Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Kedatangan Bibik


__ADS_3

Bisakah kita bersama, Aku berharap bisa. Karena aku mencintaimu.


.


.


.


.


Mendesah tak percaya dan duduk di sofa sambil memijat kepala yang sedikit pusing akibat melihat dua orang dalam apartemennya. Mama dan Mantan pacar.


Mantan pacar yang sudah pergi dari apartemen saat dirinya memintanya pergi dan mengancamnya jika tidak mau meninggalkan apartemennya.


Muak dengan wajah dan ucapan yang membalikkan fakta, bahwa seoalah-olah dirinya yang bersalah. Menyelingkuhinya, faktanya, tidak.


Dirinyalah yang di selingkuhi saat ia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan membuatnya menjadi cowok play boy serta menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya, untuk menggait wanita yang dirinya incar serta membuangnya ketika dirinya merasa bosan.


Membulatkan Mata dan berdiri dari duduknya serta melihat seluruh ruangan yang seperti ada sesuatu yang hilang dan terlupakan sekejab.


" Mawar!" Gumamnya dalam hati.


" Ma! Lihat Mawar di sini sebelum mama datang gak!" Tanya Kevin, baru mengingat Mawar saat dirinya sudah mulai tenang.


" Mawar!" Ulang mama Kevin menatap anaknya yang seperti kebingungan.


" Itu bukannya Mawar?" Ucap Mama Kevin.


" Mana Ma!"


" Itu, di meja." Sambil menunjuk dengan jarinya di atas meja, yang terdapat setangkai Mawar merah dan coklat yang di berikan Kevin


" Bukan itu Ma!!" Serunya. " Ada gadis di sini sebelum mama." Ujarnya lagi, membuat mamanya mengingat-ingat sambil berjalan menuju meja makan.


" Oohh .. Gadis remaja itu? Pembantu kamu?" Ucap Mama Kevin, membuat Kevin mengerutkan kening. " Dia udah pulang, karena pekerjaannya sudah selesai."


" Pembantu, pulang!" Lirihnya,


" Dia bukan pembantu Ma?" Kata Kevin.


" Tadi dia bilang sendiri, kalau dia pembantu kamu." Ucap mama Kevin. " Lagian ya, dia masih remaja kenapa kamu tega sekali mempekerjakannya. Kasihan tau gak, Mama saja enggak tega lihatnya apa lagi dia masih sekolah." Imbuhnya.


Ya, mama Kevin datang ke apartemen anaknya untuk memberi kejutan serta ingin memasak makanan kesukaannya.

__ADS_1


Niat ingin membuat kejutan, malah dirinya sendiri yang terkejut. Saat masuk ke dalam apartemen putranya, ia melihat ruangan yang rapi dan bersih dan sedikit mengerutkan kening saat mendengar suara dari arah dapur.


Masih siang belum tentu putranya sudah pulang dari kantor, berjalan mendekat ke arah dapur dan memicingkan mata saat melihat gadis berseragam sma tengah membersihkan dapur.


Hingga dirinya mencoba berdehem keras, dan membuat Mawar berbalik ke belakang dan terkejut mendapati wanita paruh baya yang masih cantik sedang menatapnya.


Menanyakan sesuatu pada gadis berseragam sekolah, sampai gadis itu sendiri menjawab pertanyaannya dengan sopan dan mengaku sebagai pembantu Kevin.


Mulai mengobrol dengan santai sambil melihat Mawar yang memasak makanan dengan cekatan.


Tapi sayang, obrolan mereka berakhir kala Mawar menerima panggilan dari ponselnya, dan tergesa-gesa meminta ijin untuk pulang.


Mengijinkannya pulang saat melihat raut wajah Mawar berubah khawatir, mengantarkannya sampai ke depan pintu dan menasehatinya untuk tidak mengebut dalam berkendara.


Dan ketika Mawar sudah pulang, Bel apartemen berbunyi membuat Mama Kevin membukanya karena ia pikir Mawar kembali lagi, mungkin ada yang tertinggal.


Tapi bukan Mawar yang menekan bel, tapi wanita yang berpakaian **** serta lipstik yang merona. Dan siapa lagi jika bukan, Sasa.


Beruntungnya Mawar tidak bertemu Sasa saat ada Mama Kevin di apartemen. Hingga tidak perlu Mawar berbohong dan berbuat sandiwara di depan Mama Kevin, rasanya sudah lelah harus membohongi orang tua.


