Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
sebenarnya


__ADS_3

Ujian sekolah, semua siswa siswi begitu tegang, gugup dan takut. Karena duduk sendiri, beracak-acak dan ada dua guru mengawasinya saat pelajaran pertama tiba.


Tidak ada contekan dan tidak ada yang berani menengak nengok kanan kiri untuk meminta jawaban soal kertas yang begitu banyak pertanyaan untuk di jawab dengan benar, agar bisa mendapatkan nilai maksimal dan lulus dari sekolah.


Sungguh itu akan menguras otak, pikiran keras, takut jika salah dan takut jika tidak akan lulus. Pastinya akan memalukan, dan akan bergabung kembali dengan adik kelas jika tidak lulus dalam ujian.


Sunyi dan tidak ada satu suara pun di kelas, mulai fokus dengan kertas soal pelajaran dan mulai memberikan jawaban yang terbaik. Tidak mempedulikan guru pengawas dari sekolah lain yang sedang mondar-mandir untuk melihat semua siswa siswi yang sedang mengerjakan soal.


sembilan puluh menit untuk berfikir keras dan mulai mengumpulkan soal, dimana suara bel kelas sudah terdengar. Pelajaran ke dua pun juga sama hingga bel pun mulai berbunyi kembali dengan tanda waktu istirahat sebentar saja.


" Gimana?" Tanya Fahmi, duduk di antara dua wanita, sedang menikmati minuman dingin untuk mengurangi rasa haus.


" Susah!!" Keluh Lisa, menghembuskan nafas panjang saat otaknya harus lebih berfikir keras.


" Sama." Imbuh Mawar, yang juga lesu lantaran otaknya sama seperti Lisa.


" Tapi kalian bisa kan! Enggak jawab asal-asalan." Kata Fahmi.


" Ya enggak lah, kalau jawab asal bisa-bisa enggak lulus aku nanti Fahm!!" Seru Lisa, membuat Fahmi tertawa kecil.


" Aku gak sabar pengen cepet lulus."


" Mau nerusin kuliah Lis." Tanya Mawar.


" Hmm, iya." Jawab Lisa mengangguk. " Kamu gimana Ar?" Tanyanya kembali.


" Belum kepikiran sampai situ." Jawab Mawar. " Masih fokus dulu sama yang di rumah." Ujarnya lagi, pleaning belum menginginkan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi saat ia sudah menjadi ibu rumah tangga dan pastinya akan lebih sulit membagi waktunya dengan suami saat mereka sama-sama sibuk.


" Lupa, kalau temanku ini sudah punya suami, mangkanya enggak jadi minat lagi kuliah."


" Enggak gitu juga kali!!" Seru Mawar, mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


" Kalau suamimu ngizinin, enggak papa juga kan kuliah. Masa depan masih panjang!" Kata Bima, dan di anggukkan Lisa.


" Hmm, coba nanti aku ngomongin dulu sama mas Kevin." Jawabnya, memang belum membicarakan pada suaminya.


" Kamu gimana Fahm." Tanya Mawar.


" Sama kayak nih bocah, mau kuliah."


" Kuliah apa kuliah!" Goda Mawar, tau sudah jika Fahmi mencoba mendekati Lisa. Kala Fahmi sudah tidak lagi ada rasa dengan Mawar, dan pertemanan akan selalu ada di antara mereka berdua. Tidak ada kata cinta lagi untuk Mawar, hanya ada rasa teman dan batasan untuk mereka berdua kala Mawar sudah berganti status istri orang.


Merasa bersyukur, Fahmi tidak membenci dan memusuhinya saat ia sudah beberapa kali menghindar darinya kala ingin mengucapkan cinta untuknya.


Lisa pun juga tau akan Fahmi yang mencintai Mawar dan tau bagaimana Fahmi merasa galau dulu saat Mawar sudah memiliki kekasih. Dan begitu kecewa saat Mawar hamil di luar nikah. Dan rasa kecewa pasti akan hilang seiringnya waktu dimana ia sudah melihat Mawar bahagia dengan kekasih yang bertanggung jawab padanya dan membuat Mawar tidak sengsara seperti dulu.


Kini giliran Fahmi untuk mencoba kembali menjutkan asmaranya, yang entah akan berlabuh pada Lisa atau pada seseorang di kemudian hari.


