
Tidak ada kata menyerah jika aku masih sanggup untuk melakukannya, karena bagiku hanya satu, dukungan.!
.
.
.
.
Menggandeng tangan Mawar melewati semua kelas yang masih memperlihatkan para siswi mengintip dari jendela kelas.
Saling bertanya dan saling penasaran akan siapa cowok tampan yang menggandeng tangan Mawar. Mawar yang di tatap semua siswi hanya bisa menundukkan kepala seakan malu dengan apa yang Kevin lakukan sekarang, menggandeng tangannya di area sekolahnya membuat esok hari akan menjadi bahan gosib yang menggemparkan.
Bukan ini yang Mawar inginkan, niat ingin meminta tolong pada Kevin untuk mengaku sebagai wali murid atau saudaranya agar ia tidak melibatkan neneknya dalam urusan sekolahnya. Tapi justru semuanya gagal, karena ulah Kevin yang seenak jidatnya bilang jika dirinya adalah calon istrinya dan penampilannya begitu rapi serta gagah, seperti sugar dady.
Berjalan menuju parkiran sekolah hingga tiba di depan mobil sedan warna hitam.
" Ayo masuk, aku antar ke apartemen." perintah Kevin, dengan membuka pintu penumpang.
" Tas ku masih di kelas?" kata Mawar.
" Biar nanti di bawa sama asistenku." jawab Kevin, membuat Mawar mengerucutkan bibir.
" Mawar.!" teriak cowok dari kejauhan, Mawar dan Kevin pun kompak menatap ke samping guna melihat teriakan cowok itu.
Menghembuskan nafas berat seakan ia malas sekali bertemu pada cowok yang sudah membuat dirinya berurusan dengan kepsek serta Bianca, siapa lagi jika bukan Fahmi. Sedangkan Kevin hanya memicingkan mata menatap Cowok yang datang menghampiri Mawar.
" Kamu enggak papa kan.?." Tanya Fahmi saat berada di hadapannya.
" Enggak." jawab Mawar.
" Enggak di keluarin kan dari sekolah." tanyanya lagi.
" Enggak." Jawab singkat Mawar.
" Syukurlah, aku lega sekarang." Ucap Fahmi dengan tersenyum, dan menatap pria yang berpakaian kantor.
" Kalau begitu aku pulang dulu Fahm.?" ucap Mawar, sebelum Fahmi bertanya tentang Kevin.
" Ayo.?" Ajak Mawar pada Kevin, hanya mengangguk dan tersenyum. Menutup pintu penumpang dan jalan memutar menuju kemudinya, mengacuhkan tatapan Fahmi yang penasaran akan siapa dirinya.
__ADS_1
" Pacar kamu.? tanya Kevin saat duduk di kursi kemudi.
" Bukan.!" jawab ketus Mawar dan menatap sekilas ke arah fahmi, tersentak kecil saat tangan kekar berada di hadapannya dan membulatkan mata di kala wajah Kevin mendekat ke arahnya, menghirup parfum coklat yang melekat di tubuh Mawar.
" Mau ngapain! jangan macam-macam ya bua-."
" Sekali-kali otakmu harus di cuci, biar gak ngeres pikirannya." potong Kevin, dan memasangkan seatbalt pada Mawar, membuat Mawar merasa lega saat Kevin sudah kembali ke tempatnya semula.
" Otak ku masih waras, tapi kalau dekat dengan mu harus was-was.!!" seru Mawar, mengerutkan kening mendengar jawaban Mawar yang harus berhati-hati dekat dengan dirinya.
" Kau pikir aku kolor ijo apa.!" geruti Kevin
" Memang." lirih Mawar dan masih terdengar olehnya "Ayo cepat jalan." Perintah Mawar saat melihat Fahmi masih melihatnya.
Menatap teman cowok Mawar yang masih setia berdiri hingga membuatnya membung nafas berat tak ingin berdebat dengan hello kitty, memutuskan untuk menjalankan mobilnya.
melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, melirik sekilas ke arah Mawar yang menatap luar jendela. Ingin rasanya ia berdebat dengan Mawar yang tak terima akan perkataannya, menyebutkan dirinya sebagai kolor ijo. Sebenarnya dia bukan kolor ijo, tapi casanova yang suka berganti pasangan dan suka meniduri banyak wanita.
