menyalahkan mamaku. Tapi mamaku yang akan mencari kesalahan kamu. Agar aku membenci kamu." Sahut cepat Zellin, dengan pemikiran yang sudah pasti akan terjadi seperti suatu saat nanti, jika dirinya masih bersama dengan Bima.


Memang benar, pasti akan ada namanya mertua yang tidak merestui akan mencari-cari kesalahan dan juga akan membanding-bandingkan calon menantu yang tidak di sukai. Dan akan selalu memojokkannya jika ada kesalahan kecil dalam keluarganya.


" Seperti ini ya Bim, cinta tidak mendapat restu." Lirihnya, masih dengan senyum paksa sama seperti Bima ingin terlihat baik-baik saja meskipun air mata sudah menggenang dan mulai turun kembali ke pipinya.


" Mungkin sudah jalannya kita untuk tidak menjadi kekasih, tapi melainkan sebagai teman." Jawab Bima, menghapus air mata Zellin meskipun dirinya juga ingin sekali menangis. Sebisa mungkin untuk dirinya tahan di hadapan wanita yang di cintainya, nyatanya semalaman di dalam hotel dirinya hanya merenung, meneteskan air mata dan teringat akan ke dua orang tuanya.


" Kita akan tetap seperti ini, dan tidak akan ada yang berubah. Percayalah." Kata Bima, mencoba menenangkan Zellin. Meskipun tidak tau apa dirinya sanggup untuk masih tetap bersamanya meskipun masih sebagai teman.


" Janji?" Pinta Zellin.


" Hmm, iya." Jawabnya dengan senyum, tidak berani berjanji. Karena hati akan bisa membolak balikkan kata janji yang sulit untuk di tepati.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2