Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
drama ruang kepsek


__ADS_3

Jika kekuasaan sudah bertindak, semua orang yang menghina akan terdiam.


.


.


.


.


Memasuki gerbang sekolah dengan memakai mobil hitam berlambang kuda di ikuti mobil putih dari belakang, membuat suasana di sekolah menjadi riyuh. Banyak yang melihat dan bergosib akan siapa yang datang membawa mobil sedan mewah, pintu mobil buka ke atas, dua kursi duduk, dengan harga yang terbilang fantasis.


Membuka pintu mobil dengan dirinya yang masih memakai baju kantor, memakai kacamata hitam, serta aura CEO keluar dari dirinya. Membuat para siswi berteriak histeris saat melihatnya.


Tampan, tinggi, gagah, coll, perfeck! suara para siswi memujinya.


Berjalan bersampingan dengan Asistennya untuk ke menuju ruang kapsek.


Bukan hanya para siswi yang histeris saat CEO tampan berjalan dari kelas ke kelas untuk menuju ruang kapsek, tapi juga pada guru wanita muda yang terpesona akan ketampanannya.


" Mau cari siapa pak.?" tanya seorang guru wanita.


" Maaf, Ruang kepala sekolah ada di sebelah mana buk.?" tanya Asisten CEO.


" Oh, itu sebelah sana pak." tunjuk guru wanita dengan sopan, mengarahkan tangannya ke ruang kapsek.


" Terima kasih?" Jawab Asisten CEO.


" Sama-sama pak." jawabnya dengan tersenyum, menatap CEO muda yang mengangguk dan tersenyum sedikit membuat guru wanita menjadi salah tingkah di buatnya.


" Tampan sekali!" gumam guru wanita dalam hati, memegang dadanya yang berdebar tak karuan.


Dedy sugar!!


Kak! mau jadi pacarnya.


Kak, mau jadi istrinya.


Selingkuhan juga gakpapa kak.


Sarangheo kak!!


teriak para siswi yang merasa gatal mulutnya jika diam saja, bila melihat orang tampan. Kevin dan Asistennya hanya menggelengkan kepala melihat teriakan-teriakan para siswi.


Mengetuk pintu ruang yang tertutup sebelum masuk, memperlihatkan tiga gadis hadir di dalam sana, juga kepsek yang duduk di kursi kerjanya.


semua orang yang ada di dalam ruangan menatapnya dengan penampilan yang coll.


" Apa benar ini ruangan kepala sekolah." tanya basa basi Asisten Kevin.


" Iya benar, ada keperluan apa." tanya kepala sekolah, bukannya menjawab Asisten membuka pintu dengan lebar mempersilahkan atasannya untuk masuk ke dalam ruangan.


Terpana, semua orang yang ada di hadapannya melihat pria yang tampan ada di ruangan kapsek.


Melihat Mawar yang berdiri di pojokan bersama temannya dengan rambut dan pakaian yang begitu berantakan. Mawar hanya menundukkan kepala tidak tau akan kehadirannya, sedangkan Bianca dan gengnya menatapnya begitu memuja.


" Saya Kevin, wali murid dari Mawar." ucapnya, hingga membuat Mawar dan Lisa melihat ke arah sumber suara.


Membalas tatapan Mawar dengan tersenyum dan mengangguk untuk memastikan semua baik-baik saja.


Terkejut saat Kevin menyebut nama Mawar, karena semua orang yang ada di ruangan itu tau jika Mawar tidak punya keluarga. Dan ini, pria tampan yang ada di hadapannya mengaku sebagai wali murid Mawar.

__ADS_1


" Silahkan duduk pak?" perintah kepsek, menunjuk sofa yang kosong, hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.


" Siapa Ar?" Bisik Lisa dengan masih menatap Kevin.


" Orang yang nyewa aku." Jawab Mawar


" Gila, cakep bener.! aku mau Ar jadi pacar sewaannya, enggak di bayar juga gak papa." Lirih Lisa.


" Cakep, tapi sayang play boy." Cicit Mawar.


Karena perkelahian dengan Bianca, dan yang memulai terlebih dulu Bianca kini dua gadis itu langsung di sidang di ruang kepsek dengan mereka yang tidak di beri duduk. Sedangkan Bianca dan gengnya bisa duduk saat ayah Bianca sudah datang, dan pergi sebentar untuk menerima telpon.


" Begini Bapak-."


" Kevin." sela Kevin.


" Begini pak Kevin, ananda Mawar sudah melakukan penyerangan terhadap ananda Bianca."


" Saya tidak menyerang Bianca pak, Bianca dulu yang menyerang saya." potong Mawar dengan tegas, membuat kepsek dan semua orang menatapnya.


" Bohong dia dulu yang menyerang saya pak." kata Bianca dengan menunjuk Mawar.


" Iya bener pak." Imbuh dua anak buah Bianca.


" stop, stop." Lerai pak kepsek


" Bapak tau dari mana jika Mawar menyerang Bianca." tanya Kevin.


" Saya hanya mendengar dari dua saksi murid." jawab pak kepsek.


" Benar kah pak, boleh saya lihat saksinya." kata Kevin.


" Bukannya mereka satu geng, bisa saja mereka sekongkol." jawab Kevin.


" Saya perlu beberapa saksi lagi untuk memastikan kebenarannya, sebelum bapak menuduh Mawar." ujarnya lagi dengan tegas dan menatap tajam Kapsek.


