
Menaruh rahapan padanya, adalah seni terbaik untuk menderita.
.
.
.
.
Termenung di tengah malam dengan rintihan air hujan yang membasahi bumi. Dengan dia meratapi nasibnya yang telah membuatnya sangat takut dan kecewa.
Takut akan apa yang orang tau jika dirinya berbadan dua tanpa suami dan masih berstatus pelajar. Dan kecewa, kala dirinya tidak bisa menghubungi Kevin di saat ia sedang membutuhkan pertanggung jawaban.
Ya, selama dia berada di singapure Mawar tidak pernah mendapatkan kabar lagi tentang Kevin.
Dengan Kevin yang berjanji akan menghubunginya, tapi nyatanya. Semua itu adalah janji palsu yang di ungkapkan dari bibir manis Kevin.
Tidak pernah menghubungi ataupun memberikan kabar lewat orang kepercayaannya. Dia benar-benar menghilang, bagai di telan bumi tanpa kabar sedikit pun.
Sungguh ia tidak tau harus berbuat apa sekarang, dengan janin kecil yang masih ada di dalam perut ratanya.
Semua itu karena kesalahannya. Kesalahan fatal yang harus dirinya terima akibatnya sekarang.
Tinggal tiga bulan lagi ia akan menerima kelulusan sekolah. Jika dirinya lulus, atau mungkin dirinya akan mengulang kembali sekolahnya karena tidak fokus dalam ujiannya.
Mencoba menghubunginya sekali lagi. Dan tetap, hasilnya sama.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar area. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.
Mendesah tak percaya akan apa yang ia dengar berkali-kali dari operator panggilan nomor Kevin.
Mencoba membuka chat dengan terakhir di lihat tiga hari yang lalu. Dan itu berarti nomor Kevin masih aktif, tapi dia tidak pernah mengirim pesan atau menelpon padanya.
Apa dia melupakanku, atau dia begitu sibuk hingga tidak mengabariku." Gumam Mawar dalam hati, menatap foto yang masih sama dengan wajah jakung Kevin menatap senja di depan jendela apartemen.
Dimana dirinya memfotokan Kevin secara diam-diam saat mereka menikmati senja bersama dan memperlihatkan hasil jempretan pada Kevin.
dia begitu memuji hasil jepretan Mawar dan memintanya untuk foto bersama serta menyimpannya dalam galery dengan folder sendiri.
__ADS_1
Mengingat itu rasanya sesak, marah pada Kevin yang tidak hilang dan tak ada kabar sama sekali.
Menatap perut datarnya, seakan dirinya benci akan apa yang telah ia lakukan hingga membuatnya berbadan dua.
" Apa aku harus membunuhmu atau aku harus mempertahankan mu." Lirih Mawar pada perutnya.
" Kau tau, aku sendiri. Dan aku takut!" Ujarnya lagi, menundukkan kepala dan meneteskan air mata kala dirinya tidak tau harus berbuat apa.
Rasa marah, benci dan kecewa ada dalam dirinya. Serta merutuki kebodohannya, akan buaiyan dari Kevin yang mampu meluluhkannya dan percaya akan janjinya untuk bertanggung jawab.
" Mbak?" Sapa Angga, berada di tengah pintu sedang memperhatikannya.
" Angga?" Lirihnya, dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
" Apa mbak akan membunuhnya." Lirih Angga duduk di samping kakaknya, yang menundukkan kepala malu akan perbuatannya dan di ketahui oleh adiknya saat dirinya menangis dalam kamar mandi, membasahi tubuhnya hingga menggigil dan menjerit menyalahkan kehadiran malaikat kecil yang ada di dalam perutnya.
Ya, Mawar menceritakan semuanya pada Angga saat Angga menggedor pintu kamar mandi agar dirinya keluar, karena dja takut akan kehilangan kakaknya yang menangis dan memanggil-manggil ibu, bapak serta neneknya.
Sempat terkejut mendengar ucapan kakaknya yang hamil di luar nikah dan masih berstatus pelajar hingga dirinya berulang kali memukul perut ratanya. Dan di tahan olehnya saat ia sadar akan kakaknya yang mulai melemah dan pucat.
" Jangan membunuhnya mbak?" Ucap Angga. " Dia hadir saat kita tidak punya siapa-siapa lagi." Ujarnya lagi, dengan kenyataan yang pahit jika memang mereka sudah tidak mempunyai orang tua dan orang yang di sayanginya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
" Takut kenapa? Takut di hina para tetangga dan teman mbak di sekolah, kalau mbak itu hamil." Sahut cepat Angga, membuat Mawar terdiam.
