
Berhentilah hidup seperti lilin, menerangi orang lain tapi membakar diri sendiri.
.
.
.
.
Tersentak kecil kala ia sedang berjalan menuju halaman sekolah saat ia sedang berada di area parkir. Dan tertahan oleh tangan kekar dari belakang hingga membuatnya menatap sang pemilik tangan.
" Fahmi!" Lirih Mawar, mengerutkan kening melihat Fahmi dengan tatapan yang sangat tajam dan tak bersahabat.
" Ikut aku sebentar." Ajak Fahmi, menarik tangan Mawar dan membawanya menuju belakang sekolah.
Membawa Mawar dari teman-temannya, untuk membicarakan hal yang ingin ia dengar langsung dari bibir Mawar.
Berhadapan langsung dengan Mawar dekat dengan gudang yang sepi dan jarang sekali untuk di bersihkan.
" Ada apa?" Tanya Mawar, melepaskan tangannya dari cengkraman Fahmi yang kuat dan merasakan sakit di pergelangan tangan hingga memerah.
" Apa kamu hamil." Tanyanya tanpa basa-basi seakan dirinya sudah tak sanggup untuk meminta jawaban dari Mawar, apa yang dia dengar saat berada di klinik bersama Mawar.
Ya, saat itu Fahmi mengantarkannya ke klinik dan dimana giliran Mawar di panggil, telpon Fahmi berbunyi. Membuatnya mau tidak mau mengangkatnya dan membiarkan Mawar terlebih dulu masuk.
Tidak terlalu lama berbicara pada sebrang telpon, dirinya pun memutuskan untuk masuk ke ruangan dokter yang tidak tertutup rapat.
Sempat kerkejut mendengar ucapan dokter jika Mawar hamil. Sedikit tidak percaya, tapi ia melihat Mawar yang mulai menangis dan Dokter yang mencoba menenangkannya membuat dirinya mulai di ambang kekecewaan saat itu juga cintanya hancur karena wanita yang di cintainya hamil.
Deg.,
Membulatkan mata menatap Fahmi yang bertannya padanya dengan mulai takut, saat ada orang lain yang mengetauinya hamil selain Dokter Eni dan Angga.
" Jawab Ar!" Seru Fahmi, melihat Mawar yang masih terdiam, kembali mengerjab dan menundukkan kepala.
" Jawab Ar!" Ulangnya lagi mencengkram ke dua bahu Mawar, dimana Mawar masih diam membisu tidak ingin menjawabnya.
__ADS_1
" Iya, aku hamil." Jawabnya lirih, mata yang mulai mengalir, tangan meremas kuat rok sekolahnya saat dirinya benar-benar takut untuk menjawabnya.
" Aku hamil!" Ulangnya sekali lagi, membuat Fahmi tersadar dengan ucapan Mawar dua kali. Menatap Mawar menundukkan kepala dan bergetar hebat saat tangannya masih mencengkram kuat lengannya.
" Siapa yang menghamili kamu, Ar. Siapa!" Dengan suara sedikit meninggi
Diam, tidak menjawab pertanyaan Fahmi.
" Jawab Ar! Siapa!" Hardiknya, menggoyangkan tubuh Mawar untuk menjawabnya. " Apa cowok itu yang menghamili kamu." Tanyanya lagi, mengingat kembali di mana dirinya bertemu dengan Kevin saat bersama Mawar dan dia yang memperkenalkan sendiri sebagai kekasih Mawar.
Mengangguk lemah, saat dirinya tak tahan dengan cengkraman kuat di bahunya.
" Brengs*k!!" Umpat Fahmi, melepaskan cengkramannya dan akan meninggalkan Mawar jika Mawar tidak menahan tangan.
" Aku harus bertemu dengan kepala sekolah dan meminta alamat rumah si brekgs*k itu." Kata Fahmi, hingga Mawar menggeleng cepat.
" Jangan aku mohon, Jangan temui kepala sekolah, jangan tanyakan dia kepada kepala sekolah." Larang Mawar menggenggam tangan Fahmi erat dengan ke dua tangannya.
" Tidak, aku harus menanya-,"
" Jika kamu menanyakannya sama kepala sekolah aku yang akan hancur Fahm, aku yang akan hancur!" Tangisnya histeris. " Aku akan di keluarkan dari sekolah, dan aku akan di hina sama teman-teman! Aku mohon jangan Fahm, Aku mohon!! " Pintanya dengan menangis menundukkan kepala takut akan Fahmi memberitahukan kepala sekolah.
