
Pojok belakang sekolah.
Suasana sangat sepi, tak ada orang yang akan kebelakang sekolah karena memang itu adalah gudang dan tempat para siswa siswi yang akan kabur lewat pintu belakang sekolah.
Duduk berdua, di lantai dengan mereka menatap dinding pembatas yang menjulang tak terlalu tinggi untuk bisa di naiki.
" Lis?" Panggil Fahmi lirih menatap Lisa yang juga mulai menatapnya.
" Kamu cantik." Puji Fahmi dengan tulus, hanya membalas senyum malu saat mendapatkan pujian dari cowok yang menyukainya.
" Besok aku akan berangkat." Lirih Fahmi, membuat Lisa kembali menatapnya.
" Besok?" Lirih Lisa. " Jam berapa." Menyembunyikan rasa sedikit terkejutnya kala Fahmi benar-benar akan berangkat, karenanya yang memaksanya untuk mengejar cita-citanya.
" Jam delapan pagi." Jawab Fahmi, hanya mengangguk untuk mengerti.
" Kamu mau mau mengantarkanku ke bandara?" Pinta Fahmi.
" Aku malu sama orang tua kamu." Kata Lisa.
" Jangan malu! Orang tuaku pasti senang, ada teman yang akan mengantarkanku pergi. Apa lagi teman itu kamu." Kata Fahmi, menyakinkan Lisa agar dia mau mengantarkannya kebandara, untuk melihat terakhir kalinya saat dirinya akan berpisah jauh dengan Lisa.
Masih diam, belum menjawab sama sekali. Jujur, Dirinya sangat menginginkannya untuk mengantarkan Fahmi pergi ke bandara. Tapi, rasa takut dan malu saat bertemu dengan orang tua Fahmi rasanya ia tak sanggup itu.
" Aku mohon." Pinta Fahmi dengan memelas, karena itu perpisahan terakhirnya dengan Lisa, dan akan lama bertemu kembali dengan secara langsung, jika dirinya tidak libur semester atau lulus kuliah pasti akan bisa pulang.
" Hmm, iya." Kata Lisa, dengan sedikit paksaan di hatinya. Ia rela untuk menahan malu dan takut bertemu dengan ke dua orang tua Fahmi agar dirinya bisa mengantar kepergian Fahmi.
" Jalan-jalan yuk." Ajak Fahmi dengan senyum saat Lisa mau untuk mengantarnya kebandara.
" Kamu enggak capek? Besok pagi kamu harus berangkat ke bandara." Kata Lisa. " Mending di rumah saja." Imbuhnya lagi.
" Kalau gitu Aku main ke rumah kamu, boleh." Kata Fahmi, Lisa pun mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
" Ayo?" Ajak Lisa, mulai berdiri dari duduknya, dan tangan mulai di genggam Fahmi saat Fahmi masih belum berdiri.
Mulai menjajarkannya, saling berhadapan dan memandang cukup lama.Hingga Fahmi memeluknya terlebih dulu, membuat Lisa terkejut.
" Maaf jika aku memeluk kamu." Bisik Fahmi di telinga Lisa dengan masih memeluknya. " Kita akan berpisah, kita akan jauh dan lama untuk bertemu Lis. Kamu tau, rasanya sulit sekali aku akan meninggalkanmu. Rasanya sulit aku pergi dan entah kapan akan kembali bertemu kamu lagi." Imbuhnya, menghirup nafas sebanyak-banyaknya sampai ia merasakan harum tubuh Lisa yang akan ia ingat untuk selamanya dan akan ia rindukan harumnya tubuh Lisa.
" Tolong jaga hati kamu untuk aku, sampai aku kembali dan akan mengucapkan cinta untuk kamu." Terang Fahmi, saat ia benar-benar serius pada Lisa dan rasanya ingin memiliki cinta Lisa meskipun rajak memisahkan mereka.
Tapi nyatanya, Lisa tak ingin terikat cinta jarak jauh dan tak mungkin bisa untuk mempercayai kesetiaan yang memisahkan mereka begitu lama.
Bukan tak mungkin, jika Fahmi atau dirinya akan setia. bukan tidak mungkin juga, suatu saat akan banyak godaan yang datang menghampiri mereka dan akan membuat mereka saling menyakiti.
" Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha menjaga hati ini untuk kamu." Lirih Lisa, membalas pelukan Fahmi dan seulas senyum merekah di bibir Fahmi. Karena Lisa, mau menjaga hatinya untuk dirinya, meskipun dia tidak mau berjanji padanya.
