
Perjalanan masihlah jauh, janganlah tinggi angan jika tak ingin jatuh ke dalam jurang yang dalam.
.
.
.
.
Mencari tempat stans untuk membuka usaha berdua dengan sahabatnya. Menemukan tempat yang strategis di ujung depan mini market berlambang lebah yang tertulis alpamart.
Tempat yang ramai dengan banyak orang yang masuk untuk membeli keperluan sehari-hari. Meminta ijin pada karyawan alpa untuk membuka usaha di depan tempatnya.
Mendapatkan sewa dan menyetujui harga sewa perbulan dari pihak alpa, membayar harga sewa sebelum ada yang mendahuluinya mengambil lapak yang ia inginkan.
Duduk sebentar di depan alpa sambil mencoba mencari gerobak atau booth container di dalam aplikasi online, sambil menulis bahan yang akan di butuhkan dalam membuka usaha.
" Sudah di daftar semua Ar?" Tanya Lisa, melihat Mawar yang khusuk dalam menulis daftar di dalam buku.
" Sudah dan kita tinggal membelinya saja. Kamu sudah mendapatkan standnya." Tanya balik Mawar.
" Bagus yang mana, pakai kayu atau Container seperti ini." Menunjukkan hasil penelusuran di lapak aplikasi online.
Melihat perbandingan antara kayu dan container.
" Kayaknya yang ini bagus." Melihatkan container warna kuning. " Gak kepanasan, bisa menyimpan tempat yang banyak dan bisa buat kita istirahat di bawah." Ujarnya lagi, membuat Lisa mengangguk setuju dengan sepemikirannya.
" Tapi, harganya mahal. " Ucap Lisa, menghembuskan nafas berat melihat harga yang begitu mahal.
" Tabunganku tinggal sepuluh juta, masih ada sisa kan!" Kata Mawar.
" Sisa tiga juta." Jawab Lisa. " Dan aku juga punya tiga juta di tabunganku. Cukup untuk kita beli peralatan dan bahannya. " Ujarnya lagi dengan senyum.
Membalas senyuman Lisa, berterima kasih padanya karena mau membuka usaha bersama dan memulainya dari bawah. Sahabat yang saling mendukung dan sukses bersama.
Memutuskan untuk pulang dan melanjutkan esok hari saat jam sudah menunjukkan angka tiga sore, di mana sebentar lagi Kevin akan pulang dan dirinya belum membersihkan rumah serta memasak untuk bosnya.
__ADS_1
Dirinya juga tidak ijin jika telat bekerja, jika tau apa yang di lakukannya pasti Kevin akan marah padanya. Karena menelantarkan tanggung jawab pekerjaannya di rumah, bisa-bisa dirinya di pecat dan harus mengembalikan uangnya.
Dirinya tidak mau itu terjadi, karena ia masih membutuhkan pekerjaan dari Kevin agar ia bisa mengembangkan usahanya. Di bantu oleh Lisa untuk menjadi penjaga stand pertamanya.
Menembus jalanan dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa mobil yang mungkin akan membuat si pengemudi marah dan mencaci makinya karena memotong jalan dengan salah.
Bukan dirinya arogan dalam berkendara, tapi situasi yang sangat membahayakan pekerjaannya dan akan mendapatkan pemecatan secara tidak profesional atau akan mendapatkan amukan singa yang sangat menakutkan
Tiga puluh menit dalam berkendara. Memarkirkan motor dan berlari cepat menuju apartemen Kevin, masih ada sedikit waktu untuk dirinya membersihkan rumah dan tidak mungkin dia pulang terlalu sore. Karena selama ini Kevin selalu pulang malam.
Masuk ke dalam rumah, bersyukur tebakannya benar jika Kevin belum pulang, ia pun berjalan menuju dapur dan memulai untuk memasak terlebih dulu.
Ketika dirinya sedang mencuci beras, berbalik ke belakang dan membulatkan mata melihat Kevin yang ada di belakangnya.
" Ba .. ru datang mas?" Basi Mawar, mencoba senyum walau sebenarnya takut, melihat Kevin yang berpakaian santai.
