
Karena kesetian akan di uji, saat aku dan kamu sudah menjadi kita.
.
.
.
.
" Lagi apa?" Tanya Kevin, menatap layar ponsel yang penuh dengan wajah manis dari istrinya. Sedang tersenyum menatapnya dengan dia yang duduk di ruang tamu.
" Lagi baca buku, Mas lagi apa?" Tanya balik di sebrang sana sambil memperlihatkan buku pelajaran yang esok pagi akan memulai ujian.
" Lagi mikirin kamu?" Jawab Kevin, membuat di sebrang sana berdecak di gombalin suaminya hingga tidak bisa lagi untuk menahan senyumannya.
" Gombal!" Serunya. " Dek papa kamu gombalin mama nich." Ujarnya mengusap perutnya memperlihatkannya pada Kevin, membuat Kevin tertawa.
" Kangen!" Ucapnya.
" Kalau kangen pulang." Cibir Mawar.
" Mau di bawain apa kalau suami kamu ini pulang nanti."
" Cukup di bawain cinta saja?" Jawab Mawar, dan dirinya lagi-lagi tertawa.
" Sejak kapan sih Dek!! Mama kamu ini belajar gombalin papa!" Ucap Kevin " Kan setiap hari sudah aku transfer cinta, masih kurang!" Sambil ngedipin satu mata pada Mawar.
" Kalau kurang, nunggu aku pulang ya, terus kita di kamar jangan keluar-keluar. Mulai pagi sampai pagi." Imbuhnya lagi, membuat Mawar melototkan mata mendengar ucapan Kevin.
" Astaga!! Apaan sih mas! Ih." Seru Mawar, Hingga Kevin kembali tertawa, melihat wajah istrinya yang seperti malu-malu kucing.
" Jangan ngomong yang aneh-aneh!! Masih ada aku ini di sini!!" Gerutu cowok remaja duduk di bawah sambil belajar bersama Mawar.
" Ada Angga?" Tanya Kevin.
" Iya? Mas sih!! Ngomongnya gak di saring dulu." Kata Mawar beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya saat ia malu dan tidak ingin adiknya mendengarkan ucapan tak senonoh dari suaminya.
" Ya kan mana aku tau sayang kalau ada Angga." Ucapnya, menggaruk kepala yang tak gatal sambil cengar-cengir tanpa dosa.
__ADS_1
Hanya berdecak dan mengerucutkan bibir menatap suaminya. " Mas sudah makan?"
" Sudah? Kamu sudah makan." Tanya Kevin
" Sudah mas." Jawabnya, mulai mengobrol apa saja kegiatan mereka, saling tertawa dan saling menggombal hingga begitu lama dan ponsel yang sudah sedikit memanas.
" Sudah malam, cepat tidur." Perintah Kevin, untuk mengakhiri obrolannya.
" Iya? Mas juga."
" Hmm iya, Love you." Ucap Kevin dengan senyum hangat.
" Love you too." Jawab Mawar membalas senyuman suaminya sebelum mereka mengakhiri vidio callnya.
Tidak ada yang lebih bahagia dan menenangkan saat ini, selain mengobrol dan tertawa bersama sang istri walaupun hanya lewat sambungan ponsel.
Sedikit melupakan ketegangan dan amarahnya kala ia sudah lega mendengar dan menatap istri yang di cintainya. Tidak ingin melibatkan Mawar dalam masalahnya, dirinya tidak mau istrinya memikirkan hal yang sangat berat saat ini, karena ia tidak mau istri dan calon bayinya terbebani hingga sakit.
Mengusap lembut foto istri yang membawa selembar foto usg dengan senyum mengembang. Foto empat dimensi yang jelas sudah menunjukkan janin di kandungan istrinya.
Ya, sebelum dirinya berangkat ke singapure Kevin menemani Mawar untuk ke dokter kandungan, memeriksakan janinnya dan mendengarkan suara detak jantung yang masih sangat pelan.
" Boleh mama masuk?" Ucap wanita dari balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat, membuat Kevin menengok ke samping menatap Mamanya yang tersenyum melihatnya.
" Masuk Ma?" Jawab Kevin berdiri dari duduk sofa menghadap jendela.
