Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
mengantar kepergiannya


__ADS_3

" Kamu gakpapa sayang?" Tanya Kevin, begitu khawatir melihat istrinya yang pucat serta mual di pagi hari saat bangun tidur dan berlari cepat ke kamar mandi. membuat dirinya terperanjat dari tidurnya dan mengikuti istrinya ke kamar mandi, membantunya dengan memijat tengkuk leher istrinya.


" Sepertinya aku masuk angin mas?" Kata Mawar, dan duduk di tepi ranjang kala Kevin menuntunnya kembali ke tempat tidur selesai dari kamar mandi.


" Jangan kemana-mana, tetap di kamar." Larang Kevin, untuk tidak keluar kamar, membaringkan tubuh istrinya dan menyelimuti tubuhnya.


" Mas mau kemana?" Tanya Mawar.


" Mau buatin teh hangat sayang." Jawab Kevin, berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa agar segera membuatkan yang hangat untuk istrinya.


Mawar hanya tersenyum, dan memijat pelipisnya saat dirinya merasa pusing dan akan mual kembali. Sangat menyiksanya, jika dirinya sakit dan akan membuat suaminya kerepotan untuk menjaganya. Sungguh dirinya tak ingin sakit.


Memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata, menahan rasa mual dan pusing agar ia tak kembali ke kamar mandi.


" Kevin?" Sapa Mama Kevin, melihat anaknya yang sedang memasak air panas dengan penampilan baru bangun tidur.


" Ma?" Sapa balik Kevin.


" Buat apa?" Tanya Mama.


" Buat teh jahe Ma untuk Mawar." Jawab Kevin.


" Buat teh jahe!" Sambil mengerutkan kening melihat putranya cekatan membuat teh jahe untuk istrinya.


" Mawar masuk angin Ma? Bangun tidur langsung muntah. Sekarang wajahnya sedikit pucat." Terang Kevin, membuat Mamanya terkejut dan dengan cepat meninggalkan Kevin sendiri di dapur tanpa membantunya, untuk menemui menantunya yang sedang sakit.


Kevin yang melihat kepergian Mamanya hanya bisa menggelengkan kepala, sungguh mamanya sangat kejam dengan putranya sendiri karena tidak mau membantunya membuat teh jahe, atau berbasa basi menawarkan bantuan seperti ibu ibu yang lainnya.


Mamanya kini lebih perhatian dan sayang dengan Mawar, menantu yang sudah mencuri hati mamanya dan selalu Mawar yang di utamakannya, Menantu yang menggeser putranya sendiri.


Tapi, ada rasa bersyukur kedekatan mama dan istrinya membuatnya bisa tenang serta senang karena mamanya tidak jahat, seperti mertua pada umumnya. Yang hanya menganggap menantu, bukan anak.


Membuka pintu kamar dengan pelan, melihat menantunya meringkuk dan memejamkan mata. Perlahan Mama kevin menghampirinya duduk di sampingnya dan menempelkan tangannya ke kening Mawar.


" Mama?" Lirih Mawar, sedikit terkejut melihat Mama mertuanya datang dan memeriksa suhu tubuhnya.


" Kamu sakit nak?" Tanya Mama Kevin.


" Hanya pusing dan mual Ma?" Jawab Mawar, dan mulai duduk dari tidurnya. Dan benar kata putranya, jika Mawar sedikit pucat dan mata begitu sayu.

__ADS_1


Mendengar suara pintu terbuka, membuat Mama dan Mawar menatap pintu terbuka dan memperlihatkan Kevin yang membawa nampan berisi teh jahe.


" Di minum dulu sayang." ucap Kevin, memberikan segelas teh jahe untuk istrinya minum agar tidak terasa mual lagi.


" Makasih Mas." Ucap Mawar merasa malu karena sudah merepotkan suaminya dan terlihat oleh mertuanya.


" Vin, telpon dokter sekarang." Perintah Mama mertua.


" Enggak usah Ma, Mawar enggak papa. Hanya masuk angin saja." Tolak Mawar dengan halus, karena merasa sangat tak enak merepotkan mertua dan suaminya.


" Masalahnya ini bukan masuk angin biasa." Kata Mama Kevin, membuat sepasang suami istri menatapnya dengan bingung.


" Maksud Mama, istriku punya penyakit dalam." Cetus Kevin membuat Mawar dengan cepat melempar bantal ke arahnya.


" Aduh! Sayang." Pekik Kevin.


" Mas doain aku mati ya! Terus mau cari pengganti yang lain. Tega kamu Mas!" Desis Mawar, saat suaminya salah berbicara.


" Enggak gitu sayang!" Ucap Kevin mulai takut jika istrinya marah dan ngambek.


