Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
kembali tertawa


__ADS_3

Teman yang sesungguhnya itu! Teman yang tidak meninggalkan kita di saat kita berada di face paling bawah.


.


.


.


.


Membuka pintu kamar ruang inap dengan sekali gerak hingga suara terdengar keras dan membuat orang yang ada di dalam sedikit terkejut hingga seulasa senyum orang di dalam ruangan menyambutnya sangat hangat dan senang.


" Lisa?" Ucap wanita yang tidak bisa lagi membendung tangis haru senang dan juga wajah semangat darinya untuk menemui sahabatnya.


Berjalan begitu cepat, mempersilahkan wanita itu memeluk sahabatnya dimana Fahmi memilih berdiri dari duduk, menggeser tubuhnya ke belakang.


" Lisa?" Sapanya dengan suara parau, memeluk Lisa yang menyandarkan tubuhnya di ranjang pasien. Menangis haru, begitu senang dan bersyukur sahabatnya sudah sadar dari koma.


" Ar?" Sapa balik senyum hangat, membalas pelukannya dan mengusap lembut punggung sahabatnya yang bergetar karena menangisinya.


Melepas pelukan dan tersenyum hangat di bibir tipis mereka berdua. " Aku senang kamu sudah sadar Lis! terima kasih Tuhan." Ucap Mawar, bersyukur pada sang pencipta karena sudah membuat sahabatnya kembali sadar dari tidur panjangnya.


Duduk di kursi sambil menggenggam tangan Lisa. Masih tidak percaya akan apa yang dirinya lihat sekarang dan ia dengar dari telpon beberapa jam yang lalu di mana Fahmi mengabarinya, jika Lisa suda bangun dari komanya.


" Semua ini berkat doa dari orang yang aku sayang." Jawab Lisa tersenyum. " Makasih sudah mendoakan kesembuhanku Ar?" Imbuhnya lagi, dimana dirinya bisa mendengar dan merasakan ketulusan doa dari orang terdekatnya waktu dirinya masih berbaring koma.


" Aku yang harusnya makasih karena kamu sudah menyelamatkan ku." Kata Mawar, membuat Lisa terdiam menatap Mawar lekat dan iba.


" Tapi aku tidak bisa menyelamatkan calon anak kamu Ar? Maafin aku." Lirinya, merasa bersalah akan apa yang menimpa sahabatnya. Kehilangam calon anaknya, yang sesungguhnya Lisa menolongnya dan tidak ingin terjadi apa-apa pada ibu dan calon anaknya. Tapi karena dorongan yang sangat kuat dari Lisa membuat Mawar terjatuh begitu keras dan kehilangan anaknya.


Sungguh, bukan maksud Lisa mendorongnya kuat hingga terjatuh. Tapi memang keadaan yang sangat darurat membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk pelan mendorong Mawar.

__ADS_1


Tapi, jika Lisa tidak menolong Mawar. Sudah akan di pastikan jika posisi Mawar akan sama persis seperti Lisa dan akan membuat suaminya lebih-lebih sedih dan hancur.


" Tidak ada yang perlu di salahkan Lis?" Jawab Mawar dengan hangat, tau akan rasa bersalahnya Lisa yang mendorongnya dengan kuat hingga membuatnya keguguran.


Itu semua hanya sengaja dan reflek seseorang yang ingin menolongnya.


" Semuanya sudah takdir, dan mungkin saja ini belum rejeki aku untuk menimang anak kecil." Ujarnya lagi sambil tersenyum. " Lagian aku bisa kan mencobanya kembali?" Imbuhnya tanpa sadar, dimana semua orang mendengarnya termasuk suaminya dan Bima asistennya suaminya, menutup mulutnya saat menyadari ucapannya yang begitu fulgar.


" Mentang-mentang sudah punya suami, sudah sah, ngomongnya tanpa rem kalau bahas ea ea." Gerutu Fahmi, membuat Mawar malu dan tidak berani menjawab saat ada kedua orang tua Lisa.


" Awas kamu Fahm!" Sungut Mawar, menahan kesal tak bisa membalas ucapan Fahmi dan mencoba mengejeknya.


