
Kehilangan adalah hal yang sangat aku takutkan, dan mengiklaskan adalah hal yang terberat.
.
.
.
.
Menangis dalam pelukan, pelukan yang sama-sama kehilangan calon anak yang membuat mereka bisa menyatu dan mengikat cinta begitu dalam.
Kehilangan bukan keinginan dan kemauan mereka, tapi takdirlah yang sudah menentukan kapan dia akan di ambil dengan jalan dan cara yang berbeda. Dulu kehadirannya sangat tidak di inginkan bagi seorang gadis yang masih berstatus pelajar dan tidak di harapkan kala dia di tinggalkan oleh pria yang menghamilinya.
Tapi dengan dukungan dan pikiran yang dewasa ia mencoba mempertahankannya, mencoba menerima kehadiran janin yang ada diharimnya dan akan merawatnya dengan ikhlas meskipun Mawar tau akan banyak gunjingan dari semua orang.
Kehadiran janin dalam kandungannya membuat pria yang tidak pernah memberi kabar datang dengan tiba-tiba, dia datang dengan rasa bahagia kala mendengar kabar jika gadis yang di rebut mahkotanya hamil mengandung benihnya. Memang dia sengaja menaruh benihnya ke dalam rahim Mawar karena dia tidak ingin Mawar dimiliki orang lain.
Bahagia, senang dan terharu kala Kevin mau menerimanya, mau menikahinya dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kevin, pria yang sempurna, pria yang mapan dan pria yang kaya. Pria yang mencintainya dengan setulus hati, pria yang sudah memberinya warna juga kebahiagaan, dan pria yang melindungi keluarganya.
Menenangkannya dalam pelukan hangat, menenangkannya dengan sabar, menenangkannya dengan cinta dan sayang. Cinta, harus saling menguatkan dan juga memberikan ketenangan.
Melepas pelukan, mengusap air mata istri yang menetes setiap detik. dan mencium tangan yang masih bergetar.
" Maafkan aku?" Lirih Kevin, membuat Mawar menatapnya. Dan ini untuk pertama kali Mawar melihat jelas mata Kevin yang memerah, mata membengkak sama halnya dengan dirinya yang juga merasakan kehilangan hal yang sangat berharga dan sangat mereka cintai.
__ADS_1
Dia pria yang gagah tangguh dan dingin. kini di hadapannya, Kevin pria yang rapuh, dan menangis akan kepergian calon anaknya. Ternyata bukan dirinya saja yang kehilangan calon anaknya tapi juga suaminya yang turut kehilangan buah hati yang menyatukan mereka.
Mengusap air mata yang jatuh dari wajah suaminya untuk bisa saling memberi perhatian, prianya, suaminya dan pelindungnya saling menguatkan dan saling mengiklaskan untuk kepergian calon anak pertamanya.
" Aku minta maaf tidak bisa menjaga dia, aku minta maaf jika membuatnya jauh dari kamu." Lirih Mawar mengusap lembut pipi suaminya.
Menciun telapak tangan istrinya, menatap sendu wajah yang pucat dan mata yang membengkak.
" Semua ini bukan salah kamu, semua ini salah aku. Aku pria yang tidak becus menjaga dan melindungi istri serta anakku. Maafkan aku." Kata Kevin, menyalahkan diri sendiri, atas kejadian yang menimpa istrinya hingga membuat janin di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan.
Miris, kesalahan yang dirinya buat harus di pertanggung jawabkan oleh istri dan calon anaknya. Sungguh dirinya sangat menyesal telah melibatkan istrinya dan membuatnya harus kehilangan anak yang masih ada dalam kandungan.
Kenyataan, jika memang Kevin lebih parah darinya. Lebih parah dia yang sangat-sangat rapuh dengan semua ini.
Memeluk suaminya dan dia yang bergetar, menangis di dalam pelukan sang istri untuk pertama kali dirinya menunjukkannya pada Mawar. Bagaimana rasa kehilangan, sedih dan marah dengan dirinya sendiri.
memberikan sedikit ruang tempat tidur pasien untuk Kevin. Tidur memeluk Mawar menelenggamkan kepalanya di dada Mawar dengan Mawar yang mengusap kepala dan punggungnya hingga mereka mulai tertidur bersama, berasa lelah dengan pikiran dan hati yang sedih.
