
Sedikit saja, buka hatimu untukku. Walaupun aku tau kamu tidak menyukaiku.
.
.
.
.
" Fahmi?" Sapa balik Mawar dan tersenyum untuk saat Fahmi menyapanya di hadapannya sekarang.
Saling menatap dengan rasa permusuhan antara dirinya dan di sebelah Mawar, yang semua siswa bilang dedy sugarnya Mawar.
Yang di tatap hanya cuek dan tersenyum sinis untuk membalas tatapan permusuhan Fahmi.
" Boleh gabung gak." Tanya Fahmi, melirik sekilas Kevin yang tak terganggu dan acuh akan kedatangan Fahmi.
" Boleh! Duduk Fahm." Kata Mawar, di anggukkan Fahmi dan duduk di depan Mawar, yang justru membuat hati Kevin panas melihatnya.
Melihat Mawar yang ada tepat di hadapan Fahmi dan terlihat jelas Fahmi yang tersenyum manis pada Mawar serta bisa menatap puas wajah Mawar.
" Kamu sendirian?" Tanya Mawar pada Fahmi.
" Enggak sama teman! Tu sedang asyik sama cewek." Jawabnya, sambil mengarahkan pandangannya ke arah teman sebangkunya yang sedang asyik mengobrol dengan dua wanita.
" Asyik dong punya kenalan cewek baru.!" Seru Kevin, membuat Mawar dan Fahmi menatapnya.
" Kenalan sama temanku Om, bukan sama Aku.!" Jawab Fahmi, dan kata Om sungguh membuat Mawar membulatkan mata, serta Kevin tercengang mendengarnya.
" Om, om! kapan aku nikah sama tante kamu." gerutu Kevin. " Masih muda gini di bilang Om." Gumamnya pelan.
Menahan tawa melihat Kevin yang menggerutu dan protes akan panggilan dari Fahmi, yang memanggilnya Om.
Jika di lihat, Kevin tidaklah tua. Hanya terpaut sekitar tujuh tahun dengan mereka dan dia belum menikah. Tapi sayang, dia tidak perjaka lagi. Tapi itu tidak ada masalah bagi para pria karena perjaka atau tidak, wanita tidak akan tau dan pasti akan menerimanya yang terpenting cinta dan uang yang mengalir.
Tapi jika suka mendua, maaf wanita lebih memilih pergi dan mencari pengganti yang lain. Yang setia dan terima apa adanya.
" Tapi umur Om mau kepala tiga kan." Ucap Fahmi.
__ADS_1
" Jangan sok tau.!" Tukas Kevin dengan sengit.
Dari mana bisa, Fahmi bilang jika Kevin kepala tiga. Umurnya masih dua puluh lima kurang beberapa bulan, dan belum beruban sama sekali. Satu pun dirinya tak punya, kenapa dia mengira udah berumur kepala tiga.
Sungguh Mawar tak bisa menahan tawa lagi, memalingkan wajahnya dan tertawa pelan. Tapi masib di dengar oleh dua pria yang menatapnya. Satu merasa senang dan yang satu merasa sebal.
" Kenapa tertawa. Suka! pacarnya di bilang om, om sama teman kamu yank.!" Kata Kevin, Mawar pun langsung terdiam dan melihat ke arah Kevin yang wajahnya sudah mengerut sebal.
Hais, rasanya ia malas sekali beraksi menjadi pacar bohongan di hadapan orang, apa lagi di hadapan temannya. Yang mengerutkan kening saat Kevin berucap.
" Tidak." Jawab Mawar. " Maaf.!" Ujar lagi sambil memasang mimik wajah sendu.
Mengacak rambut Mawar, menariknya dalam rengkuhannya serta mengecup puncak rambut Mawar. Hingga pastinya, membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri.
Apa lagi yang ada di depannya saat ini, membulatkan mata melihat tindakan Kevin yang berani mencium puncak kepala Mawar di depan umum. Memalingkan wajahnya dengan tangam yang mengepal serta rahang yang sudah mengeras akan dirinya yang menahan amarah, seperti cemburu. Tapi dirinya tau, jika ia bukan siapa-siapa Mawar.
Terkejut, dan tidak percaya akan perlakuan Kevin yang berani mencium kepalanya di tempat keramaian, apa lagi di depan teman sekolahnya ini, yang menyukainya.