" Mawar, pulang kenapa Ma?" Tanya Kevin, penasaran akan Mawar yang pulang tanpa seijinnya.


" Enggak tau, tadi ada telpon dan tergesa-gesa gitu saja minta pulang." Ucap Mama Kevin. " Ayo makan, gadis itu tadi yang masakin." Ajaknya.


" Iya, jangan lama-lama." Ucap mamanya.


Di dalam kamar, Kevin masih memikirkan Mawar dengan mama yang menceritakannya. Mengambil ponsel, menghubungi Mawar hingga tidak ada jawaban. Mencoba menghubingi kembali, tapi tetap, sama tak ada jawaban hingga Kevin merasa sedikit khawatir.


" Tidak biasanya, dia tidak mengangkat telpon ku." Lirih Kevin, melihat nomer Mawar dalam ponselnya.


" Ada apa dengannya?" Ujarnya lagi, hingga tersadar dengan suara teriakan mama yang sedang menunggunya.


****


" Nek?" Lirih Mawar, melihat neneknya yang sudah tersadar dari pingsannya.


" Ar?"


" Ada yang sakit Nek, mana yang sakit?" Ucap Mawar, mengusap lembut tangan yang sudah keriput dengan dirinya yang menangis, takut dengan Nenek yang tiba-tiba pingsan dan di temukan Angga tergeletak di lantai kamarnya dengan kamar yang berantakan.


" Nenek, kenapa? Nenek sakit. Yang mana Nek?" Ucap Angga di samping Mawar yang juga khawatir dengan neneknya.


" Nenek tidak apa-apa?" jawabnya dengan senyum lemah, menatap Angga.

__ADS_1


" Angga ambilkn air putih sebentar Nek?" Ucap anggak, hanya mengangguk dan tersenyum.


Berganti menatap Mawar, dengan Nenek yang mulai minitan air mata.


" Kenapa Nek? Apa ada yang sakit?" Tanya Mawar, melihat Neneknya menangis dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


" Paman kamu datang ke rumah." Ucap Nenek.


" Buat apa bibik datang ke rumah ini Nek!" Seru Mawar, yang tidak suka dengan saudara ayahnya karena dirinya pernah di hina oleh paman dan anaknya sedangkan bibik hanya diam tanpa membelanya.


" Bibik kamu meminta rumah ini di jual, Ar! Bibik kamu meminta hak atas rumah ini!" Jawabnya, kembali menangis menceritakan tentang kedatangan Bibiknya yang hanya meminta warisan untuknya.


Tidak ada warisan lagi yang Nenek punya, kecuali rumah satu-satunya, yang puluhan tahun dirinya tinggali hingga mempunyai cucu yang sudah dewasa.


Entah, kenapa tiba-tiba Bibik datang ke rumahnya dan meminta hak warisan yang nenek tidak punya, kecuali rumah yang di tempatinya.


" Rumah ini tidak bisa di jual nek? Rum-," Ucapnya berhenti, saat itu juga dirinya membulatkan mata dengan suara yang pelan.


" A pa Bi bik mengambil sertifikat rumah." Tanyanya dengan terbata-bata.


Hanya mengangguk lemah dan menangis kembali saat Nenek tidak bisa mempertahankan sertifikat rumah miliknya, karena putri dan suaminya yang sangat kasar dan mengambilnya secara paksa.


Sungguh putrinya sangatlah berubah, saat dirinya sudah menikah dan terhasut oleh ucapan suaminya, untuk membenci saudara dan ibunya.


Mengapalkan tangan kuat-kuat, berdiri dari duduknya, kemarahan sudah di ujung kepala saat ia tidak percaya akan apa yang di lakukan bibik dan pamannya.


" Aku pergi Nek!"


" Kemana Ar?" Tanya Nenek.


" Ke rumah Bibik." Jawabnya, mengambil kunci motor dan berjalan cepat keluar rumah. Tidak peduli mempedulikan Nenek yang mencegah dan memanggil-manggil namanya.


" Mbak Mawar!!" Teriak Angga untuk memberhentikannya, tapi sayang Mawar sudah tidak mendengarnya saat ia melajukan motornya dengan kencang.


Berlari dengan cepat masuk ke dalam rumah dengan Angga yang melihat nenek kembali terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri kembali.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2