" Apa mbak enggak takut dosa? Sudah berbuat Zina terus membunuh anak mbak sendiri!" Mulai marah akan apa yang di lakukan kakaknya.
Sudah berbuat zina, melakukan dosa besar, mencoba membunuh dengan cara menggugurkan janin di dalam perutnya, jika saja Angga tidak berbuat sesuatu untuk menenangkan kakaknya dan memberhentikan aksinya tadi.
Mencoba dewasa dengan dirinya yang masih terbilang anak remaja, sungguh ia pun harus selalu ada untuk kakaknya dan tidak ingin kehilangan keluarga satu-satunya di dunia ini.
" Kakak hanya mementingkan sendiri sekarang, tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan kakak dan jika Nenek masih ada. Mungkin Nenek akan kecewa dan pastinya akan tetap mempertahankannya walaupun tidak peduli tetangga akan menghina keluarganya." Ujarnya lagi.
Apa yang di katakan adiknya memang benar, sangat benar! Jika dirinya takut di hina dan mementingkan diri sendiri untuk menutupi kesalahan fatal yang ia lakukan tanpa tau resiko besar terlebih dulu. Berbuat zina, melakukan dosa, menjadi pembunuh, untuk menggugurkan janin yang ada di dalam perutnya.
Dirinya seperti wanita tak punya hati dan perasaan, jika melakukannya. Dan akan menjadi wanita yang jahat sedunia, membunuh janin yang tidak berdosa, hanya demi kepentingannya sendiri.
Menatap adiknya dengan dia yang ia miliki sekarang, dan dia yang tidak benci dengannya akan selalubada untuknya walaupun dirinya melakukan kesalahan.
" Kita akan lalauinya bersama mbak, aku akan lindungi mbak dan keponakanku." Ucap Angga dengan senyum hangat dan melupakan amarahnya dengan dia tidak ingin membuat kakaknya tertekan serta berbuat sesuatu yang tidak di inginkan.
__ADS_1
Membayangkan saja rasanya enggan, apalagi jika kenyataan dan akan membuatnya hidup sebatang kara atau mungkin akan menyusulnya agar dirinya tidak sendiri di dunia yang sangat kejam ini.
Memeluk adikknya yang sekarang sudah menjadi lelaki bersikap dewasa, tumbuh besar dengan kasih sayangnya. tinggi yang sekarang sama dengannya dan dia bisa memberikan perhatiannya pada dirinya serta melindunginya dengan setulus hati.
Dirinya masih bersyukur mempunyai Angga, keluarga satu-satunya dan dirinya tidak sendiri untuk melawan rasa takut akan dunia yang terbilang kejam ini.
Dan satu, ia akan menerima bantuan pada dokter Eni yang siap untuk membawanya pergi setelah ujian sekolahnya selesai.
Membawa semua kenangan indah dan melupakan kenangan pait yang tak ingin membuatnya mengingat kembali.
*****
Satu minggu berada di singapure membuatnya terasa lelah. Lelah pikiran dan perasaan yang di pendamnya lama.
Bergantian merawat papanya di rumah sakit serta mengurus perusahaan papanya untuk tetap stabil dan tidak ada oknum yang ingin menghancurkan perusahaan papanya.
Kecelakaan yang cukup parah, membuat papanya tidak sadarkan diri hingga beberapa hari.
Patah tulang di kaki hingga membuat papanya harus di operasi dan menanamkan pen di dalamnya.
Kecelakaan papanya, di akibatkan oleh kerabat papanya yang bersaing dengannya dan ingin melengserkan posisi serta menguasai perusahaan papanya.
Sungguh kejam kerabatnya yang ingin membunuh papanya hanya karena dia iri dengan keluarganya.
" Bagaimana perusahaan kamu di indonesia?" Tanya Papa Kevin, yang sudah mulai membaik meskipun dia belum sepenuhnya pulih.
" Lancar Pa?" Jawab Kevin, masih memperhatikan laptopnya memeriksa email yang di kirim asistennya.
" Papa akan mengalihkan perusahaan papa atas nama kamu dan adik kamu, papa ingin istirahat di rumah saja." Ucap papanya dengan melihat istrinya yang tersenyum hangat menerima suapan buah yang sudah di kupas.
" Biar suami Intan saja yang mengurus perusahaan di singapure pa, dan aku tetap ingin di tempatku." Tolaknya halus, karena memang ingin dirinya di sana, setengah hatinya sudah berada di sana dan di miliki orang lain yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya.
Walaupun dirinya salah tidak berkomunikasi sama sekali dengannya. Lantaran di sibukkan dengan kesembuhan papa, perusahaan serta memberikan pelajaran pada kerabatnya yang membuat papanya terluka.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