
Karena cinta bisa menguatkan, karena cinta juga bisa membuat hati tertutup karena luka.
.
.
.
.
" Kenapa?" Tanya Kevin, duduk di meja makan bersama Mawar di sampingnya. Sarapan pagi bersama-sama dengan Mawar yang entah kenapa merasa sedikit aneh.
" Hmm, gakpapa?" Jawab Mawar tersenyum, kembali melanjutkan sarapannya walaupun rasanya enggan sekali untuk mengunyah dan menelan.
Hati seperti tak karuan, seperti ada rasa cemas, takut dan bingung sendiri. Entah kenapa, rasanya ia tidak pernah seperti ini. Ada yang aneh, mengganjal di hati, sungguh sangatlah sulit.
Menggenggam tangan Mawar membuat Mawar menatap Kevin. " Kalau dia enggak mau makanan ini jangan di paksa." Ucap Kevin lembut dan mengusap perutnya.
" Hay sayang, kenapa nyusahin mama, hmm!"
" Mau makan apa? nanti Ayah bawakan, tapi sekarang makan dulu ya, kasihan mama. Tu mau sekolah." Imbuhnya lagi, setia dengan mengusap perut Mawar yang sedikit mulai membuncit dan berbicara sangat tenang dan menenangkan hingga Mawar sedikit tertawa.
" Apaan sih Mas! Malu ih." Cibirnya masih tertawa kecil.
" Enggak ada Angga gak papa?" Jawabnya santai, memang tidak ada Angga karena Angga berangkat lebih pagi saat dia mendapatkan tugas piket sekolah di kelasnya.
" Tapi ada bibik di dapur." Sela Mawar melihat ke belakang tidak jauh dari dapur dan melihat art sibuk dengan masakan.
" Bibik gak lihat tu! Iya kan sayang." Banyak sekali jawaban yang bisa membuat Mawar mengerucutkan bibir antara sebal dan malu jika harus romantis-romantisan di depan umum.
" Hahahaha, Malu sayang mama kamu." Cibirnya, melihat pipi Mawar memerah dan mengerucutkan bibir.
" Ahk!" Perintah Kevin menyuruh Mawar untuk membuka bibirnya, menyuapinya kala nasi yang ada di piring istrinya tidak tersentuh sama sekali.
__ADS_1
Menerima suapan dari suami, merasa senang serta tidak menolak di dalam rahimnya. Seakan dirinya bisa merasa tenang, menenangkan dan melupakan rasa cemas untuk sesaat. Bersama kekasih hatinya, Ayah untuk anaknya dan pelindung untuk dirinya dan calon anaknya.
Mengantarkan sekolah, dengan mereka berjalan kaki berjalan tanpa bergandengan melewati gang rumah menuju jemputan yang sudah ada di jalan besar. Menyapa para tetangga yang sedang bergosip di pagi hari sambil berbelanja pedagang sayur keliling, ada yang sedang berjemur atau ada yang sedang membersihkan halaman rumah. Bukan malu bergandengan di depan umum hanya saja Mawar malas sekali di tatap seperti itu oleh para tetangga. Tidak bergandengan sudah di tatap seperti itu apa lagi jika bergandengan pasti iri!
Pagi gang rumah yang sangat sibuk dengan kegiatan tetangga dan tak lupa dengan acara gosip apa yang akan menjadi topik panas. Dari sapaan pasangan suami istri, membuat para tetangga ikut tersenyum ramah dan mulai menggibah kala pasangan suami istri itu sudah jauh dari pandangan.
Senyum ramah yang penuh arti di pagi hari!
" Nanti biar pak supir jemput kamu pulang sekolah sayang." Ucap Kevin, duduk berdua di kursi belakang. Dimana jemputan sudah datang dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Enggak usah mas, nanti aku mau cari buku sama Lisa." Jawabnya, membuat Kevin mengerutkan kening.
" Naik apa?"
" Naik motor." jawab santai Mawar,
" Enggak, naik mobil saja. biar motornya di ambil sama pegawai kantor nanti." Larang Kevin, tidak ingin Mawar menaiki motor di saat ia merasakan kecemasan yang tiba-tiba saja merasuki hatinya yang paling dalam.
