
Semua akan baik-baik saja, percayalah. Karena aku akan salalu ada untuk kamu.
.
.
.
.
Mengendarai motor dengan emosi saat mengingat kembali ucapan neneknya yang mengatakan jika sertifikat rumah telah di ambil oleh bibi dan pamannya.
Dirinya tidak akan terima jika rumah satu-satunya milik neneknya di jual oleh bibik, karena itu rumah kenangan dan sangat berharga baginya.
Meskipun dirinya tau jika itu adalah hak warisan, tapi setidaknya bibik bisa mengalah untuk tidak menjualnya dan memberikan empati pada ibu serta keponakan yang yatim piatu dengan hidup tanpa bantuannya.
Jika rumah itu akan di jual, dirinya tidak akan mendapatkan uangnya sepersen pun. Bibik yang pelit dan gila harta serta sombong saat hidupnya lebih baik daripada dirinya.
Tidak akan mempedulikan Nenek serta keponakannya, karena dalam hidupnya dirinya hanya mementingkan keluarganya saja dan tidak ingin di ganggu oleh ponakan dan ibunya.
Rumah satu-satunya dan akan Mawar perjuangkan meskipun dirinya rela untuk bertengkar dengan bibiknya.
Berhenti tepat di depan rumah berlantai dua lebih bagus dari rumah Neneknya. Berjalan dengan wajah merah padam serta tangan yang mengepal siap untuk mengajak bibiknya bertengkar. tidak pedulikan jika dirinya masih bocah dan tidak ada santun pada yang lebih tua saat dirinya merasa tidak di hargai.
" Bibik!! Bik!! Buka pntunya!!" Teriak Mawar kencang sambil menggedor pintu dengan keras.
" Buka bik!!" Teriaknya sekali lagi saat pintu tak kunjung di buka.
" Dasar anak tidak sopan santun, datang teriak-teriak ke rumah. Ada apa hah!" Ucap bibik saat pintu sudah terbuka karena terganggu dengan teriakan serta gedoran pintu yang keras. Memperlihatkan Mawar yang menatapnya tajam serta wajah yang sudah merah padam.
" Buat apa aku harus menghormati bibik, jika bibik saja tidak pernah menghormati Nenek." Jawab Mawar, Membuat bibiknya mendesah tak percaya akan keberanian Mawar.
" Yang sopan ya dengan ibuku!" Tegur putri Bibik yang penasaran akan siapa yang berani menggedor pintunya dengan keras.
" Jangan ikut campur jika tidak tau permasalahnnya." Tegas Mawar, menatap tajam putri Bibiknya.
" Mau apa kamu ke sini?" Tanya bibik dingin.
" Kembalikan sertifikat rumah Nenek." Pinta Mawar.
" Rumah itu akan bibik jual dan akan bibik bagi dengan mu."
" Aku tidak percaya dan aku tidak mau rumah itu di jual." Tegas Mawar. " Kembalikan sertifikat rumah Nenek bik."
" Kamu tidak ada hak untuk mengatur bibik, itu hak bibik."
" Hak apa! Itu hak aku bik." Sahut cepat Mawar. " Belum puas bibik mengambil sawah di desa milik Nenek dan menjualnya! belum puas bibik menjual rumah nenek di desa dan menjualnya ha! belum puas bik!!" teriak Mawar yang mulai emosi mengingat di mana bibiknya mencuri sertifikat rumah dan sawah Nenek di desa, menjualnya tanpa membicarakan terlebih dulu pada Ibunya yang masih hidup.
Terkejut dengan ucapan Mawar, di mana keponakannya tau soal dirinya mencuri dan menjual sertifikat rumah serta sawah di desa milik ibunya.
" Aku tidak akan memberikannya pada mu, aku akan tetap menjualnya." Kekeh bibik tidak mau mengembalikan sertifikat rumah. " Dan sekarang kamu pergi dari sini!" Usir bibiknya.
__ADS_1
" Aku tidak akan pulang sebelum aku membawanya." Tegas Mawar, menyingkirkan bibik dan putrinya dengan sekali dorongan agar dirinya bisa masuk ke dalam rumah.
" Mawar!" Teriak bibik menarik tangan Mawar untuk keluar dari rumahnya di bantu dangan putrinya yang juga ikut menariknya.
" Lepasin!" pekik Mawar, melepaskan tangam yang di cengkram kuat oleh Bibik dan putrinya, dan mendorong bibik hingga terjatuh saat tangannya terlepas dari cengkraman putri bibiknya.
" Kurang ajar!" Hardik putri bibik tidak terima akan perlakuan Mawar mendorong ibunya.
Mawar yang sudah terlatih akan pertengkaran membuat putri bibik kualahan dan kalah hingga Mawar mendorongnya terjatuh di lantai begitu keras.
Saat akan berbalik menuju kamar bibiknya, ia pun di cengkram kuat oleh pamannya dari belakang dan membuatnya menatap tajam.
" Tidak akan aku biarkan kamu mengambil sertifikat itu!" Ucap paman, baru datang dan melihat putri serta istrinya duduk di lantai dengan meringis.
" Dan aku tidak akan membiarkan paman menjual rumah Nenek." Kata Mawar dengan membalas mata tajam pamannya.