****
" Pulanglah nak?" Ucap pria paruhbaya duduk di bangku panjang di depan ruang ICU perawatan khusus pasien yang koma. Setelah di operasi Lisa di pindahkan ke ruang khusus untuk perawatan lebih lanjut setiap jamnya. Masih kritis dan dinyatakan koma entah sampai kapan Lisa akan membuka mata atau cukup sudah selamanya menutup mata kala semua obat tidak masuk ke dalam tubuhnya.
" Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Biar bapak dan ibu yang menjaga Lisa." Ujarnya lagi pada Fahmi yang terlihat wajahnya sudah letih.
" Enggak papa pak, biar saja juga ikut menunggu Lisa." Ucap Fahmi, seakan dirinya tidak mau pergi dari hadapan Lisa yang masih berbaring di dalam ruang pasien.
__ADS_1
" Bapak tidak melarang kamu untuk menjenguk Lisa kapan saja, atau menunggunya seharian bapak tidak akan melarang. Tapi sekarang pulanglah dulu, orang tua kamu pasti sudah mencari kamu dan seragam sekolah kamu." Lirih bapak Lisa memperhatikan seragam Fahmi yang sudah mengering dengan darah putrinya menempel di sana.
Sungguh sangat menyedihkan dan sangat membuatnya ingin menangis setiap melihat darah putrinya.
" Maaf pak?" Lirih Fahmi, merasa dirinya sudah membuat bapak Lisa sedih, melepeskan seragamnya dan menggantikannya dengan jaket hoody yang ada di dalam tasnya.
" Lisa putri bapak dan ibu satu-satunya, dia putri segalanya dan dia putri yang akan menemani kami hingga tua." Lirih bapak, tidak bisa membendung air matanya yang jatuh tanpa perintahnya.
Orang tua yang sangat rapuh dan sangat takut akan kehilangan buah hati yang selalu di jaganya dengan penuh kasih sayang dan cinta untuknya.
" Tujuh tahun kami baru mempunyai anak, di karuniai putri yang sangat cantik dan sangat mandiri. Setiap ada luka sedikit, ibu Lisa yang paling sedih dan setiap ada yang menyakiti Lisa, bapaklah orang yang akan memberi pelajaran pada orang yang menyakiti anak bapak." Menceritakan masa lalunya, dimana dulunya ia dan istrinya begitu sulit mempunyai anak dan bahagia dimana penantian selama tujuh tahun di berikan kepercayaan pada Tuhan menitipkan putri kecil padanya
Sangat bahagia dan selalu bersyukur Tuhan mempercayainya untuk menjaga bidadari kecil. Tapi kini, rasa khawatir, sedih kembali ada kala melihat tubuh putri semata wayangnya berada di ruang icu, berbaring lemah tak berdaya dengan banyaknya alat di tubuh dan hidungnya. untuk oksigen.
" Lisa gadis yang kuat, dia akan sembuh dan akan kembali bersama kita pak." Yakin Fahmi, menguatkan dan menyakinkan orang tua yang sedang bersedih dengan nasib anaknya yang akan di tentukan oleh Tuhan.
" Terima kasih nak Fahmi, terima kasih." Tulus bapak Lisa, mencoba tersenyum dan menepuk punggung Fahmi yang telah mengawatirkan putrinya dan juga membawanya tepat waktu walaupun secerca harapan terasa kecil.
Membalas senyuman pria yang sudah mulai mengeriput meskipun tubuh masih terlihat segar, tapi terlihat jelas rasa kesedihan teramat jelas di wajahnya.
" Tuhan, hanya satu pintaku untuk di setiap doaku. Aku ingin Lisa kembali." Gumam Fahmi dalam hati, meminta permohonan pada sang pencipta untuk menyembuhkan Lisa.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