" Macet mas naik mobil!" Keluh Mawar, mungkin sudah terbiasa dirinya naik motor dan tak terlalu lama untuk di jalan.
Bergandengan tangan di dalam mobil, menyatukan jari mereka dengan lembut dan hangat. Satu tangan mengusapnya dan satu tangan dirinya sibuk dengan ponsel mengecek email pekerjaannya. dan Mawar yang menatap jalanan raya padat dengan kendaraan, seakan merenungi orang naik motor yang membonceng wanita hamil.
Perut yang buncit, memakai baju ibu hamil di tambah dengan sepatu flat dimana ibu itu pastinya akan berangkat bekerja. Melihat itu seperti kasihan dan rasanya ia bersyukur pada Tuhan dengan dirinya yang hamil mempunyai suami yang baik dan memperlakukannya dengan spesial di saat seperti ini.
" Apa ada karyawan Mas yang hamil seperti ibu itu?" Tanya Mawar, membuat Kevin menatapnya dan beralih melihat wanita Hamil sedang di bonceng oleh ojek yang berhenti karena lampu merah
" Jika ada, bisa gak buat peraturan baru untuk menjemput ibu hamil biar gak naik motor lagi." Pinta Mawar dan memperhatikan motornya melaju pelan hingga tak terlihat.
Sungguh sangat kasihan, ibu hamil dengan perut sudah membesar menaiki motor. Bisa di bayangkan berapa susah dan sakitnya jika ada lubang di jalan raya tanpa sengaja pengemudi itu tidak tau.
Dan bagaimana jika ibu itu tiba-tiba melahirkan di jalan. Sungguh sangat menyedihkan.
" Peraturan baru dari Nyonya Kevin akan segera di buat." Jawab Kevin tersenyum mendekap lengan Mawar untuk mendekat dan mencium pundak kepala istrinya.
__ADS_1
" Ih! Gak tau malu. Nanti di lihat sama pak sopir." Cibir Mawar menepuk pipi Kevin pelan hingga Kevin tertawa.
" Enggak akan lihat! Aya kan pak!" Ucapnya pada sopir.
" Hmm, ah iya pak." Gugupnya, dimana sopir itu seperti maling ayam yang ketahuan akan mencuri. Dan sopir pribadi Kevin senang akan perubahan majikannya dan melihat kebahagian yang ada di diri Kevin.
Mengantarnya di sebrang jalan dimana Mawar sendiri memintanya untuk di turunkan di sebrang depan sekolah. Enggan sekali dirinya melihat siswi yang pastinya akan melihat Mawar turun dari mobil mewah.
" Sudah jangan keluar!" Larang Mawar, melihat Kevin yang akan turun dan mengantarnya menyebrang untuk ke depan sekolah.
" Kayak anak kecil saja!" Keluhnya lagi, hingga tidak bisa untuk tidak tertawa. Istrinya yang protes akan dirinya yang terlalu overprotektif.
" Minta uang jajan gak." Goda Kevin, dimana Mawar yang akan membuka pintu mobil di tahan dan berbalik melihat suaminya.
Mengatungkan satu tangan tepat di depan wajah Kevin. Mengambil dompet di saku celana dan memberikan dompetnya di tangan Mawar.
Membuka dompet suami dengan senang hati dan melihat isi dompet yang sedikit lumayan tebal, berwarna biru dan merah.
Mengambil satu lembar merah dan mengembalikan dompetnya pada Kevin.
" Kenapa satu lembar! " Tanya Kevin mengerutkan keningnya.
" Enggak usah banyak-banyak, nanti tu dua bocah minta di traktir yang banyak kalau aku tau bawa uang banyak." Kata Mawar. " Uangnya di tabung saja buat nanti persalinan." Ujarnya lagi tanpa bisa lagi Kevin menahan tawa, saat istrinya menyuruhnya untuk menabung buat persalinannya.
" Aku berangkat dulu mas?" Pamit Mawar mencium tangan suaminya dan mendapatkan ciuman di keningnya.
" Hati-hati." Kata Kevin, hanya mengangguk dan tersenyum.
Keluar dari mobil, dengan Kevin masih memperhatikannya. Dan dengan sekejab mata itu membulat serta terkejut dan jantung berdebar sangat kencang.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