Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Tanggung jawab


__ADS_3

Tetap bersamaku, genggam tanganku, walau badai menghantam kapal kita. Karena aku tidak ingin berpisah.


.


.


.


.


Meluapkan semua amarah, memukul dada Kevin, menangis kencang dan mengeluarkan perkataan yang selama ini dirinya pendam.


Antara kasian dan tega, antara sakit dan sembuh, antara senang dan juga sedih. Semua yang ada di dalam dirinya begitu lega, dimana dirinya bisa meluapkan semuanya pada pria yang membuatnya berbadan dua dan menghilang begitu saja. Dan kembali saat dirinya akan pergi.


Diam, tidak memberontak, tidak menghalangi tangan Mawar untuk memukulnya ataupun menamparnya.


Dirinya begitu pasrah, karena dirinya memang salah dan salah telah membuat Mawar berbadan dua. Membuat dia takut dan akan melakukan hal yang sangat kejam jika saja dia tidak ada dukungan dari adiknya untuk mempertahankannya.


Menyandarkan kepalanya di dada Kevin mencengkram kuat kemeja hingga berantakan dan lecet.


" Aku benci kamu! Aku benci kamu Mas!!" Lirihnya, suara begitu serak dan lelah saat ia sudah puas dengan semuanya.


" Aku takut! Aku tidak sanggup jalani ini sendiri! Aku takut!!" Ujarnya lagi, bergetar hebat dan mencengkram begitu kuat kemeja Kevin.


Memeluknya, setelah di rasa Mawar sudah tidak lagi memukulnya, sudah lega meluapkan amarahnya padanya.


Mengusap lembut kepala Mawar, menciumnya begitu dalam, memeluknya dengan erat seakan dirinya juga takut di tinggalkan wanita yang dirinya cintai.


" Maaf." Hanya satu kata yang terucap dari bibir Kevin, dengan dirinya yang mulai mengeluarkan air mata. Masih merasakan bersalah karena dirinya meninggalkan Mawar dan tak memberi kabar ataupun menyuruh asistennya untuk melindunginya saat dirinya tak ada di sampingnya.


Ini pertama kali ia takut kehilangan wanita selain ke tiga orang yang dirinya sayang. Papa, Mama, dan adiknya. Dulu dirinya tidak sebegini dengan wanita, hanya kecewa, tidak takut kehilangan.


Tapi kini, dirinya sangat takut, takut sekali kehilangan. Apa lagi dirinya sekarang mempunyai malaikat kecil yang masih berada di perut kekasihnya. Ralat kekasih bayarannya.


Senang karena benihnya tumbuh di dalam perut Mawar dan senang dirinya bisa mengikat Mawar untuk selama-lamanya hingga tak akan bisa lagi Mawar pergi darinya. Walaupun sebenarnya dirinya tau itu sangatlah dosa dan akan imbas pada calon anaknya nanti.

__ADS_1


" Maaf sudah membuat kamu begini! Maaf ini semua salah aku! Jangan pergi dariku, aku mohon. Kita akan melalui bersama mulai sekarang, mengurusnya dia bersama-sama hingga dewasa. Dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat pada kamu." Ucapnya, sambil mengusap kepala Mawar dan menciumnya.


" Maafkan aku!" Ujarnya sekali lagi, membuat cengkraman tangan Mawar melemah dan memeluk Kevin dengan erat serta menangis kembali mendegar Kevin yang akan bertanggung jawab dan mau membesarkan dia bersamanya.


melepaskan pelukannya menatap wajah Mawar dengan lekat, menghapus air matanya menciumi kedua mata yang terpejam dan mencium keningnya dengan lama. Serta mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan selama ini.


" Aku mencintai kamu Ar! Hanya kamu." Lirihnya, menyatukan keningnya pada Mawar dan tersenyum mengusap pipi Mawar.


" Aku juga." Jawab Mawar, membalas senyumannya dengan hangat dan kembali saling memeluk untuk beberapa menit. Dan berakhir ketika Angga mengetuk pintu dari luar.


" Mbak!! Mbak Mawar!!" Ucapnya, karena panik tidak mendengar tangisan dan amarah Mawar lagi.


Mendengar adikknya sangat khawatir itu pun mereka melepas pelukan, saling tersenyum dan tertawa kecil.


