
Cinta itu! Butuh dua hati yang saling melenghapi dan menghargai.
.
.
.
.
Kembali ke indonesia di saat semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi pemaksaan perjodohan yang membuat dua orang akan saling bermusuhan jika di paksakan.
Menjemput istrinya di depan gerbang sekolah, kala ia sudah mengirim pesan pagi sekali. Menulisnya pada Mawar jika dirinya akan pulang dan menjemputnya sekolah.
Pesan yang sudah masuk di ponsel Mawar, sudah terbaca dan sudah di balas oleh istrinya membuatnya tersenyum.
" Hati-hati di jalan mas, love you." Tulis pesan Mawar.
Di jemput oleh asistennya dan menyuruh asistennya untuk ke kantor terlebih dulu dengan Bima yang harus terpaksa memakai taksi. Dimana mobilnya sudah melaju pesat di kendari oleh Kevin sendiri.
Sial, gerutu Bima dimana dirinya di tinggal sendiri oleh bosnya di bandara. Dan kembali ke kantor pun juga sendiri tanpa mengendarai mobilnya.
Cicilan mobil belum lunas, tapi yang mengendarai tidak mempedulikannya. Nasib mempunyai bos yang mau menang sendiri.
Berada di samping gerbang sekolah dengan Kevin turun dari mobil, menyandarkan pantatnya di mobil depan dengan kacamata hitam melekat di wajahnya sambil lengan kemeja di gulung sampai ke sikut. dan ke dua tangan yang mulai sibuk dengan ponselnya.
Dan para gadis yang melihatnya sudah pasti terpesona. Siapa yang tidak akan terpesona dengan gaya outfit Kevin, di tambah wajah yang tampan, tinggi dan badan yang sispack, pas dengan kemeje yang membentuk tubuhnya.
Menatap kagum ciptaan Tuhan dengan para gadis yang tidak bisa mengendalikan matanya untuk tidak menggoda pria yang sedang fokus dengan ponselnya.
" Dia ini kenapa tebar pesona banget sih!!" Gerutu Mawar melihat suaminya yang ada di depan sekolah, sambil menyandar pada mobil depan.
" Gila!! Lihat tu para gadis mulai caper." Kata Lisa, melihat teman dan adik kelas yang memperhatikan Kevin sambil tersenyum dan saling berbisik.
" Gila ya suami gue, perfect." Bangga dan sekaligus kesal melihat wanita menatap kagum.
" Idihh di puji sendiri!!" Cibik Lisa, mulai mual akan kebucinan sahabatnya.
" Habisnya gak ada yang tampan seperti dia!" Jawabnya tertawa, sambil berjalan meninggalkan Lisa.
" Masih ada!! tu pak jono ganteng."
__ADS_1
" Iya!! tapi di lihat dari sedotan." Teriak Mawar membuat Lisa tertawa, sungguh sahabat yang jujurnya keterlaluan saat hamil ucapannya seperti cabai, kecil tapi pedas.
Tidak mempedulikan adik kelas atau teman-temannya yang masih menatap Kevin. Berjalan melewati mereka hingga tepat di depan Kevin, Mawar berkacak pinggang.
" Sudah puas tebar pesonanya!!" Seru Mawar, dua tangan yang ada di pinggangnya. Mendengar kritikan itu membuat Kevin tersenyum dan melihat istrinya yang ada di depannya dengan wajah yang cemberut, tepat seperti anak remaja yang lupa akan statusnya sebagai istri dan calon ibu.
" Tebar pesona?" Ulangnya, melepas kacamata dan menaruh ponselnya di saku celana.
" Iya tebar pesona? Sampai-sampai semua wanita memujinya." Sindir Mawar.
" Masak sih!!" dan melihat gadis sekolah yang memang sedang memperhatikannya.
" Ngapain liatin mereka!! Mata jelalatan." gerutu Mawar, hingga Kevin kembali melihatnya dan tertawa saat di rasa Mawar cemburu.
" Cemburu ya?" Kata Kevin, mencolek dagu istrinya dan membuat Mawar melototkan mata.
" Tenang? Suami kamu ini setia kok, gak akan mendua." Ujarnya lagi, hingga semakin tajam pelototan mata Mawar.