" Gimana rasanya enak gak!" Lirih Lisa, masih terdengar oleh Fahmi. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu di tanyakan dan di bahas di depan orang tua tapi beruntung mereka orang tua tidak mendengarnya kala sedikit jauh dari riga remaja sma.


" Mau! aku bilangin bapak sama ibu kamu!" Ancam Fahmi, ke duanya hanya bisa mendengus sebal dan tertawa kecil melihat Fahmi yang menggelengkan kepala.


" Aku pikir kamu akan lupa ingatan setelah bangun dari koma, ternyata aku salah! Nyatanya dirimu masih sama seperti dulu, gesrek!" Tertawa Mawar, menular ke Lisa yang juga ikut tertawa.


Melihat tiga remaja tertawa dan saling berbagi cerita. Membuat dua orang tua tersenyum dan Kevin juga ikut tersenyum kala melihat istrinya yang kembali tersenyum dan tertawa lepas seperti ini di hadapannya.


Semenjak keguguran dan komanya Lisa yang begitu lama, Mawar lebih pendiam jarang tersenyum dan tertawa seperti saat ini dirinya lihat. Dan lebih sering istrinya melamun serta meneteskan air mata secara tiba-tiba hingga dirinya selalu memeluknya, menenangkannya dan rasa bersalah selalu menghantuinya.


Dirinyalah penyebab Mawar keguguran, dirinyalah penyebab Mawar celaka dan karena masa lalunya istrinya yang terkena imbasnya.


****


" Gimana keadaan istri bos kamu?" Tanya Zellin, berkunjung ke apartemen Bima di pagi hari memasakkan makanan kesukaan pria yang sudah mengisi hatinya.


" Dia sudah baik, dan semalam tertawa lepas bersama temannya yang baru sadar dari koma." Jawabnya, duduk di meja makan. Sudah tersedia makanan di meja makan pagi hari yang sangat menggiurkan di lidah dan cacing perut untuk meminta segera di isi.


" Aku belum sempat menjenguknya?" Kata Zellin, sedikit menyesal tidak bisa menjenguk istri bos Bima yang dulu sempat bertemu karena kesalah pahaman.

__ADS_1


" Kamu kan sibuk dan sebentar lagi buku novel kamu akan rilis?" Kata Bima, membuat Zellin mengangguk.


Ya dirinya begitu sibuk dengan Novelnya dan akan segera di rilis beberapa hari lagi, dimana buku novelnya begitu di gemar oleh penggemar novel online.


" Kapan-kapan aku akan mengajak kamu ke rumah istri bosku." Imbuhnya lagi, dengan Zellin membulatkan mata mendengar ucapan Bima dan ajakannya untuk bertemu kembali dengan Mawar.


" Beneran!" Tanya pasti Zellin.


" Iya? Kapan sih, aku bohong sama kamu?" Kata Bima mengerlingkan sebelah mata menggoda wanita yang sudah memasakkannya di pagi hari.


" Iihh!! Mulai dech!" Cibir Zellin mengerucutkan bibirnya kesal jika harus di goda Bima pagi hari.


" hahahaha, mau minta sun! Boleh gak!" Kata Bima mencondongkan tubuhnya mendekat ke depan wanita, memanyunkan bibirnya sambil menutup mata, membuat mata Zellin melotot sempurna dengan hitungan detik centong nasi mendarat sempurna di kepala Bima.


Tuukk.


" Aaww!!" Pekik Bima, mengusap kepalanya yang susah kena getokan dari wanita yang duduk di hadapannya.


" Sakit Lin!!" Seru Bima kembali duduk sempurna di meja makan.


" Kamu ini!! Masih pagi sudah membuatku sebal saja." Gerutu Zellin. " Sakit!" Tanyanya, merasa bersalah karena sudah memukul kepala Bima dengan Centong.


" Sedikit." Jawab Bima, melihat wajah Zellin yang merasa bersalah. " Tapi, sakitnya akan hilang kalau!!" mencondongkan tubuhnya. " Kalau aku sudah mencium pipi kamu." Ujarnya lagi, dengan sekejab bibir itu mendarat sempurna di pipi mulus Zellin dengan Zellin membulatkan matanya sempurna.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2