" Adik yang sangat melindungi kakaknya." Ucap Kevin.


" Iya, dia juga berusaha melindungi ponakannya." Ujarnya lagi.


" Perlu di apresiasi, dan di beri hadiah." Jawabnya berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan pandangan pertama melihat Angga berada tepat di hadapannya.


" Mbak Mawar enggak papa!" Ucap Kevin, mengusap rambut Angga dengan gemas. Dirinya juga tau akan perasaan takut jika orang terdekat sedang berada di posisi Mawar.


" Mbak gak papa?" Tanya Angga, melihat semua badan Mawar dengan seksama. tidak menghiraukan Kevin karena dirinya ingin mendengar sendiri dari bibir Mawar.


" Mbak gak papa Ga?" Jawabnya dengan senyum.


" Sudah di bilang, mbak kamu enggak papa. Aku enggak akan berbuat macam-macam." Timpal Kevin.


" Enggak macam-macam tapi buat mbakku hamil dan menderita." Gerutu Angga, membuat Mawar mengerucutkan bibir dan Kevin tersenyum mendengarnya.


" Kalau enggak begitu, mbak kamu pasti akan pergi dariku dan nikah sama orang lain." Jawab Kevin.


" Tapi enggak begitu juga caranya!! Cinta sih Cinta, tapi yang di lakuin salah." Serunya.


" Iya, iya mas ngaku salah dan akan tanggu jawab."

__ADS_1


" Jelas! Harus tanggung jawab, kalau bukan Mas siapa lagi! Tetangga! Enggak mungkin kan.!" Sewot Angga, semakin membuat Kevin tertawa mendengar ucapan yang ketus dari bibir Angga. Sedangkan Mawar menahan tawa.


" Ya jangan lah orang aku yang buat, masak tetangga yang tanggung jawab. Enggak rela aku!" Jawab Kevin, membuat Mawar melototkan mata menatap tak percaya akan ucapan yang fulgar dari Kevin.


" Mas!! Astaga!!" Pekik Mawar menggelengkan kepala.


" Hehehe, maaf?" Ucapnya, dan suasana kembali seperti dulu. Tapi kali ini berbeda dan akan sangat berbeda saat mereka sudah berkumpul jadi satu dengan membangun keluarga yang baru.


Kevin sedang berbicara serius dengan sopir Bu Eni. Sedangkan Mawar menelpon bu Eni untuk meminta maaf dan berterima kasih telah mau membantunya. Dan Mawar menceritakan semuanya pada Bu eni hingga Bu Eni turut merasa senang, lega dan bahagia jika pria itu mau bertanggung jawab pada Mawar. Dan dirinya berjanji akan datang ke acara sakral Mawar.


Setelah semua selesai, sopir Bu Eni yang sudah pulang kini giliran Asistennya datang ke rumah Mawar dengan wajah yang tegang dan menunjukkan senyum paksa menatap bosnya yang sedang menatapnya tajam.


" Mau aku turunin jabatannya!"


" Jangan pak." Sahut cepat Bima sambil menggelengkan kepala.


" Maaf pak enggak ada sinyal." elaknya, berkata jujur yang sedalam-dalamnya karena dering ponselnya di ubah menjadi mode pesawat. Dan baru di aktifkan setelah matahari terbit dengan pikiran yang sudah kembali fress, memulai kembali untuk beraktifitas, serta terkejut saat menyalakan ponsel.


begitu banyak panggilan telpon, pesan dengan berbagai umpatan dan ancaman dari pria yang ada di hadapannya sekarang.


" Ini pak?" ucap Bima, menyerahkan berkas-berkas yang sudah di siapkan.


" Besok penghulu akan ke sini pak." Ujarnya lagi.


Di saat ponselnya sudah menyala, ia pun segera menyiapkan semua yang di minta Kevin agar ia tidak terkena mutasi atau turunan jabatan dari bosnya itu, sudah di pastikan itu akan bahaya, saat tunggakan rumah dan mobil masih belum lunas.


mencarikan penghulu untuk dia besok akan menikahi Mawar secara sah dan hukum. walaupun Bima rela harus memaksa dan memberi imbalan yang banyak.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2