
" Kalau wisuda bilang ya sayang, Mama akan datang." Pesan Mama mertua, mengantarnya di bandara pagi sekali bersama keluarga besar Kevin.
" Iya Ma? Mawar akan kabari mama nanti." Jawabnya dengan senyum, mendapatkan pelukan dan ciuman kasih sayang dari seorang ibu mertua sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri, menerima kehadirannya dengan senang hati.
" Hati-hati Mawar, kalau kak Kevin buat kamu nangis, bilang ya ke aku. Biar aku getok tu kepalanya." Kata Intan.
" Iya kak." Jawab Mawar. " Dah Arsya, Jangan nakal ya sama mama." Pamit Mawar, menciumi bocah gembuk di gendongan mamanya, tertawa gemas merasakan ciuman Mawar berkali-kali.
" Bikin yang banyak ya, biar Arsya ada temannya."
" Bikinnya berkali-kali, tapi cetakannya belum jadi, kalau jadi pasti lebih keren lagi dari tu anak kamu." Cibir Kevin, masih sebal akan semalam ponakannya tidur di kamarnya.
Mencoba pindah tempat lebih dekat dengan istrinya, membalikkan badan sang istri untuk menghadap dengannya tapi sang ponakan sudah merengek dan membuat istri sibuk kembali dengan ponakannya.
Hanya memeluknya dari belakang pun rasanya tak bisa lantaran Arsya seperti begitu mengerti dan tidak mau jika di bagi dua dengannya. lagi-lagi menangis dan memeluk Mawar dengan erat. Sungguh ia merasa gemas dan ingin mengembalikan putra adiknya itu ke kamar orang tuanya.
Ingin berduaan, bermesraan dan juga ingin menghangatkan ranjang saja rasanya tidak biasa sama sekali. Nasib, dirinya harus mengalah dengan anak kecil. Sudah merebut istrinya semalaman darinya.
" Mas!" Tegur Mawar lirih, melototkan mata melihat suaminya yang selalu saja berbicara soal ranjang tanpa rem di hadapan orang.
" Idih!! Ada yang marah tu." Sindir Intan, dan tertawa puas bisa mengerjai kakaknya dengan memanfaatkan keuntungan dari putra gimbulnya.
" Liat saja kamu dek, aku balas nanti." Gerutu Kevin, tidak terima dengan intan dan putranya.
" Silahkan, weekk!" Menjulurkan lidah menerima tantangan Kevin tersenyum puas dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, mengisyaratkan jika dirinya tidak takut dan akan mendapat dukungan dari suami serta perlindungannya.
Mencibik sebal, adiknya yang sudah menikah masih saja tetap seperti dulu. Selalu membuatnya geram jika di dekatnya dan ngangenin jika tidak bersamanya.
Ada rasa syukur dan senang melihat adiknya tersenyum, tertawa, dan bahagia dengan pilihannya sendiri. Pria yang bertanggung jawab, sayang pada adiknya, dan membuat adiknya bahagia selalu.
" Kalian ini sudah menikah, masih saja bertengkar. Gak pernah ada akur-akurnya kalau bersama. Coba kalau jauh, pasti selalu di cariin." Omel Mama Kevin, menggelengkan kepala melihat ke dua anaknya.
" Kakak dulu Ma yang mulai." Kata Intan, menyalahkan Kevin, hingga Kevin melototkan mata.
" Udah-udah, malu di lihat banyak orang." lerai Papa Kevin, antara pusing dan senang ke dua anaknya masih seerti dulu. Saling sayang walaupun sering bertengkar, dan ke duanya pun mulai diam mendapatkan teguran dari papanya. sedangkan pasangan mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adik kakak yang sudah berkumpul kembali seperti kakak-kanak.
__ADS_1
" Sebentar lagi pesawat akan leading, sudah sana masuk." Perintah Papa Kevin.
" Kevin pulang pa? Jaga diri papa baik-baik." Ucap Kevin memeluk sebentar papanya.
" Jaga dirimu dan istrimu juga." Ucap Papa Kevin, hanya mengangguk dan tersenyum.
Berpamitan pada keluarga, masuk ke dalam pemeriksaan dan tidak terlalu lama mereka masuk ke dalam pesawat.