" Aku janji akan setia dengan kamu." Kata Fahmi.
" Hhmm, iya." Jawab Lisa, seakan dirinya ragu akan janji yang di buat Fahmi, dan sangat sulit untuk mempercayainya.
Ia wanita yang sangat sulit untuk percaya akan janji dan cinta dari pria siapapun. Ia wanita yang sulit untuk jatuh cinta, karena cinta akan mengubah kepribadiannya. Tapi, kini dirinya hanya sedikit yakin jika Fahmi memang mencintainya dan berharap bisa menempati janjinya hingga dirinya yakin dengan cinta Fahmi.
Hanya ciuman tanpa permainan dan melepaskannya kala Fahmi sudah puas dan berani mencuri ciuman pertama Lisa.
" Jaga ini untuk aku." Pinta Fahmi, menyentuh bibir Lisa. dimana Lisa masih terkejut akan perbuatan cowok yang ada di hadapannya. Mencuri ciuman pertamanya yang di jaga entah untuk siapa kelak. Dan ciuman itu di ambil oleh Fahmi tanpa persetujuannya.
" Lis?" Sapa Fahmi, melihat Lisa tak ada respon sama sekali, dan Dia tersadar saat Fahmi menyentuh pipinya.
" Maaf." Ucapnya, merasa bersalah karena sudah menyium bibir Lisa.
" Ayo pulang." Kata Lisa, tak ingin membahas apa yang baru saja membuatnya ingin sekali marah, tapi tidak bisa kala ia tidak tau harus berbuat apa dengan Fahmi.
" Kamu marah sama aku Lis?" Tanya Fahmi, memegang tangan Lisa untuk menahannya agar tidak pergi darinya, sebelum Lisa menjawabnya.
" Maaf Lis?" Lirihnya Lagi, Membuat Lisa menghembuskan nafas berat mencoba memendam amarahnya pada Fahmi.
__ADS_1
" Aku enggak marah, hanya terkejut saja mendapatkan ciuman dari cowok." Jawab Lisa, mencoba tersenyum paksa untuk menutupi kemarahannya.
" Apa ini ciuman pertama kamu." Tanya Fahmi.
" Iya." Jawabnya, membuat Fahmi semakin tersenyum dan senang mendapatkan ciuman pertama Lisa.
" Ayo pulang." Ajak Fahmi yang kini semakin semangat dan menggenggam tangan Lisa.
Lisa pun hanya mengikuti Fahmi, berjalan beriringan dan masih diam untuk tidak berbicara. Sangat sulit untuk menerima dan sangat sulit untuk tidak memikirkannya lagi.
" Ma?" Sapa Fahmi, melihat mamanya yang sedang berbicara dengan wali kelasnya. Dan Lisa pun melepaskan tangannya dari genggaman Fahmi.
" Dari mana saja kamu Fahmi?" Tanya Mama Fahmi.
" Dari Kantin sama teman." Jawab Fahmi.
" Cap jari dulu sana?" Perintah Mamanya dan Fahmi pun mengangguk.
" Tunggu sebentar Lis." Ucap Fahmi, Hanya mengangguk dan tersenyum. Dan Fahmi meninggalkan Lisa serta mamanya untuk ke dalam kelas menyelesaiakan ijasah sekolahnya.
" Kamu Lisa?" Tanya Mama Fahmi.
" Iya tante." Jawab Lisa dengan mengangguk tersenyum serta menyalimi Mama Fahmi yang di sambut hangat Mama Fahmi.
" Besok ikut ya Lis, antar Fahmi ke bandara." Pinta Mama Fahmi dengan senyum, karena Mama Fahmi pernah melihat Lisa di ponsel anaknya, yang di jadikan walpaper di ponselnya.
Cinta anak sekolah, yang membuat putranya begiti bucin dengan gadis di hadapannya. Putranya yang kini mau kuliah di luar negeri, itu semua berkat Lisa, karena gadis ini meyakinkan Fahmi untuk mengejar cita-cita, mengerjar impiannya dan juga untuk membahagiakan orang tuanya.
Sempat ke dua orang tua Fahmi marah besar karena putranya tak mau kuliah di luar negeri yang sudah di siapkan sebelum putranya lulus sekolah. Dan rasa terkejut saat mereka makan malam dalam diam, Fahmi mengutarakan semuanya jika dirinya siap dan mau kuliah ke luar negeri karena dukungan dari seseorang. Yaitu teman spesial di hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