
Kita memang tidak di takdirkan untuk bersama, tapi setidaknya kita bisa berteman.
.
.
.
.
Tidak terlalu terkejut mendengar ucapan wanita tua yang menjenguk papanya waktu beberapa jam yang lalu.
Tapi tidak dengan kedua orang tuanya, yang terkejut dengan ucapan Nenek pada anaknya. Hanya mendapatkan warisan dua puluh persen dari yang dirinya kumpulkan dengan bekerja keras setiap waktu dan jarang sekali meluangkan waktunya pada keluarganya.
Neneknya memang orang yang paling di hormati dan di segani oleh anak-anaknya atau semua karyawan anaknya di kantor. Kala sedang berkunjung ke kantor putranya.
Papa Kevin tidak terima jika putranya hanya mendapatkan warisannya dua puluh persen, sedangkan empat puluh persennya di berikan pada panti asuhan milik keluarga Kevin dan empat puluh persennya lagi di berikan pada intan.
Selama ini Kevin telah mengembangkan perusahaan keluarganya dan membantunya hingga di titik atas. Dimana putranya begitu di puja oleh para klaennya.
Hanya karena perjodohon Nenek Kevin harus mengancam pada cucunya, agar dia mau untuk di jodohkan.
Bukan Kevin namanya jika dirinya takut akan ancaman Neneknya, justru dirinya tertantang dan malah tak akan mengambil warisan sepersen pun dari keluarganya.
Hanya karena perjodohan dia rela mau menuruti Neneknya, Tidak, itu salah! Dirinya rela tidak mendapatkan warisan yang terpenting dirinya bebas dan tak peduli dengan perjodohan ataupun kata-kata dari Neneknya.
Sudah sangat muak ia selalu mendengar kata perintah, ancaman dan aturan yang terlontar dari bibir Neneknya.
Yang selalu orang patuhi dan segani. Yang selalu orang takuti dengan ancamannya, seperti adiknya yang di jodohkan tapi tak sampai menikah. Karena Kevin sudah menyelidiki jodoh adiknya yang ternyata lebih brengs*k darinya dan lebih parah jodohnya adalah pria yang suka ringan tangan pada wanita.
Bersyukur Kevin menggagalkannya dan mereka tidak jadi menikah, adiknya di nikahkan secara cepat dengan pria yang sudah lama menyukainya dan melindunginya. Dan kini adiknya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya, serta bersyukur mempunyai suami yang mencintainya dan keluarganya.
" Papa akan tetap mengalihkan perusahaan papa pada kamu." Kata Papa Kevin.
" Tidak perlu Pa!" Tolak halus Kevin. " Meskipun aku tidak dapat sepersen pun aku tidak masalah, yang terpenting aku bisa hidup bebas." Ujarnya lagi.
__ADS_1
Memang Kevin lebih suka hidup jauh dari keluarganya, dari Neneknya karena Kevin ingin menikmati hidup yang bebas tanpa adanya kekangan dari siapapun.
" Papa tenang saja, selama di indonesia aku sudah mendirikan perusahaan sendiri. Ya, walaupun tak sebesar punya papa." Ucapnya dengan senyum dan mulai mengatakan kejujurannya yang di sembunyikan oleh Kevin dari keluarganya. Hanya Bima yang tau akan semua itu dan diam untuk merahasiakannya.
Sedikit terkejut mendengar kejujuran putranya, yang menyembunyikan bakatnya dari keluarganya.
Membangun perusahaan sendiri tanpa bantuannya, tanpa meminta sepersenpun darinya. Dan tidak mengambil uang dari perusahaan papanya sedikitpun.
" Kamu mendirikan perusahaan sendiri!" Ulang Papa Kevin, hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. " Dan baru bilang pada Papa kamu ini." Ujarnya.
" Maaf pa?" Lirihnya. " Bukan maksudku menyembunyikannya, Karena perusahaanku masih baru, dan belum berkembang pesat. Jika sudah mengimbangi seperti perusahaan papa pasti aku akan bilang." Ujarnya lagi, takut marah dan kecewa karena perkataannya.
" Papa bangga dengan kamu." Ucap Papa Kevin dengan bibir mengembang, mengetahui putranya kini sudah dewasa, mandiri dan bertanggung jawab serta bisa berdiri sendiri tanpa bantuannya.