" Keluar!!" Hardik paman dengan menggeret Mawar untuk keluar dari rumahnya, mencoba sebisa mungkin untuk lepas dari cengkraman paman yang menyakitkan dan masih ingin mengambil haknya.
Menuju pintu rumah, dengan Mawar yang di hempaskan oleh paman dan akan terjatuh itu pun dengan sigap tangan kekar menahannya.
" Mas Kevin?" Lirih Mawar mendongakkan kepalanya menatap siapa yang sudah menahannya untuk tidak terjatuh. Dan terkejut mendapatkan Kevin ada di hadapannya.
" Kamu tidak apa-ap-, " Belum sempat bertanya ia melihat lengan Mawar yang merah dengan jari yang membekas jelas di sana.
" Mbak Mawar?" Ucap Angga yang ikut dengan Kevin, menghampiri kakaknya dan memeluknya.
" Kamu siapa?" Kata Paman. " Jangan ikut campur dengan urusan kami." Ujarnya lagi.
" Calon suami!" Ulang bibik yang terkejut dengan ucapan Kevin.
" Iya." Tegas Kevin. " Tolong kembalikan sertifikat rumah Nenek." Pinta Kevin dengan baik
" Jika Aku tidak mau." Tolak Paman.
" Dan aku tidak akan memberikannya pada kamu, yang pastinya akan numpang tinggal di rumah ibuku." Tegas bibik, Mengira Kevin orang yang tidak mampu dan hanya ingin menumpang di rumah ibunya, karena melihat penampilan yang sederhana.
Lebih baik di jual daripada Mawar tinggal bersama pria yang mengaku calon suaminya. dan pastinya akan di ambil alih olehnya nanti.
" Berapa yang harus saya bayar untuk mengambil sertifikat itu."
" Mas?" Tegur Mawar terkejut dengan ucapan Kevin, hanya menatapnya dan mengangguk untuk mempercayakannya.
" Kamu tidak akan mampu! dari tampilan kamu saja seperti orang tidak mampu." Sindir Paman dengan senyum ejek. Mendengar ucapan Kevin yang ingin membayar sertifikat rumah di tangannya.
" Berapa." Tegas Kevin.
" Dua ratus juta." Ucap paman.
" Dua ratus juta!" Ulang Kevin. " Jika di bagi berdua dengan Mawar itu berarti seratus juta."
" Tidak bisa, dan aku tidak akan membaginya." Kata Paman, membuat Kevin tersenyum.
__ADS_1
" Serakah!" Cibir Kevin tersenyum ejek menatap Paman Mawar, Membuat Mawar menatap tajam Kevin.
" Bilang saja kamu tidak mampu membayarnya, sok-sokan tanya tapi menciut saat mendengar nominalnya." Kata Bibik.
" Oke, akan saya bayar. Tunggu sebentar." Tegasnya, mengambil ponsel di dalam saku dan menelpon seseorang.
" Bawakan uang cast dua ratus juta sekarang juga. Aku tunggu setengah jam dari sekarang, akan aku kirimkan alamatnya." Kata Kevin dan mematikan ponselnya setelah memerintahkan asistennya yang ia telpon.
Paman dan Bibik saling menatap dan tidak percaya akan apa yang ia dengar dari pria yang mengaku calon suaminya Mawar itu. Dan menatap Kevin dari atas hingga bawah.
" Mas?" Lirih Mawar.
" Tidak papa?" Jawab Kevin dengan tersenyum, menyentuh kepala Mawar dengan lembut.
Mengerutkan kening melihat mobil hitam memasuki perkarangannya dan melihat tiga orang berjalan menuju ke arahnya yang sedang berdiri di teras rumah dan Kevin yang tidak di suruh masuk ke dalam rumah.
Kevin yang melihat kedatangan Bima dan dua pengawalnya itu menyunggingkan senyuman tipis melihat paman dan bibik Mawar merasa keheranan.
" Kau membawanya.
" Iya pak, saya membawanya sesuai dengan pak Kevin minta." Jawab Bima, menyerahkan tas berisi uang pada Kevin.
" Sertifikat rumah Nenek." Tanya Kevin pada Paman Mawar.
" Buk?" Perintah paman, hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah. Mengambil sertifikat yang di simpan dalam lemari kamarnya.
Masih memperhatikan lekat-lekat siapa orang yang ada di hadapannya dan melihat pria yang baru saja mengantarkan uang pada calon suami Mawar.
" Ini." Ucap paman, mengulurkan kertas hijau pada Kevin, menyuruh Bima untuk mengambilnya dan memeriksa semuanya.
" Benar pak." Ucap Bima.
" Dan ini uangnya." Menyerahkan uang pada paman.
Menerimanya dan terkejut meluhat uang banyak di dalam tasnya bersama bibik yang membulatkan mata.
" Pak, apa saya perlu memecat karyawan kita? Tanya Bima, membuat paman dan bibik mengerutkan kening, sedangkan yang di belakang membulatkan mata terkejut mendengar ucapannya
" Sebaiknya begitu, kalau perlu buat semua perusahaan menolaknya." Kata Kevin dengan tersenyum.
" Baik pak." Jawab Bima.
" Mbak Nita, silahlan besok ke hrd." Kata Bima, menatap putri bibik dengan tatapan dingin.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1