Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Menemaninya


__ADS_3

" Mas?" Sapa Mawar, menaruh secangkir kopi di meja untuk menemani suaminya yang sedang berlembur kerja. Begitu banyaknya berkas maap yang menumpuk dan harus di selesaikan.


" Iya." Jawabnya menatap istrinya dengan hangat. " Makasih sayang." Ujarnya lagi, Hanya membalas mengangguk dan tersenyum.


Mengambil kopi di buat istri tercinta, yang selalu sama tidak sepersen pun ada yang hilang dari kopi buatan sang istri.


" Kalau capek istirahat sebentar mas?" Saran Mawar, masih berdiri di samping Kevin. hingga Kevin menarik tangannya, membawanya ke dalam pangkuannya.


" Kenapa enggak tidur. Hmm!" Seru Kevin, mencolek hidung Mawar.


" Masih jam delapan, belum ngantuk." Jawab Mawar. " Masih banyak mas, pekerjaannya?" Tanya Mawar.


" Tinggal sedikit sayang?" Jawab Kevin, menyandarkan kepalanya di bahu Mawar.


Rasa lelah untuk hari ini, begitu banyak klaen dan tander untuk segera di selesaikan. Saat Kevin sudah memutuskan untuk menyelesaikan semuanya sebelum Bima pergi darinya dan tidak akan bekerja lagi bersamanya. Karena memang itu keinginan Kevin sendiri, meskipun rasa enggan untuk di tinggal patner yang setia dengannya.


Tapi karena Bima juga mempunyai tanggung jawab yang besar, bukan hanya untuk dirinya saja, rasa kasihan pun sudah ia putuskan agar Bima lebih fokus pada dirinya sendiri, agar tidak terbeban dua kali lipat dalam menanangi pekerjaannya dan pekerjaan dia.


Kini Kevin memang sudah siap untuk melepaskan Asistennya, dimana ada kemajuan pesat dari diri Bima, meskipun Bima tak pernah menunjukkan jati dirinya. Karena memang dirinya lebih suka hidup tanpa adanya gangguan dari orang-orang yang bermuka dua dan juga orang yang penjilat ludah.


" Mau aku pijetin?" Tawar Mawar, merasa kasihan dengan suaminya yang hari ini memang begitu sangat lelah, terlihat jelas di wajahnya meskipun tak pernah mengeluh pada dirinya. Hanya senyuman hangat di saat pulang kerja dengan dirinya yang menyambut kedatangannya.


" Nanti saja yank?" Jawabnya, mencuri ciuman di pipi istrinya.


" Ih! Mas!" Seru Mawar, dan membuat tertawa Kevin.


" Aku tunggu di situ." Menunjuk sofa dan berdiri dari pangkuan Kevin.


" Enggak mau duduk sini sayang?" Goda Kevin.


" Enggak, nanti kerja kamu enggak kelar-kelar." Ketus mawar, masih saja sempat menggodanya kala rasa lelah di dalam diri Kevin. rasa lelah sedikit berkurang, kala Kevin suka menggoda istrinya dan membuatnya mengerucutkan bibir. Kini dirinya kembali fokus bekerja, di temani sang istri yang sedang memilih membaca buku pelajaran untuk besok ujiannya.


Melihat Kevin, begitu serius dalam bekerja membuat dirinya mengurungkan niatnya, untuk berbicara tentang keinginannya dan ijin dari suaminya untuk meneruskan sekolah yang lebih tinggi.

__ADS_1


Ada rasa malu dan kasihan pada suaminya saat dirinya melihatnya bekerja dengan keras, mencari pundi-pundi uang dan tanggung jawab yang besar. Bukan hanya dirinya saja, tapi juga untuk karyawannya yang menggantungkan nasibnya pada suaminya.


Tidak enak sekali jika dirinya meminta suaminya untuk membiayainya sekolah tinggi, karena suaminya juga bertanggung jawab pada Angga. Menyekolahkannya dan membiayai kehidupan adiknya.


Tidak pernah Kevin menelantarkan sedikit pun pada Angga, fasilitas Angga sama seperti dirinya meskipun Mawar sudah tidak satu rumah dengan adiknya. Lantaran Angga lebih memilih tinggal di rumah peninggalan nenek, untuk menjaganya dan juga lebih nyaman tinggal di sana, tidak jauh dari sekolah dan juga tidak perlu pindah sekolah ataupun beradaptasi baru lagi. Angga tidak sendiri, sepasang suami istri kepercayaan Kevin untuk mengurus Angga dan menjaganya, hingga Mawar merasa tak perlu khawatir lagi tentang adiknya.


Sungguh dirinya tidak menyangka mendapatkan suami yang kaya, tanggung jawab, baik dan sabar dengan dirinya. Tak pernah dirinya membayangkan sedikit pun tentang pasangannya dan juga tak pernah meminta pada Tuhan jodoh padanya waktu itu.


Yang dirinya hanya fokuskan adalah bekerja dan bekerja. Untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Tidak peduli siapa yang menyukainya dan mencoba mendekatinya.


