Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Mendapat kepercayaan lagi


__ADS_3

...Yakinlah, Rasa bahagia tidak akan pernah sempurna, jika tidak ada lelaki yang benar-benar memperlakukan kamu seperti ratu dalam kehidupannya....


" Selamat Buk, anda akan mempunyai cucu." Kata Dokter obygon dengan senyum ramah saat memberitahu pada mertuanya, jika menantunya sedang mengandung cucu dari putranya.


Rasa terkejut dan juga diam saat mendengar ucapan obygon membuat dokter wanita tua itu hanya tersenyum dan mulai kembali menerangkannya.


" Menantu anda sedang hamil, dan ini kalian bisa lihat di layar." Perintahnya, untuk melihat layar usg yang terlihat jelas jika ada seperti anak kecebong di dalam perut Mawar.


" Saya, hamil dok?" Tanya Mawar, tak percaya akan apa yang di dengar dan juga di katakan dokter paruhbaya itu yang sedang memeriksa perutnya dengan laser.


" Iya Mbak Mawar?" Jawabnya dengan lembut.


" Menantu ku hamil." Lirih Mama mertua.


" Ma?" Lirih Kevin, seakan dirinya masih tak percaya akan semua itu dan menanyakannya pada Mamanya.


" Mawar hamil Kevin?" Kata Mama mertua, untuk menyadarkan putranya dari rasa tak percayanya.


" Selamat Sayang?" Haru Mama, memeluk Kevin dengan rasa bahagia. Karena dirinya tau bagaimana rasa kehilangan calon bayi yang akan di tunggu-tunggu di setiap pasangan keluarga.


" Ma? Aku akan punya anak?" Tanyanya lagi, hingga dokter dan Mamanya mengangguk semangat.


" Terima kasih Tuhan, terima kasih." Ucapnya pada sang kuasa, saat ia mendapatkan kesempatan kembali untuk menjadi orang tua.


Bukan hanya Kevin saja yang terharu dan bahagia, Mawar pun juga sama bahagia saat ia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu kembali dan dirinya begitu bersyukur serta meneteskan air mata.


" Sudah?" Ucap Dokter, berdiri dari duduknya dan suster mulai membersihkan gel di perut Mawar.


Menerangkan semua tentang masa kehamilan dan juga larangan untuk sang ibu agar tidak terlalu lelah dalam bekerja keras. Memberikan resep untuk kehamilan dan menyuruh untuk cek up setiap bulan dengan tanggal yang sudah di tentukan.


Dalam perjalan pulang tak Henti-hentinya mertuanya mengusap perut menantunya yang masih datar di kursi belakang bersama Mawar, Dan Kevin sebagai sopir. Meskipun begitu ia tak masalah, karena rasa syukur dan bahagia datang menyelimuti keluarganya.


Memberikan perhatian sangat berlebihan, menggenggam tangan Mawar dan menuntunnya jalan menuju apartemen yang berada di atas.


Menyuruh menantunya duduk, dan mengambilkan air putih untuk Mawar minum.

__ADS_1


" Mama? Mawar bisa ambil air sendiri!" Kata Mawar, sungguh tak enak hati melihat perlakuan manis dari mertuanya.


" Gakpapa sayang, kamu sedang hamil dan enggak boleh lelah." Jawab Mama mertua, yang tidak masalah baginya.


" Jangan begini lagi ya ma? Mawar jadi enggak enak sama mama dan Mawar enggak ingin mama capek?" Pinta Mawar, untuk tidak terlalu memberikan perhatian berlebihan karena dirinya takut jika akan membuat mertuanya letih dan sakit akibat mengurusnya.


" Iya?" Jawab Mama mertua dengan senyum dan mengerti akan Mawar yang tidak enak hati sendiri karena sudah di perlakukan seperti tadi. Dan memang itu sangatlah berlebihan.


" Mama mau ambil ponsel dulu, mau telpon papa, mau ngabarin kalau mau punya cucu lagi." Kata Mama mertua begitu semangat dan tertawa senang saat ingin mengabari suaminya yang sudah kembali terlebih dulu ke singapure karena pekerjaan.


" Iya Ma?" Jawab Mawar yang juga ikut tertawa senang karena mama mertuanya.