Hanya berharap, semoga Fahmi dan Lisa bisa bahagia sama seperti dirinya meskipun mereka bersama atau tidak.


" Bagaimana?" Tanya Kevin, melihat tingkah Bima selama ini tak ada yang berubah. Sama seperti dulu belum mempunyai kekasih atau tidak. Datar, cuek dan biasa saja.


" Bagaimana apanya pak?" Tanya balik Bima, mengerutkan kening tidak mengerti maksud Bosnya.


" Lamaran kamu di terima gak." Tanya Kevin.


Malas sekali untuk membahas hal yang ingin dia lupakan dan tak ingin di ingat saat kembali ada yang bertanya tentang hubungannya dengan wanita yang sudah memenuhi hatinya.


Diam seribu bahasa, membuat Kevin menatap asistennya begitu dalam dan bibir tak melengkung sempurna tau apa yang terjadi di antara Bima dan kekasihnya.


" Enggak di restui?" Tebak Kevin, hingga Bima sedikit terkejut dengan tebakan Kevin.


" Iya." Jawab Bima.

__ADS_1


" Karena bekerja sebagai asisten? Bukan pengusaha?" Tebaknya lagi, Dan hanya bisa menghembuskan nafas berat serta mengangguk.


" Ciihh masih enggak mau nunjukin sebenarnya siapa!" Sindir Kevin, bingung dengan tingkah asistennya yang lebih suka di hina dan tak mau menunjukkan dirinya siapa. Entah kenapa!


" kenapa?" Tanya, begitu penasaran sekali dengan asistennya yang lebih penutup dari dirinya, yang lebih suka terbuka jika ada masalah dan berbagi dengan asistennya saja. Karena Bima orang yang sangat bisa di percaya akan ucapan dan janjinya.


" Simpel saja, hanya butuh cacian dan hinaan untuk siapkan mental yang lebih. Mereka akan tau sendiri nanti pak, dan pastinya bukan dari diriku." sedikit menunduk dan tersenyum samar, masih bisa menahan diri untuknya di hina dan di caci oleh siapa pun, asalkan tak akan mengusik kehidupannya dengan tenang dan damai bagi dirinya.


Meskipun ada rasa kesepian kembali menyelimuti dirinya saat ini. Menjaga jarak untuk tak terlihat, walaupun pada akhirnya mereka tak akan lagi saling menanyakan kabar meskipun jarak membentang. Dan mungkin akan di pertemukan kembali dengan mereka yang berbeda.


" Sudah seharusnya aku mencari asisten baru, memilih bersaing atau bekerja sama." Ucap Kevin dengan senyum bangga memperlihatkan ketulusan dirinya dengan asistennya yang lama mengabdi dengannya. tidak ada rahasia lagi di antara bos dan asisten, karena waktu begitu banyak untuk mereka bersama dalam bekerja.


" Kau memecatku!" Respon di buat sedikit terkejut dan tersenyum menatap bosnya.


" Memilih memundurkan diri atau aku pecat. Jika aku memecat kau pasti akan heboh seluruh karyawanku." Mendesah tak percaya, jika asistennya juga begitu terpopuler di kantornya.


" Terserah kau saja." Pasrah Bima, sudah tidak ada lagi yang bisa di buat alasan kembali untuk tetap bertahan menjadi seorang asisten.


" Masih saja mau jadi bawahanku!" Cibir Kevin, membuat Bima menajamkan mata dan mendesah.


" Tidak ada yang betah jadi asisten kau. Bos, yang menyebalkan dan membosankan." Cibir balik Bima, dan mendapatkan lemparan bulpoin mengarah ke wajahnya dan tepat di tangkap oleh Bima tanpa mengenai wajahnya.


" Aku akui kau yang lama dan setia denganku." Ucapnya dengan senyum. " Heran, pura-pura senyum di luar tapi di dalam sangat dingin." menggelengkan kepala, sudah tau sifat asli buruknya Bima.


" Memanipulasi musuh untuk pura-pura lugu dan akan Dor!! Jika tau aslinya." Ujar Kevin lagi dengan tertawa keras hingga Bima pun juga ikut tertawa kecil, menundukkan kepala dan heran juga dengan sisi sifat aslinya.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2