" Dari tadi, kamu dari mana?" Tanya balik Kevin. Sialnya Mawar baru teringat, jika ini adalah hari sabtu yang biasanya orang kantor pulang lebih awal. Terutama Kevin, yang bisa pulang kapanpun ia mau atau bisa dia bekerja di rumah.
" Ada urusan sama teman, maaf telat masuk kerja dan enggak ngabari dulu." Jawab Mawar, sambil berjalan menuju ke penanak nasi. Mencoba menghindar dari tatapan horornya.
" Tidak usah masak!" Larang Kevin merasa kasihan melihat Mawar, membuat Mawar berhenti dan berbalik menatapnya.
" Kenapa?" Dengan kening mengerut.
" Aku ingin makan di luar, ayo temani aku?" Ajaknya.
" Aku enggak mau." Tolak Mawar. " Aku lupa enggak bawa baju ganti." Ujarnya lagi saat mendapatkan picingan mata dari Kevin.
" Udah enggak usah masak, ayo?" Perintahnya lagi tanpa mau di bantah, menarik tangan Mawar untuk mengikutinya.
Sedikit terkejut akan paksaan Kevin, ia pun juga tidak berani untuk memberontak ataupun menolaknya lagi dan dirinya hanya bisa pasrah mengikuti langkah Kevin.
Masuk ke dalam mobil, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelokkan arah menuju toko baju terdekat.
Menyuruh Mawar untuk memilih baju yang mana untuk dia kenakan sebelum ia dan Mawar memulai untuk berkencan.
Kencan!
__ADS_1
Ah!! Romantisnya. Itu berarti Kevin bergerak dengan cepat untuk bisa mendapatkan hati dan memiliki Mawar.
Memilih pakaian yang simpel untuk ia kenakan dan memakai warna yang sama seperti Kevin.
Memang kebetulan atau memang di sengaja, tapi mereka memanglah sangat serasi dan cocok sebagai sebagai pesangan kekasih.
Mengelilingi jalanan di malam hari, membelah kemacetan di malam minggu ke dua mereka berkencan.
Anggap saja kencan pertama sudah mereka lakukan di tempat tongkrongan jalanan, mengendarai motor saling berpegangan tangan. Walaupun ada pengganggu datang, tapi tak membuat suasana romantisnya hancur.
Kencan ke dua, mengendari mobil dalam diam seperti canggung untuk berbicara. Memasuki kawasan parkir mall, memilih kencan ke dua yang di bilang elit.
Berjalan beriringan, dengan Kevin yang memulai terlebih dulu meraih tangan Mawar tanpa menatap sang pemilik tangan yang tersentak kecil apa yang di lakukannya. Menggenggamnya, menyatukan jari-jari yang kosong untuk memenuhinya dan tersenyum tanpa melihatnya. Cuek, tapi romantis!
Memasuki mall, dengan mereka yang memulai mengobrol. Memilih bioskop untuk pertama kali mereka berkencan.
Film fantasi yang sedang di tunggu-tunggu pada penggemar dari ke yang pertama sampai yang ke tujuh.
duduk di barisan ke lima dan memilih di kursi tengah, Membeli cemilan pop cron dan air mineral satu botol, entahlah kenapa. Memang sengaja membeli satu atau memang pelit. Pikir Mawar!
Menikmati film sambil memakan cemilan, tidak mempedulikan orang yang berteriak atau berseru heboh saat melihat adegan kiss.
Mawar yang ingin melihat adegan Kiss pun tidak bisa, lantaran Kevin menutup matanya dengan tangannya. dan itu membuat dirinya menggerutu.
" Masih kecil belum cukup umur!"
Ingin rasanya, ia memprotes ucapan Kevin yang mengatakannya anak kecil. Tapi dirinya malas sekali berdebat, apa lagi banyak orang yang melihat dirinya dan Kevin.
Hanya mengerucutkan bibir dan kembali lagi untuk melihat filmnya hingga selesai, meskipun ada gangguan sedikit dari Kevin yang selalu menutupi matanya kala ada adegan orang dewasanya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1