***
" Lisa?" Sapa Mawar masuk ke dalam kelas dan melihat Lisa duduk di bangku bersamanya.
Terrsenyum senang, memeluk sahabatnya mulai masuk sekolah meskipun masih ada perban di kepala, dan tangan.
" Kamu kemarin kenapa enggak masuk, aku nyariin tau!!" Seru Lisa, selepas pelukan dari sahabatnya.
" Ah, kamu kemarin masuk. Maaf kemarin aku ke rumah mertua." Kata Mawar, dan membuat Lisa terkejut.
" Whatt rumah mertua!" Seru Lisa, mengangguk kepala serta tersenyum malu.
" Gimana-mana!" Tanya antusias Lisa, mulai penasaran, kepo dan juga turut senang mendengarnya.
" Aahh, selamat sayang!! Aku turut senang dan bahagia." Terharu Lisa memeluk Mawar dan melupakan rasa sakit di tangan yang masih di perban.
" Terus, kapan nich acara pengumumannya kalau sudah dapat restu." Goda Lisa.
" Nunggu kalau sudah lulus sekolah." Jawab Mawar.
" Tinggal hitungan bulan nich!" Sambil tertawar di ikuti Mawar yang mengangguk dan tertawa.
****
" Kenapa mendadak ingin ambil cuti!" Ketus Kevin, mendengar ucapan bima duduk di depannya sambil mengerutkan kening.
" Dua hari kemarin saya sudah bilang pak, kalau saya ingin ambil cuti sehari untuk urusan keluarga."
__ADS_1
" Urusan keluarga apa!" Masih meminta jawaban dan masih belum mau memberikan cuti pada Bima karena memang Bima yang di andalkan dalam kerjanya.
Mendesah, menatap sabar meskipun dalam hati ingin sekali Bima marah jika di intrograsi oleh bosnya berulang-ulang kali.
Tidak seperti dulu-dulu, jika dirinya ambil cuti, Kevin tidak pernah mempermasalahkan ataupun menanyakan sedetail seperti ini.
Dan setelah menikah, sungguh dua kali lipat Bima harus sabar dan sabar untuk menghadapi sikap bosnya yang suka memerintah semaunya dan suka kepo dengan urusan percintaan dirinya, entah dengan siapa. Serta yang terlebih parah dirinya harus berkorban juga untuk mencarikan Ngidamnya Mawar dulu yang sulit sekali di cari dan di temukan di saat tidak musim buah mangga di tengah malam hari.
" Urusan dengan keluarga calon istri pak."
" Kamu sudah punya calon istri."
" Sudah pak." Jawab Bima menganggungkan kepala.
" Oke, hanya sehari saja. Kalau sudah beres cepat pulang. Bawa kabar baik jangan buruk." Kata Kevin, membuat Bima tersenyum dan segera berdiri serta pergi dari hadapan bosnya sebelum Kevin mulai kepo kembali dan tidak ada henti menanyakan siapa calon istrinya.
Belum jadi pacar, sudah bilang calon istri!
Demi bisa ambil libur cuti, terpaksa harus berkata jujur meskipun Sebenarnya status mereka sama menggantung tanpa kepastian harus di bawa kemana.
Masih tetap berteman atau menjalin lebih yang serius.
" Tunggu sebentar Bim?" Cegah Kevin, saat menyadari asistennya sudah berada di depan pintu yang terbuka.
" Iya pak." Kata Bima, membalikkan badan berubah was-was jika sudah di panggil kembali. Takut akan di batalkan atau di undur cutinya.
" Jangan gugup jika ketemu sama calon mertua, jangan marah jika tidak mendapat restu dan jangan membawa kabur anak orang." Tutur Kevin pada asistennya, seperti memberi saran padanya yang sudah di anggap sebagai temannya sendiri selama Bima bekerja bersamanya.
" Siap pak." Kata Bima, tersenyum senang mendapat wejangan dari bosnya.
" Dan ini, kerjakan semua sebelum besok libur." Berubah menjadi masam dan lemas, kala Kevin memberikan setumpuk berkas untuknya. Yang membuat dirinya harus lembur hingga malam.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