Tapi dirinya juga mengelak, jika dirinya di sebut casanova karena ia tidak begitu banyak meniduri para pacarnya dulu, ia selalu memilih-milih dan selalu di goda lebih dulu oleh pacarnya.
Tak ingin ambil pusing ia memilih untuk memutar musik saat membelah jalanan di siang hari yang begitu menyengat kulit jika keluar dari mobil.
" Tolong tepikan mobilmu sebentar saja." pinta Mawar yang membuat Kevin menatapnya.
" Ada apa?" tanya Kevin.
" Aku bilang tepikan! jangan tanya. Jika tidak mau aku turun saja di sini." Kata Mawar dan menatap Kevin.
" Kau.!" Geram Kevin, melajukan mobilnya saat lampu berganti hijau dan menepikan mobilnya untuk menuruti perkataan Mawar. Entahlah kenapa dia mau saja menuruti Mawar.
Mawar dengan cepat melepas seatbalt, membuka pintu mobil sebelum dan keluar begitu saja dengan cepat, membuat Kevin mengerutkan kening dan juga mulai ikut keluar dari mobil karena penasaran dengan Mawar.
Mencekram tangan Anak remaja yang akan menjajakan asongannya lagi saat lampu merah. Membuat anak remaja itu menatapnya dan membulatkan mata melihat kehadiran kakaknya yang menatap tajam.
" Mba Mawar." lirih Angga, menarik tangan adiknya menggiringnya ke tempat yang agak jauh dari rambu lalu lintas.
" Mba-."
" Sudah mbak bilang kan, jangan pernah jualan lagi! tapi kamu tetap saja jualan Ga. Apa kurang mbak kasih uang jajan buat kamu.!!" Cicit Mawar dengan mata yang tajam.
" Angga hanya ingin bantu Mbak." jawab Angga.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu membantu ku Ga, cukup kamu belajar dan mememangkan beasiswa sudah membuatku terbantu Ga .!" ucapnya.
" Maaf mbak.!" Sesalnya dan menundukkan kepala.
" Pulang Ga, aku tidak ingin kamu bekerja seperti ini lagi." Perintah Mawar dengan suara parau, tidak ingin berdebat dengan kakaknya ia pun menurut dan akan pulang.
" Tunggu Ga." cegah Mawar, membuat Angga berbalik.
" Berikan itu pada Mbak." Pinta Mawar, menatap benda termos es yang ada di tangan adiknya.
Menyerahkannya karena lagi-lagi tak bisa membantah kakaknya yang jika marah tidak akan mempedulikan sekitar, menyerahkan termos es pada kakaknya dan di ambil baik oleh Mawar.
" Pulanglah." ucap Mawar dengan lirih mencoba memendam amarah pada adiknya, hanya mengangguk dan berbalik arah untuk jalan menuju rumahnya.
Menatap kepergian Adiknya yang merasa sakit saat melihatnya bekerja, seakan dirinya tak sanggup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Menundukkan kepala dan menghapus air mata saat dirinya marah-marah dengan adiknya. Berjalan sambil menundukkan kepala, tak peduli akan orang yang ada di sekitarnya.
Kevin yang sedari tadi melihat dan mendengar perdebatan adik, kakak membuatnya merasa kasihan. Ya, Kevin sedikit menjauh dan tak ingin membuat Mawar merasa malu akan kehadirannya jika dirinya tau apa yang sebenarnya terjadi.
Dirinya baru tau jika Mawar tulang punggung keluarganya dan dirinya berfikir di mana kedua orang tua Mawar berada.
Melihat Mawar yang berjalan ke arah mobilnya, hingga dirinya pun berlari kecil untuk segera menyusul Mawar.
" Kau bawa apa itu?" tanya Kevin saat menghampiri Mawar di depan mobilnya.
" Bukan apa-apa?" jawab Mawar lirih.
" Ayo cepat masuk, panas ini!!" seru Kevin, yang tak ingin lagi bertanya saat Mawar sudah tidak ingin lagi berdebat.
Menghembuskan nafas berat dan masuk ke dalam mobil Kevin tanpa memprotes, sudah lelah rasanya hari ini yang begitu mengenaskan melanda dirinya.
.
.
.
.🍃🍃🍃
Maaf atas keterlambatannya.🙏🙏
__ADS_1