Menelan saliva saat Kevin menatap tajam padanya, dan menyuruh Wakepsek untuk mencari beberapa siswa yang mengetahui kejadian sebenarnya di ikuti Asisten Kevin untuk memastikan tidak ada kata ancaman.


Masih setia menatap kepsek, Bianca beserta gengnya dengan tatapan marah serta benci akan fitnahan.


Kevin yang melihat tatapan amarah Mawar merasa tau jika dia hanya di fitnah dan tidak berani memberontak kala dia hanya orang pinggiran yang takut akan di keluarkan dari sekolah saat orang kaya sudah beraksi.


beberapa siswa dan siswi datang ke ruang kapsek menjadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Sempat saling tatap menatap dengan wajah yang terlihat gugup dan tertekan.


" Kalian tidak perlu takut untuk mengungkapkan kejujuran." ucap Kevin " Karena saya juga donatur di sekolah ini, dan saya jamin jika kalian tidak akan di keluarkan dari sekolah." imbuhnya lagi hingga membuat kepsek dan wakepsek menatap ke Kevin.


Bukan hanya kepsek dan wakepsek saja, tapi juga semua orang yang ada di ruangan menatap tak percaya akan apa Kevin katakan.


" Pak Ke vin seorang donatur.?" tanya gugup kepsek.


" Iya." tegas Kevin. " Bapak bisa tanyakan ke yayasan, jika tidak percaya." ujarnya dan menaruh kartu namanya di meja.


" Yang memulai menyerang dulu adalah Bianca pak." Ucap salah satu siswi.


" Iya, pak yang memulai dulu adalah Bianca." tambah lagi satu siswi yang membenarkan


" Iya benar pak." imbuhnya lagi dengan tegas beberapa siswi, membuat Bianca dan gengnya merasa menciut dan tidak berani untuk membela hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka membuat Bianca dan gengnya merasa lega. Bianca pun berlari ke arah pria tua dengan memeluknya.


" Papa.! mereka semua memfitnah Bianca!!" Adu Bianca pada papanya.


" Siapa yang berani memfitnah putri saya, saya tidak terima ya." tuding bapak tua dengan marah.

__ADS_1


" Tunggu dulu pak? kita selesaikan dengan kekeluargaan."


" Kekeluargaan apa!" Bentak Papa Bianca. " Anak saya terluka, dan saya tidak mau tau gadis sialan itu harus di hukum." ujarnya dengan menatap tajam Mawar.


" Dia tidak salah, kenapa harus di hukum." sanggah Kevin, berdiri dari duduknya dan menatap pria tua yang sedikit terkejut melihatnya.


" Pak, kevin.?" Sapa lirih Papa Bianca.


" Selamat siang pak Danu." sapa ramah Kevin tapi terdengar dingin di telinga papa Bianca. Lagi-lagi Kevin membuat kejutan di dalam ruangan itu.


" Anda, di sini pak." Lontar pertama di bibir Pak Danu.


" Iya, saya wali kelas. Dia." Jawab Kevin, menunjuk Mawar yang sedang menatapnya dan membuat Pak Danu membukatkan mata saat melihat Mawar yang dia maki-maki sebelum ada Kevin.


" Di a-."


" Dia calon istri saya. Wanita yang anda bilang sialan." Potong Kevin menatap tajam Pak Danu.


Yang di tatap tajam merasa gugup dan takut akan apa yang telah perbuat pada gadis yang dia sebut sial*n itu.


Sedangkan semua orang terkejut akan apa yang di katakan pria tampan dengan gampangnya menyebut Mawar calon istrinya. Hanya Mawar dan Lisa yang menatapnya dengan kening berkerut serta bersyukur dirinya di selamatkan oleh Kevin dan membuat papa Bianca tidak bisa berkutik apa pun.


" Bukan, begitu pak Kevin." Ucap Pak Danu.


" Saya rasa harus pergi, dan biarkan asisten saya yang mengurus semua ini." Tegas Kevin mengucapkan pada kapsek.


" Iya, pak." jawab Pak Kepsek.


" Ayo Mawar kita pulang." Ajak Kevin, membuat Mawar menatap Kepsek dan Wakepsek.


" Kamu dan Lisa boleh pulang." Kata kepsek, hanya tersenyum dan mengangguk. " Dan kalian juga boleh kembali ke ke kelas." perintahnya dengan menunjuk saksi.


" Pak, saya bisa jelas-." Mengangkat tangan untuk tidak melanjutkan ucapannya.


" Anda bisa jelaskan di kantor." jawabnya dan pergi meninggalkan ruang kepsek, di ikuti Mawar dan beberapa siswi yang juga ikut keluar.


" Pak Ra-."


" Nanti jelaskan saja di kantor Pak." Potong Asisten Kevin dan memilih duduk untuk menyelesaikan masalah Mawar dengan Kepsek.


Di depan ruangan, para siswi yang menjadi saksi mengucapkan terima kasih karena Kevin membela dan melindunginya. Hingga mereka tak akan takut lagi pada Bianca.


" Ayo pulang.?" Ajak Kevin.


" Eh.!" Pekik Mawar. " Tapi aku masih ada jam pelajaran lagi." ujarnya.


" Sudah di ijinin pulang sama Asisten ku. Ayo." ajaknya dan menggenggam tangan Mawar membuat Mawar terkejut.


" Aku bawa motor." Kata Mawar berusaha menolak


" Biar anak buahku yang pakai."


" Kasihan temanku sendiri."


" Dia boleh pulang juga." Jawab Kevin, membuat Mawar menatap Lisa, yang di tatap senyum mengembang dan melambaikan tangan sebagai tanda pisah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2