
Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya bersyukur bisa memiliki kamu dan dia, yang akan hadir menjadi pelengkap keluarga.
.
.
.
.
Maafin aku sayang, aku belum memberitahu orang tuaku jika aku sudah menikahi wanita dan membuatnya hamil seperti ini."
Aku janji akan membawa kamu pada orang tuaku dan memperkenalkan kamu pada keluarga besarku."
Jangan marah, tolong mengerti denganku! Aku mencintai kamu."
Masih jelas ucapan Kevin tiga hari yang lalu dimana ia akan pergi ke luar negeri selama beberapa hari untuk menyelesaikan masalahnya di sana.
Entah masalah apa yang membuat Kevin sangat tertekan dan tidak memberitahukan semuanya padanya.
Dirinya tidak pernah meminta Kevin untuk membawanya ke hadapan keluarga besarnya, tidak pernah memaksanya untuk menemui mertuanya yang tidak hadir dalan acara ijab khabul, tidak pernah sama sekali. Walaupun sebenarnya dirinya berharap bisa bertemu dengan ke dua orang tua Kevin untuk meminta restunya. Hanya itu saja, tidak lebih.
Mawar tau jika dirinya dan Kevin bagaikan langit dan bumi, bagaikan bintang yang sulit untuk ia gapai. Tapi itu semua sudah takdir dan akan tetap menjadi garis tangan yang sudah menentukan jalannya kehidupan.
Jalan dimana tidak semua orang akan menikah denga orang miskin sepertinya. tidak semua orang akan tetap pada garis kehidupannya, mereka bisa mengubah nasib kehidupannya, jika Tuhan memberikan jalan dan restu untuk ia melalui rintangan, tanpa harus mengeluh dan berhenti di pertengan jalan, yang akan menuju kebahagiaan.
Semua orang bisa hidup bahagai, bisa hidup dengan keinginan kita walaupun kita pernah melakukan kesalahan bukan!
Di tinggalkan Kevin untuk beberapa hari ke luar negeri membuatnya sedikit khawatir, tapi juga ada lega kala setiap hari Kevin selalu memberikan kabar padanya. Selalu menanyakan keadaannya, menanyakan buah hatinya dan selalu memberinya perhatian lewat vidio call serta canda tawa untuk mengisi kesepian.
Terlihat jelas di wajah Kevin yang lelah tapi masih bisa tersenyum dan tertawa di hadapannya.
Ia sangat merindukan suaminya, merindukan tidur bersama Kevin selama tiga hari lalu sebelum dia pergi ke luar negeri.
Rindu setiap malam dia selalu mengusap perutnya, rindu akan belaian tangannya yang mengusap kepalanya dan tidur terlelap di pelukannya. Serta ucapan penghantar tidur.
__ADS_1
Selamat malam sayang! aku mencintai kamu." Ucapnya mencium keningnya dan mendekapnya dengan hangat. Itulah yang sangat dia rindukan dan selalu dirinya dengar dari bibir Kevin.
Seakan dirinya begitu berharga dan sangat di cintai oleh pria yang pernah menyewanya menjadi kekasih bayarannya.
Dirinya tidak pernah kekukarangan apapun meskipun di tinggal oleh Kevin. Kevin menyuruh Asistennya untuk mencarikan pembantu agar Mawar tidak melakukan pekerjaan rumah. Cukup dirinya diam dan fokus pada sekolahnya yang akan menghadapai ujian kelulusan.
Pernah Kevin memintanya untuk tinggal di apartemennya, agar ia kesekolah tidak perlu lagi naik motor dan sopir kantornya akan mengantar jemputnya.
Mawar menolaknya, dirinya tetap memilih tinggal di rumah nenek bersama Angga dan akan pindah jika Kevin sudah kembali.
Dirinya bukan wanita yang manja, bukan wanita sombong. Dirinya hanya wanita sederhana tidak suka menunjukkan apa yang suaminya punya. ia akan naik motor, karena dirinya masih bisa untuk melakukannya sendiri, tapi jika kandungannya sudah besar ia siap untuk di antar kemanapun oleh sopir Kevin.
" Ar, nglamunin apa sih!!" Tegur Lisa, duduk di samping Mawar dan memberikan makanan ringan yang di beli di kantin.
" Makasih aunty!!" Seru Mawar mengambil pesanannya dan memakannya dengan tak bersemangat.