" Berani mendua!! aku potong itu burung." Ketus Mawar, berjalan masuk terlebih dulu ke dalam mobil meninggalkan Kevin yang tercengang.
" Potong burung? Sadiss!! Gak bisa ea, ea nich." Gumam Kevin, bergedik ngeri membayangkan tangan Mawar membawa pisau dapur dan akan memotong burungnya.
Berbalik nematap Mawar yang sudah ada di dalam mobil dengan dia yang berubah galak menatapnya.
Atau ini yang namanya suami-suami takut istri. ketika kekasih sudah menjadi istri dan ratu di dalam hidupnya. Tidak berani berkutik jika sudah marah dan mengancamnya. Mengancam tidak mendapatkan jatah, dan mengusir dari kamar jika masih marah.
Sangat menakutkan!
Masuk ke dalam mobil, dengan Kevin mencoba tersenyum, mengacak rambut Mawar untuk menenangkan amarah istrinya.
" Pulang ke apartemen sebentar ya." Kata Kevin.
" Terserah." Ketu Mawar, dan ketika sudah mendengar kata yang malas sekali di dengar membuatnya melemas dan menghembuskan nafas berat.
Sungguh ancaman yang berbahaya!
Tidak lagi berani untuk berbicara pada istrinya, lebih baik diam daripada nanti Mawar menjawabnya dengan ketus dan semakin runyam urusannya nanti.
Baru pulang, ingin di sambut manja dan di pelukan istrinya, malah mendapatkan tekukan wajah dan ancaman.
Di dalam apartemen pun dirinya masih di diamkan, tidak mau berbicara padanya.
__ADS_1
" Ini apa?" Tanya Mawar, membongkar koper Kevin berniat untuk membereskan bajunya dan mendapatkan dua paberbag di dalam koper suaminya.
Dan tersenyum saat istrinya mau berbicara serta melihatnya membawa hadiah yang ingin di berikannya nanti, tapi sudah terlebih dulu Mawar melihatnya.
" Sini? " Perintah Kevin untuk duduk di sampingnya.
" Enggak mau." Tolak Mawar, masih marah dengan suaminya. Hingga dengan sedikit paksaan Kevin menarik tangan Mawar untuk duduk di pangkuan.
" Mas!" Pekik Mawar terkejut dengan perlakuan Kevin.
" Masih marah sama aku sayang?" Tanyanya. " Maaf." Imbuhnya lagi, sambil merengkuh pinggang ramping Mawar.
" Jangan tebar pesona lagi? Aku enggak suka." Lirih Mawar, membuat Kevin tidak bisa menahan senyum.
" Aku suka istriku cemburu seperti ini." Tangan yang mulai aktif menjalah ke balik baju istrinya, hingga mendapatkan pukulan dari sang pemilik tubuh.
" Jangan mulai dech!!" Serunya, dan tidak bisa menahan tawanya lagi. " Ini punya siapa?" Tanya Mawar lagi.
" Buka?" Perintah Kevin.
" Lepasin dulu?" Pinta Mawar agar dirinya terbebas dari pelukan suaminya.
" Enggak di sini saja." Tolak Kevin, membuat Mawar mengerucutkan bibir karena tangan Kevin sudah mulai kembali aktif mengusap punggungnya dari balik baju.
Membuka satu paberbag dengan dirinya masih berada di pangkuan Kevin, mengerutkan kening melihat kotak berudu berwarna biru dan membukanya dengan mata yang melebar saat melihat isinya.
Kevin yang sudah menyandarkan kepala di bahu Mawar sambil tangan yang masih aktif di balik baju istrinya. Mesungap lembut perut Mawar yang sedikit buncit menikmatinya dengan rasa senang serta hawa hangat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Damned!! Tak bisa lagi untuk di tahan. dimana dirinya sudah lama tidak menyentuh istrinya.
Satu minggu tidak bertemu masih bisa di tahan, tapi jika sudah bertemu begini, apa ya harus di tahan! Tidak.
Dirinya benar-benar tidak bisa menahannya, hingga suara serak Kevin mulai terucap.
" Aku enggak bisa nahan sayang! Nanti ya penjelasannya." Ucapnya, tanpa menunggu jawaban istrinya, ia pun langsung menidurkan Mawar di ranjang. Melakukan pergaulatan panas yang sudah membara, dengan lembut dan tenang.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