" Telpon sama siapa? Kok keliatan seneng begini?" Tanya Mama kevin, membuat Kevin sedikit terkejut Mamanya bertanya padanya.
" Siapa namanya? Sampai kamu enggak berhenti tertawa begitu? " Ujarnya lagi, menggoda putranya yang mulai tersenyum melihatnya.
" Apa aku boleh jujur sama mama?" Ucap Kevin.
" Hhmm, kalau kamu mau bilang sama mama." Ujarnya mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
" Mama percaya nggak kalau putra mama ini brengs*k."
" Percaya, dan sangat percaya." Jawabnya yakin karena memang putranya seorang pria play boy dan suka nyakitin wanita. Rasanya lelah sekali menuturi putranya yang sukanya bergonta-ganti wanita hingga mamanya juga terkadang sering menjadi sasaran mantan kekasih putranya. Meminta padanya untuk segera di nikahkan dengan Kevin, atau meminta tolong untuk Kevin tidak memutuskannya saat dirinya singgah ke apartemen putranya atau ke kantor putranya.
" Percaya gak kalau sebentar lagi mama punya cucu dari putra mama ini." Kata Kevin, membuat mamanya mengerutkan kening menatap dalan putranya.
__ADS_1
" Kamu menghamili wanita?" Tanya Mama Kevin dengan wajah serius.
" Jangan membuat wanita rusak, apa lagi menghamilinya. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab." Ujarnya lagi, memberikan peringatan pada putranya untuk tidak melakukan hal yang sangat menyakiti wanita.
Menundukkan kepala, seakan dirinya takut membuat mamanya kecewa dan marah akan perbuatannya yang menghamili gadis masih sekolah.
Merahasiakannya juga hal yang salah, tapi dirinya ingin Mawar lulus sekolah terlebih dulu dan ketika sudah lulus ia akan mengenalkannya pada ke dua orang tuanya, juga pada semua karyawannya ataupun seluruh orang yang mengenalkannya. Jika dirinya sudah mempunyai istri dan calon bayi.
Bukan malu mempunyai istri seperti Mawar, tapi dirinya takut jika ia memperkenalkan Mawar di saat dia hamil dengan posisi masih sekolah, itu akan membuat Mawar di hujat serta di keluarkan dari sekolahnya.
Melindungi Mawar serta calon bayinya agar tidak ada yang mencoba melukainya terutama mantan-mantan kekasihnya, atau dari Neneknya yang jika tau dirinya mempunyai pendamping hidup untuk selama-lamanya.
" Sudah malam, sebaiknya kamu tidur." Ucap mamanya mengusap lengan putranya dengan lembut dan senyum hangat.
" Iya Ma? Salamat malam." Jawabnya di balas dengan senyuman hangat juga.
" Selamat malam sayang." Ucap Mamanya, bangkit dari duduknya berjalan dan kembali membalikkan badan saat putranya menatap luar jendela.
" Kev?" Membuat Kevin melihat ke arahnya.
" Soal ucapan Nenek kamu! Papa kamu akan berusaha untuk membuat kamu mendapatkan hak kamu, meskipun Nenek kamu tidak terima akan keputusan Papa."
" Kalau soal itu Papa tidak perlu melakukannya Ma! Karena aku sudah mempunyai semuanya. Dan satu yang tidak aku terima dari Nenek, aku tidak suka jika Nenek menghalangi aku untuk bertemu dengan Mama dan Papa." Jawab Kevin marah akan ucapan Neneknya yang melarangnya untuk bertemu dengan keluarganya.
" Mama juga tidak mau Nenek melarang kamu untuk bertemu dengan Papa dan Mama. Karena kamu putra kebanggaan kami." Jawab Mama dengan senyum.
" Ma?" Lirih Kevin, kembali berbalik menatap putranya.
" Maaf jika suatu saat aku mengecewakan dan membuat Mama serta Papa marah dengan sikapku selama ini." Ucapnya. " Selamat malam Ma, Miss you Ma." Ujarnya lagi, menghampiri mamanya dan memeluknya.
" Miss you too sayang." Jawab Mamanya mengusap lembut punggung putranya saat ia merasakan sesuatu yang di sembunyikan putranya dan tidak ingin menceritakannya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1