Melototkan mata pada Kevin, yang tersenyum tengil dan tak peduli jika dirinya marah.
" Ayo pulang, sudah malam." Ajak Kevin, yang sudah tak mood lagi untuk nongkrong. Yang niatnya hanya ingin berdua sama Mawar, tapi ada pengganggu yang datang menghampirinya.
" Fahm! Aku pulang dulu ya." Pamit Mawar, menatapnya dengan rasa malu dan sedikit tidak enak hati karena ulah Kevin.
" Iya? Hati-hati." Jawabnya dengan senyum paksa. Dirinya seakan tidak rela Mawar pulang, apa lagi bersama Pria yang sudah menjadi kekasihnya.
Menatap kepergian Mawar hingga Mawar menaiki jok motor Kevin dengan meyentuh bahunya, sungguh rasanya ia marah dan cemburu melihatnya.
" Kenapa kamu sekarang semakin jauh Ar dariku!" gumam Fahmi, menunduk lesu seakan sudah tak sanggup untuk menggapai cinta Mawar.
" Aww.!" Pekik Kevin, mendapatkan cubitan di pinggangnya saat berkendara.
" Kenapa nyosor-nyosor segala sih." Gerutu Mawar, yang masih setia mencubiti pinggang Kevin karena kesal akan perlakuannya.
Dirinya sangat malu sekali di lihat banyak cewek yang merasa iri akan perlakuan Kevin, atau ada yang merasa mencibirnya juga karena tak tau tempat untuk bermesraan.
Tunggu! Kenapa juga dirinya bisa menghayal bermesraan sama Kevin. Dirinya bukan siapa-siapa Kevin. Hanya kekasih bayaran untuk membantu masalahnya, tidak lebih dan tidak boleh berharap apapun darinya, termasuk cinta.
Tanpa menunggu lama, ia pun menarik tangan Mawar, hingga dia menubruk punggungnya serta kepala menyandar ke bahunya.
__ADS_1
" Lepasin.!" Seru Mawar, mencoba menarik tangannya dari Kevin.
" Diam! nanti jatuh." Jawabnya dengan tangan satu yang masih menyetir dan yang satu memegang tangan Mawar.
" Lepasin dulu!"
" Enggak, nanti kamu cubit pinggangku lagi." Kata Kevin. " Sakit tau gak." Ujarnya.
" Biarin, biar tau rasa." Sewot Mawar dengan mencoba lagi melepaskan tangannya, tapi sayang Kevin semakin mencekramnya dan tak bisa membuat dirinya lepas.
Menepikan motornya di jalan yang sepi hingga Mawar mengerutkan kening.
" Kenapa berhenti.!" Protes Mawar.
Menarik tangan Mawar satunya lagi, hingga Mawar kembali menubruk tubuhnya dari belakang.
" Eh!" Pekik Mawar.
" Diam, dari tadi kamu gerak saja. Buat kita hampir jatuh tau gak.!" Decak Kevin, Merapatkan dua tangan Mawar untuk memeluknya dan Kevin masih memegangnya.
" Kalau masih gak bisa diam, turun di sini!" dan mau tak mau Mawar pun diam. Tidak ingin di turunkan di jalanan sepi seperti ini, apa lagi di malm hari.
Terpaksa memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu Kevin dan diam tanpa banyak bicara.
Tersenyum, tidak ada protes dan tidak ada pemberontakan dari Mawar. Hingga dirinya bisa menyetir dengan tenang dan suka akan pelukan Mawar yang entah kenapa bisa menghangatkan tubuhnya. Sentuhannya sangat memabukkan dan merasa nyaman dekat dengannya.
Sama seperti Mawar, yang tidak tau kenapa dirinya mulai senyaman ini bersandar di bahu Kevin dan tangan Kevin yang memegang lembut tangannya. Senyaman inikah, jika nanti dia mempunyai kekasih.
Sama-sama terdiam menikmati angin malam, dengan hangatnya tubuh yang saling bersentuhan dan tangan yang mulai menyatukan jari-jarinya untuk memenuhi rongga yang kosong.
Tanpa di sadari dia tidak memberontak, dan semakin membenamkan kepalanya di bahu Kevin. Menutup mata, menikmati debaran jantung yang entah kenapa ia baru merasakannya sekarang. Berharap dia tidak akan jatuh Cinta pada orang yang menyewanya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1