" Mama kenapa?" Tanya Kevin, melihat mamanya yang sudah pergi dari samping istrinya menuju ke kamarnya. Kala dirinya baru datang dan membawa bungkusan plastik berisi jurak buah di sebrang apartemennya, saat sang istri melihatnya dan memintanya untuk membelikan rujak buah.


" Mau telpon Papa Mas!" Jawab Mawar, Membuat Kevin mengangguk dan duduk di samping istrinya.


" Ini rujak buahnya sayang." Kata Kevin, dan membuka bungkusan plastik serta membuka mika berisi buah dan menuangkan saus kacang gula merah, pedas asam manis di atas buah hingga membuat Mawar menelan ludah, dan tak sabar untuk melahapnya. Sungguh sangat menggiurkan di hari yang sangat panas.


" Makasih Sayang!!" Seru Mawar, mencium pipi suaminya sebelum ia melahap rujak buah yang di inginkannya.


" Apasih yang enggak buat istri dan anak papa ini?" Jawabnya, sambil mengusap perut istrinya yang sedang menikmati makannya.


" Sehat-sehat ya di perut mama, apapun yang kamu minta papa akan turutin." Ujarnya lagi, hingga membuat Mawar tersenyum lebar.


" Janji?" Ucap Mawar, dengan mulut penuh makanan.


" Janji." Jawab Kevin, senang sekali mengusap perut Mawar seperti Mamanya saat di mobil.


Dan terbesit sudah dalam pikiran Mawar dengan jumlah begitu banyak keinginan dalam otaknya. Hingga dirinya tersenyum-senyum sendiri membayangkan kerepotan suaminya jika dirinya benar-benar mengidam.


****


" Aku cinta dengan kamu Lis!"


" Jaga hatimu untuk aku."

__ADS_1


" Tunggu aku kembali. Dan aku akan meminta jawaban darimu."


" Jangan ganggu Fahmi, biarkan dia fokus dengan kuliahnya."


" Kejarkah cita-cita kamu, biar suatu saat keluarga pasangan kamu tak akan malu memperkenalkan kamu dengan semua orang, siapa diri kamu."


Menghembuskan nafas berat, menatap langit malam begitu teduh dan begitu gelap, seperti gelapnya di dalam hatinya. Gundah, sedih, resah, kecewa dan marah. Semua ada di dalam hati Lisa.


Menatap meja belajarnya, melihat amplop coklat berada di atas tasnya, dan memejamkan mata untuk menahan amarah saat ia kembali mengingat kata-kata orang tua Fahmi.


Terasa kacau, pikiran begitu rumit dan hati terasa panas, saat ia tahu jika orang tua Fahmi menghina keluarganya. Menghina dirinya yang tidak sepadan dengan dirinya dan memberikan sejumlah uang untuk tidak mendekati putranya lagi.


Hinaan dan permohonan, dari orang tua dan juga anak. Rasa ingin menepati janji, tapi hinaan begitu dalam saat keluarganya di rendahkan.


Menghembuskan nafas berat, memijat pelipis yang begitu pusing saat memikirkannya. Hingga dirinya terkejut saat mendengar suara teriakan Ibunya yang memangil-manggil ayahnya, dengan cepat ia keluar dari kamar dan berlari menuju kamar orang tuanya. Tanpa mengetuk pintu, dirinya begitu saja membukanya dan melihat sang ibu yang menangis saat melihat bapak tergeletak di atas sajadah.


" Bapak!" Pekik Lisa, menghampiri ibu dan bapak.


" Bapak kenapa buk!" Panik Lisa. " Pak, bangun pak! Bapak!" Imbuhnya, menggoyangkan tubuh bapaknya di atas pangkuan ibunya.


" Cepat minta bantuan Lisa! Cepat!" Perintah ibunya, menangis begitu histeris. Tanpa menunggu perintah lagi, Lisa segera berdiri dan berlari keluar rumah dengan rasa panik dan menangis.


" Tolong, tolong!" Teriak Lisa begitu kencang hingga para tetangga yang mendengar segera keluar dan menghampiri Lisa yang masih berteriak meminta tolong.


" Bapak, om! tolongin bapakku." Kata Lisa, dan para tetangga mulai berjalan ke dalam rumah Lisa untuk melihat apa yang sedang terjadi.


" Pak, bangun pak!" Isak ibu Lisa, dan para tetangga mendengarnya serta dengan cepat membopong Bapak Lisa dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Di ikuti Lisa dan Ibunya yang panik dan menangis.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2