" Makasih pa?" Jawab Kevin dengan membalas senyum papanya.
" Ada apa ini? Kok mama ketinggalan berita sih! " Sahut Mama Kevin, baru keluar dari kamar mandi melihat putra dan suaminya saling menantap dengan tersenyum.
" Anak kamu ini Ma luar .. biasa?" Pujinya, hingga membuat Kevin tertawa, dan mulai menceritakan semuanya dengan orang tuanya.
" Enggak perlu begini juga Fahm! Beliin ini banyak sekali!" Seru Mawar, melihat isi plastik putih dengan banyaknya persedian susu ibu hamil, serta buah-buahan yang segar.
" Kan buat keponakan aku, bukan buat kamu!" Jawab Fahmi, membuat Mawar mengerucutkan bibir, sebal dengan jawaban Fahmi.
" Tentu saja ini juga buat kamu, biar kamu kuat dan anak kamu sehat." Ucap Fahmi tersenyum hangat pada Mawar.
" Makasih." Kata Mawar membalasnya dengan tersenyum.
" Besok aku akan pindah dari sini." Ujarnya lagi.
" Pindah! Kemana?"
" Ke rumah Bu Eni." Jawab Mawar, Mengingat kembali saat Dokter Eni menelponnya beberapa jam yang lalu.
Menanyakan kabar dan keluhan apa saja yang di rasakan Mawar saat hamil muda. Menceritakan semuanya tanpa ada satu pun yang di rahasiakan dan mengalir begitu saja, seperti obrolan hangat ibu dan anak.
__ADS_1
Memberikan nasehat dan larangan untuk tidak terlalu beraktifitas berlebih, menjaga kesehatan saat Dokter Eni sedang ada tugas di luar kota.
Dan memberikan kabar, jika besok akan ada sopir pribadinya untuk menjemputnya dan adiknya, dan menyuruhnya untuk mengemasi barang seperlunya saja karena semuanya sudah di siapkan Dokter Eni di rumahnya.
" Alamat rumahnya di mana?" Tanya Fahmi.
" Aku tidak tau rumahnya di mana, besok aku akan menanyakan pada sopir Bu Eni di mana alamat rumahnya. " Jawab Mawar, memang dirinya tidak tau akan tempat tinggal Dokter Eni, dan yang dia tau Dokter Eni bekerja di klinik tidak jauh dari sekolahnya.
" Hmm, baiklah. kalau ada apa-apa langsung telpon." Serius Fahmi menatap Mawar yang takut jika terjadi sesuatu padanya.
" Iya?" Jawab Mawar.
Berpamitan pulang seterlah mengantarkan satu kantong plastik berisi susu ibu hamil di rumah Mawar.
Hari semakin sore, warna langit berubah menjadi jingga sangat terasa hawa sore menyejukkan hati dengan anak kecil yang sedang bermain lompat tali.
Memandangi halaman rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan bersama adiknya. Rumah kenangan dan rumah penuh kasih sayang dari orang-orang yang meninggalkannya.
Rumah penuh sejarah dan rumah penuh canda tawa serta tangis dari anak-anak yang di tinggalkan untuk selama-lamanya.
Masuk ke dalam rumah, memandangj foto kedua orang tuanya dan foto nenek menyirami tanaman di halamannya.
Meneteskan air mata dengan takdir yang tak akan bisa di ubah kembali. Mengusap bingkai foto orang tuanya dan foto Neneknya.
Menghapus air mata mulai untuk mengemasi pakaiannya dan juga adiknya. Perlahan-lahan di bantu Angga dengan saling diam dan monolog dengan pikirannya sendiri.
Masuk ke dalam kamar, mengambil ponselnya dan masih meliht chat Kevin dengan Kevin yang sudah lama tidak aktif.
" Aku hanya ingin bilang, makasih sudah membuat aku hancur dan makasih semua apa yang pernah kamu berikan padaku. Satu yang aku minta, sudah cukup aku saja yang menjadi korban janji palsu kamu, jangan yang lain." Tulis Mawar dan mengirimkannya pada Kevin sebelum akhirnya dirinya membuang nomornya dan menggantikannya yang baru.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