" Kamu ini kalau ngomong langsung cetus aja." Geram Mama pada Kevin, membuat Kevin hanya meringis dan diam saat dirinya di pojokkan oleh dua wanita kesayangannya.


" Maaf ma?" Ucap Kevin. " Maaf sayang?" Imbuhnya, beralih minta maaf pada istrinya.


" Telpon dokter sana cepat." Perintah Mama, hingga Kevin patuh dan melaksanakan yang di perintah ibu ratu. Masih marah dengannya karena sudah membuat menantunya menangis di pagi hari.


*****


Turun dari taksi dengan tergesa-gesa, menuju bandara untuk menemui cowok yang akaj terbang ke luar negeri, entah kapan akan kembali.


Begitu banyak panggilan dari cowok yang sudah menunggunya begitu lama dan menanti akan kehadirannya.


Mengangkat telponnya, menanyakan keberadaannya dan menghampirinya dengan lari begitu cepat menuju ruang tunggu.


" Fahmi!" Teriaknya saat ia melihat tubuh tegap itu memandangi ponsel dan mendongakkan kepala kala mendengar suara yang sedang ia tunggu akan kehadirannya. Orang tua Fahmi pun juga menatap gadis itu dengan senyum yang merekah dan bersyukur masih ada waktu untuk berjumpa.


Berjalan begitu cepat, dan tersenyum saat berada di hadapannya.


" Aku takut, jika kamu tidak datang." Kata Fahmi dengan senyum mengembang.

__ADS_1


" Aku sudah janji pada kamu untuk datang kan, tapi maaf aku terlambat." Kata Lisa, kala dirinya datang di waktu yang sangat singkat untuk bertemu dan saling memandang dengan senyum.


Bukan tidak mau datang, hanya saja semalaman dirinya tak bisa tidur dan bingung harus memberikan Fahmi apa sebagai kenang-kenangan agar dia bisa mengingatnya sepanjang waktu. Dan juga masih mengingat akan ciuman dari Fahmi.


" Ini?" Menyerahkan paberbag pada Fahmi. yang dirinya bawa dan mencarinya dengan sangat cepatm


" Apa?" Tanyanya begitu penasaran.


" Buka nanti saja, jika sudah sampai di sana?" Larang Lisa, saat Fahmi akan mencoba membuka hadiah darinya. Mungkin dirinya malu karena hadiahnya tak sebagus dan semahal yang di berikan oleh kerabat Fahmi atau orang tua Fahmi.


" Kuliah yang rajin ya, dan semangat." Kata Lisa menyemangati Fahmi.


" Kamu jaga diri, jangan keluyuran, jangan keluar malam, kuliah yang rajin dan semangat untuk buka usahanya." Kata Fahmi, membuat Lisa mengangguk tersenyum.


Ya, Lisa pernah bilang pada Fahmi jika dirinya akan memuka usaha kecil-kecilan di pingging jalan untuk biaya kuliahnya, agar tidak membebani keluarganya dan juga berusaha belajar dengan rajin agar mendapatkan beasiswa dari kampus yang di inginkan.


" Jangan pernah memutuskan kabar, setiap hari harus angkat telpon dari aku ya." Pinta Fahmi.


" Iya, bawel." Jawab Lisa, membuat Fahmi tertawa dan mulai mengacak rambutnya yang senang sekali mendengar gerutuan Lisa dan juga cemberutnya gadis yang di cintainya.


" Love you too." Kata Lisa, Dan ucapan Lisa membuat Fahmi terkejut, untuk pertama kalinya Lisa menjawab cintanya yang sering kali ia ucapkan saat bertemu dengannya.


" Apa?" Tanya Fahmi, seakan belum puas akan ucapan Lisa.


" Fahmi?" Panggil Papa Fahmi, menyentuh jam tangannya sebagai tanda jika waktunya akan berangkat.


" Cepat sana pergi! pesawatnya sudah nungguin itu." Perintah Lisa.


" Ulangi sekali lagi." Pinta Fahmi.


" Tunggu kamu kalau kamu udah kembali, akan aku siarkan ulang lagi." Jawab Lisa, sambil melihat ke dua orang tua Fahmi yang masih menunggu putranya. " Cepetan sana!" Perintahnya lagi, mencoba mendorong Fahmi untuk segera pergi.


" Aku cinta kamu Lisa." Kata Fahmi. " Dan aku tunggu jawaban itu lagi." Imbuhnya dengan senyum, membuat Lisa mengangguk dan ikut senyum serta melambaikan tangan saat Fahmi mulai menjauh dan masih menatapnya.


" Aku akan menunggu kamu, Fahmi." ucapnya dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2