" Aku mohon jangan tanya ataupun memberitahu pada kepala sekolah. Aku ingin lulus Fahm, aku ingi lulus sekolah agar aku bisa cari pekerjaan dan menghidupi dia dan Angga." Isaknya, dalam pelukan fahmi.
Dia, yang di maksud calon anaknya yang belum lahir. Dirinya mempertahankannya, karena Dia tidak bersalah dan harus hidup bersamanya walaupun rintangan sulit akan ia lalu. Walaupun ia tau suatu saat nanti semua orang akan tau jika dirinya hamil di luar nikah dengan anak tanpa status yang jelas, siapa ayahnya!
Siapa yang akan bertanggung jawab dan siapa yang akan melindunginya serta anaknya kelak.
Hanya satu, jika dirinya lulus sekolah. Ia akan pergi dari rumahnya bersama dengan Angga menghindar sebelum dirinya di olok dan di usir dari kampungnya.
Takut! Tentu saja takut karena dirinya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan dirinya sendiri sekarang.
" Apa kamu sudah memberitahunya." Tanya Fahmi, menggelengkan kepala lemah di dada fahmi.
" Dia pergi! Nomernya tidak bisa di hubungi." Jawabnya lemah, membuat rahang Fahmi mengeras dan mengepalkan tangan saat ia mendengar jawaban Mawar.
" Bajing*n." Geram Fahmi, kini dirinya tau jika Mawar memang harus menyembunyikannya hingga lulus sekolah dan dia akan berjuang sendiri untuk kehidupan barunya.
__ADS_1
Sungguh gadis yang sangat tangguh dan bertanggung jawab atas kesalahannya, dengan dirinya yang mau mempertahankan janinnya.
Mawar membutuhkan dukungan dan membutuhkan perlindungan untuk dirinya dan untuk Dia yang ada di dalam perut Mawar sekarang.
Mengusap lembut rambut Mawar menenangkannya agar tidak ketakutan dan menangis lagi.
"Aku janji tidak akan memberitahukan pada siapapun, aku janji itu." Jawab Fahmi, mengerti dengan keadaan Mawar, dimana orang yang masih di cintainya sekarang berjuang sendiri tanpa adanya orang tua dan keluarga.
Melepaskan pelukannya dan menatap Mawar sudah tidak menangis dan bergetar lagi.
" Terima kasih Fahm." Ucap Mawar dengan mata sembab.
" Jangan menangis lagi, aku akan ikut membantu dan melindungi kalian." Ucapnya sungguh-sungguh dengan senyum hangat, membuat Mawar juga ikut tersenyum.
" Makasih Fahm, tidak memberitahukan pada siapapun tetang aku itu sudah cukup, tidak lebih." Kata Mawar.
" Meskipun kamu melarang, aku akan tetap membantu kamu." Paksa Fahmi dengan mulai keras kepalanya, membuat Mawar tidak enak hati dan dengan terpaksa tersenyum serta mengangguk, membuat Fahmi pun juga ikut tersenyum.
" Ayo, aku antar ke kelas." Ajak Fahmi hanya mengangguk dan berjalan bersama menuju kelas.
****
" Kamu tidak boleh pergi, tetap di sini!" Ucap Nenek Kevin, di ruang inap Papa Kevin saat membesuknya putranya yang mulai membaik dengan perawatan yang terbaik di rumah sakit terbesar di singapure.
" Aku harus pulang Nek! Perusahaan sedang membutuhkan aku." Jawab Kevin, seakan dirinya paling malas dengan Neneknya yang suka mengatur kehidupannya dan kuluarganya.
" Kamu bisa kan menghandelnya lewat sini, dengan kepercayaan kamu yang tetap ada di sana." Kata Nenek. " Tetap di sini Kevin, Nenek sudah mencarikan kamu jodoh." Ujarnya lagi, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, termasuk Kevin.
" Jodoh!" Seru Kevin, menatap kedua orang tuanya yang juga terkejut dengan perkataan Nenek, Hanya menggelengkan kepala saat Kevin menantapnya. Karena mereka juga tidak tau akan perjodohan Kevin.
" Ini bukan jaman siti nurbaya! dan aku tidak ingin di jodohkan!" Tolak Kevin mentah-mentah.
" Kamu hanya akan mendapatkan dua puluh persen dari warisan yang papa kamu punya." Ancam Neneknya, lagi-lagi membuat semua ruangan itu terkejut kecuali dengan Kevin yang sudah paham akan ancaman Nenek tua yang suka mengatur kehidupan orang.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