
Kau dan aku berbeda, antara bulan dan bintang. Jika berdekatan kaulah yang paling terang dan akan bersinar hingga semua terpana padamu.
.
.
.
.
" Sakit?" Tanyanya, terdengar begitu lembut dan khawatir akan luka memar di pipi mulus pacar bayarannya.
" Sedikit." Jawab lirih Mawar, menahan perih salep yang menghiasi pipi memarnya.
Salep yang di berikan oleh Kevin sendiri di pipi Mawar kala ia melihat pipi yang memar akibat tamparan begitu keras dari tangan mantan dakjal.
sungguh memar merah akan berubah menjadi biru keungun untuk beberapa hari kedepan. sangat menyakitkan, sama seperti sakit di hatinya kala teringat ucapan mantan Kevin yang menyebutnya sebagai pelakor.
Jika bukan karena uang ia tak akan mau melakukan pekerjaan ini, pekerjaan yang begitu menguras emosi dan hati. Harus bisa melawan dan bersabar, harus bisa bertahan beberapa bulan hingga masa kontrak berakhir.
Melihat memarnya pipi Mawar membuat rahang Kevin mengeras, amarah yang begitu dalam bersumpah pada diri sendiri akan membalas perbuatan mantan dakjalnya yang sudah membuat Mawar terluka.
Entah kenapa, ia begitu marah dan khawatir melihat Mawar terluka.
" Makasih." Ucap Mawar, selepas Kevin membersihkan kotak obat.
" Kamu sudah makan.?" Tanya Kevin.
" Belum, nanti saja." Jawabnya.
" Tunggu di sini." Perintah Kevin, berdiri dari duduknya meninggalkan Mawar yang menatapnya hingga menuju tempat makan.
Mencari sesuatu di dapur dan meja makan, melihat bungkusan makanan nasi padang yang belum tersentuh sama sekali.
mencari piring dan sendok menaruh bingkisan nasi di atas piring serta mengambil botol air di dalam kulkas, dan membawanya ke ruang tamu. Dan ini pertama kalinya Kevin melakukan hal yang belum pernah ia lakukan pada wanita. Perhatian, khawatir dan sayang.
Sayang? Apa itu artinya dia mulai menyukainya, mulai ada rasa dan mulai jatuh cinta padanya. Beginikah rasanya jatuh cinta? jatuh cinta untuk ke dua kalinya, dan jatuh cinta pada anak SMA.
Duduk di samping Mawar, menaruh piring di atas meja dan membukanya.
__ADS_1
" Ayo makan?" Kata Kevin, sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke arah bibir Mawar.
Mematung, membulatkan mata, melihat Kevin menyuapinya hingga bibir sudah tersentuh ujung sendok, mau tidak mau dirinya pun membuka bibirnya. Menerima suapan nasi Kevin.
" Kamu kenapa pulang?" Tanya Mawar, sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
" Aku khawatir dengan mu." Jawabnya tanpa sadar.
" Khawatir denganku!" Ulang Mawar, tersadar dari jawabannya, bingung harus mencari alasan yang tepat.
" Iya khawatir dengan mu, nanti kalau masuk rumah sakit aku yang kerepotan, terus mengeluarkan uang banyak juga." Jawabnya, sedikit ketus kembali menyuapkan makanan pada Mawar.
" Ya jelas lah! itu kan tanggung jawab kamu." Sahut sengit Mawar. " Punya mantan kok seperti macan, gak tau malu pula." Ujarnya lagi dengan wajah yang memerah, menatap tajam ke arah Kevin.
" Ini nich, semua gara-gara mantan pacar mu, dan aku enggak mau tau. Kamu harus ganti rugi." Sungutnya yang masih saja mau di suapin Kevin tiada henti hingga mulut terasa penuh.
Pipi yang mengembang, mulut penuh makanan dan bibir tidak ada henti-henti berkomat kamit, membuat Kevin merasa gemas, suka akan apa yang ada di hadapannya dan tidak menghiraukan ucapan Mawar.
" Kamu dengerin enggak sih! Kalau aku ngomong.!" Seru Mawar, memukul lengan Kevin dengan keras.
" Denger bawel!!" Jawab Kevin, mengusap lengan yang di pukul Mawar.
" Ya sudah ganti rugi." Ucap Mawar.