Rasa kantuk mulai menjalar, merebahkan tubuhnya di sofa, sebelum mata terpejam dirinya tersenyum pada suaminya yang masih fokus dengan laptopnya dan perlahan mata mulai tertutup dengan buku yang masih ada di dekapannya.


Kevin baru saja menyelesaikan berkas terakhir, menutup laptop dan meminum air putih untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Melihat ke arah sofa, melupakan istrinya karena pekerjaan begitu banyak dan menyadari jika istrinya sudah tertidur pulas menghadapnya. Menghampirinya, berjongkok untuk menghadap wajah pulas Mawar yang tertidur. Sungguh dirinya begitu melupakan istrinya karna pekerjaan padatnya, ada rasa syukur istrinya bisa mengerti dengan dirinya dan mau menemaninya seperti ini tanpa mengganggunya.


Menaruh buku pelajaran Mawar, mengangkat tubuh sang istri. Tidak ada sama sekali merasa terganggu ketika berada di gendongan Kevin, mungkin karena terlalu lelah menunggu suaminya atau lelah akan soal ujian yang begitu menguras otaknya.


" Maaf sayang malam ini cuekin kamu?" Ujarnya, membelai pipi istrinya, mencium kening sebelum beranjak tidur di sampingnya.


" Gimana Ar? Sudah ngomong kan sama suami kamu." Lirih Lisa.


" Aku belum bilang sama Kevin Lis, dia lagi sibuk, aku enggak berani ganggu." Jawabnya.


" Aku juga enggak enak sama Kevin." Ujarnya lagi.


" Enggak enak gimana?" Mengerutkan kening menatap Mawar.


Menghembuskan nafas sebelum cerita pada Lisa. " Rasanya enggak enak saja bilang sama Kevin untuk minta biayain aku kuliah, Aku sudah membuatnya terlalu repot Lis. Dia menanggung hidup Angga, sekolah, kebutuhannya dan enggak mungkin aku ngrepotin Kevin lagi kan." Ujarnya.


" Kamu benar Ar? Tapi apa salahnya kamu coba untuk bicara dulu sama suami kamu. Kalau suami kamu sanggup dan mendukung kamu, itu berarti dia memang pria yang bertanggung jawab kan." Kata Lisa, membuat Mawar terdiam.


" Dia pernah ngeluh gak sih sama kamu soal keuangan." Tanya Lisa, dan di gelengkan oleh Mawar.

__ADS_1


" Ngasih kamu uang belanja gak." Tanyanya lagi.


" Kevin setiap bulan kasih uang belanja Lis, hanya seperlunya saja aku ambil dan sisanya masih ada di atm." Jawab Mawar.


" Ya sudah, kalau enggak mau repotin pakai uang sisa bulanan kamu saja buat bayar kuliah." Kata Lisa, sesimpel itu dirinya mengucapkan tanpa adanya beban dan belum mengerti tentang pengeluaran rumah tangga.


" Loe ngomong gampang, masih bujang. Belum menikah. Kalau tau sudah berumah tangga pasti pusing mikirin keluaran uang belanja." Sungut Mawar.


" Cihh! Suami kaya raya masih bingung mikirin pengeluaran uang." Cibir Lisa. " Iya kalau kayak emak gue bingung tu mikirin uang bulanan. Pa lagi anaknya mau kuliah, Bisa-bisa rambut putih bapakku tambah banyak." Ujarnya lagi.


Lisa juga di landa kebingungan saat semalam ia ingin mengungkapkan keinginannya pada orang tuanya untuk masuk ke perguruan tinggi pun ia urungkan. Kala dirinya baru menyadari jika pengeluaran orang tuanya sudah begitu banyak pada dirinya dan umur orang tua yang semakin menua dan tak mungkin untuk terus menerus Lisa meminta uang padanya.


" Terus kamu sendiri?" Memicingkan mata menatap Lisa.


" Mau cari kerja, sambil kuliah. itung-itung lumayan gak membuat beban keluarga lagi." Jawab Lisa.


" Kenapa enggak pakai saja container boxnya." Kata Mawar, baru mengingat jika dirinya punya container berniat dulu untuk berjualan, sebelum dirinya menikah dengan Kevin.


" Eh! Iya aku baru sadar." Pekik Lisa, yang juga baru ingat tentang rencana dulu bersama Mawar.


" Masih ada di belakang rumah, bapak menaruhnya di sana. Mangkanya baru ingat." Ujar Lisa lagi.


" Pakai saja itu Lis, buat jualan sambil kuliah kamu." Kata Mawar.


" Enggak papa nich." Ragu Lisa, karena itu bukan milik.


" Enggak papa, pakai saja Lis? Lagian sayang kalau tidak di pakai kan?" Kata Mawar dengan senyum.


" Makasih Ar?" Ucapnya dengan rasa senang dan haru saat Mawar memperbolehkan memakai barang yang dia punya. Dan mungkin ini akan menjadi hal yang baru bagi Lisa, bekerja sambil kuliah


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2