" Enggak mikirin apa-apa, Ini anak kangen sama pak bos." Ujarnya lagi, membuat Lisa menggelengkan kepala.
" Yang kangen anaknya atau ibunya." Cibir Lisa.
" Dua-duanya!" jawabnya membuat Lisa tertawa.
*****
" Sudah aku bilang, kalau aku tidak ingin di jodohkan." Ucap Kevin duduk sekeluarga di dalam ruang keluarga. Membicarakan hal yang sangat sensitif dan membuat siapa saja pasti akan marah jika berbicara dengan nada yang lebih tinggi.
" Tapi nenek sudah menjodohkan kamu." Kata Nenek.
" Tidak bisakah Nenek tidak mengurus hidupku ini, aku bukan anak kecil dan bukan pria yang tidak laku! Apa lagi di jodohkan seperti ini." Jawab Kevin dengan dingin.
" Kevin." Tegur Mama Kevin untuk bersikap tenang agar tidak terpancing emosi.
Menghembuskan nafas berat, mencoba menahan emosi kala dirinya harus pulang kembali ke kediaman rumah keluarga besarnya.
Dimana dirinya sekarang berhadapan langsung dengan wanita yang duduk di samping Neneknya. Wanita yang cantik, menundukkan kepala karena penolakan Kevin yang tidak ingin di jodohkan dengannya.
__ADS_1
" Mau tidak mau kamu harus menerima perjodohan ini dan harus menikah dengannya." Tegas Neneknya, masih memaksa Kevin untuk menikahi wanita di sampingnya.
" Maaf aku tidak bisa."
" Baik, jika kamu tidak mau. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali menginjakkan kaki kamu di sini lagi. Dan aku tidak akan memberikan sepersen pun harta papa kamu untuk kamu." Ancam Neneknya, membuat Kevin hanya bisa tersenyum sinis. Lagi-lagi di ancam seperti itu tidak akan terpengaruh olehnya.
" Kevin?" Sapa Mamanya, menatap sendu putranya dan menggelengkan kepala untuk tidak meninggalkan rumahnya, keluarganya.
" Kak?" Sapa Intan, adik Kevin yang terkejut akan ancaman Neneknya.
Sedangkan papanya hanya menatapnya tanpa mengucapkan apapun.
" Jangan pernah halangi aku untuk bertemu dengan keluargaku. Dan masalah warisan, aku tidak membutuhkannya." Tegas Kevin menatap tajam Neneknya, ibu dari papanya yang berbuat semaunya pada cucu, menantu dan anak-anaknya.
Papa Kevin, tidak bersuara sedikit pun. Tidak memarahi anaknya dan tidak pula membela ibunya. Yang memang di benarkan ucapan Putranya, jika ibunya adalah wanita yang egois, ingin menang sendiri, dan suka mengatur kehidupan anak-anaknya.
Melihat perlakuan ibunya, mengingatkannya pada kakaknya. Yang dulu hidupnya hancur karena ulah ibunya.
Ibu yang memaksa kakaknya menikah dengan wanita pilihannya, membuat hidupnya hancur saat tau pilihan ibunya yang ternyata hanya memanfaatkannya, mengambil semua hartanya, lari darinya bersama pria yang di cintainya.
Sungguh kejam wanita pilihan ibunya, membuat kakaknya depresi dan hampir bunuh diri. Usaha yang dia bangun di ambil alih istrinya dan lari darinya bersama pacarnya entah kemana.
Jika saja kakaknya tidak bertemu dengan wanita yang menolong dan menghadangnya yang berusaha lompat dari jembatan penyebrangan, mungkin kakaknya sampai sekarang tak akan ada di dunia ini.
Wanita yang menolongnya dari depresi kini hidup bersama menjadi istrinya, membangun usaha dari bawah bersama-sama dan sukses dengan hasil yang melimpah. Di karuniai dua putri yang cantik dan putra yang pemberani membela keluarganya.
Lebih memilih hidup sendiri dan sedikit menjaga jarak dari ibunya, saat ibu ingin kembali merusak keluarganya, merusak anak-anaknya yang selalu ingin di jodohkan dengan pilihannya.
Kini papa Kevin lebih membela putranya, melindungi anak-anaknya dan tak ingin anak-anaknya menjadi korban perjodohan ibunya.
.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