" Ya ganti rugi buat pengobatanlah! Mana." Pinta Mawar mengatungkan satu tangan ke wajah Kevin.
" Dasar mantrek!" Gumam Kevin, mengambil dompet di sakunya dan memberikan sepuluh lembar uang merah pada Mawar.
" Hidup itu realitas dan harus memanfaatkan sebisa mungkin." Ucap Mawar menerima uang lembaran merah dari Kevin. " Kalau gak mau rugi jangan nyewa pacar bohongan." Ujarnya lagi, menaruh uangnya di dalam saku jaketnya dan melanjutkan makan nasi padang tanpa di suapin oleh Kevin yang sedang menggelengkan kepala menatapnya.
Tidak di pungkiri, jika Mawar tipe wanita yang suka berkata jujur dan realistis. Membutuhkan uang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dan juga tidak membuat Kevin merasa risih bersama dengannya.
dirinya lebih suka wanita yang jujur dan apa adanya, seperti Mawar yang tak pernah menyerah dalam hidupnya serta tak suka bergaya seperti wanita lain.
" Ini?" Ucap Mawar, berganti menyuapkan sendok ke hadapan Kevin.
Menerima suapan tanpa menunggu lama, merasa senang untuk pertama kali Mawar melakukan tanpa paksaan dan suruhan.
Makan bersama dalam satu bungkus nasi padang dan bergantian untuk menyuapi Kevin dan dirinya sendiri hingga habis. Seperti sepasang pengantin baru yang bermanja-manja di setiap waktu.
__ADS_1
" Enggak kembali ke kantor?" Tanya Mawar, meremas bungkus nasi padang yang sudah habis, memasukkannya ke dalam plastik dan memberikan minum untuk Kevin terlebih dulu.
Melihat jam tangan menunjukkan angka dua, ia pun kembali menatap Mawar yang sedang meminum bekas yang ia minum dan dia tidak merasa jijik sama sekali. Sungguh gadis yang sangat unik dan sangat sederhana.
" Aku kembali ke kantor dulu, jaga rumah jangan pergi kemana-mana." Ucap Kevin, berdiri dari duduknya membenarkan jas dan mengambil ponsel yang ada di meja, di ikuti Mawar yang juga ikut berdiri dan mengantarkan Kevin ke depan.
" Aku berangkat."
" Hmm, iya. Hati-hati." Kata Mawar.
" Sebelum membuka pintu, lihat dulu siapa yang datang." Pesan Kevin sebelum dirinya pergi. Hanya mengangguk dan tersenyum menatap kepergian Kevin hingga tak terlihat.
menutup pintu kembali, menyandarkan punggungnya di sana. Menyentuh dada yang berdetak kencang, karena sedari tadi tidak bisa berhenti sama sekali saat Kevin menyentuh pipinya dan menyuapinya makan.
" Kenapa jantungku sedari tadi gak bisa berhenti ya." Gumamnya, menggelengkan kepala mengusir rasa debaran di hatinya saat Kevin sudah tidak ada bersamanya.
Ia sangat tersiksa ketika bersama Kevin sedari tadi. Entah kenapa, jantungnya bisa berdegub kencang seperti ini. Seperti seorang wanita yang sedang kasmaran bila berdekatan dengannya.
" Gila .. tadi kenapa aku menyuapinya makan sih.!!" Gerutunya sendiri, memaki kebodohannya, menyadari apa yang ia lakukan. Menyuapi makanan pada Kevin.
Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan hingga beberapa kali dan membuat dirinya mulai membaik.
" Aku gak boleh jatuh cinta sama dia, enggak boleh. Cukup jadi patner saja." Ujarnya lagi dan meyakinkan dirinya sendiri untuk melarangnya jatuh cinta pada orang yang menyewanya.
Memulai kembali beraktivitas seperti biasa. Membersihkan rumah, membersihkan pakaian kotor dan menyiapkan makan malam untuk Kevin.
Pekerjaan yang membuatnya seperti seorang istri, menunggu suaminya pulang kerja. Padahal itu semua hanyalah pekerjaan yang sudah biasa di lakukan oleh art dan dirinya juga termasuk seorang art bukan seorang istri.
.
.
.
.
🍃🍃🍃
Pada kangen ya!! 😄😄
__ADS_1
Insyaallah akan mulai kembali nich kisah Mawar dan Kevin.
Maaf ya sudah nunggu lama.