Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Perasaan.


__ADS_3

" Kita mau kemana?" Tanya Mawar, duduk di samping Kevin. Berada di dalam mobil melaju kecepatan sedang di pagi hari.


" Aku ingin membawa kamu bertemu orang tuaku." Jawab Kevin, hingga Mawar tersentak kecil mendengarkan jawaban Kevin.


Memberitau secara mendadak, tidak ada persiapan dan tidak ada buah tangan untuk bertemu mertua atau keluarga besar Kevin. Seperti kejutan yang tak terduga dari suaminya, dengan cara yang tiba-tiba. Membawanya untuk bertemu calon mertua dikenalkan pada seluruh keluarga besar Kevin jika dirinya adalah istri Kevin.


" Bertemu dengan keluarga kamu?"


" Iya, Aku ingin semua orang tau. Jika aku sudah beristri, meminta restu untuk membangun keluarga kecilku sekarang." Ucap Kevin, tersenyum hangat di pagi hari.


Meminta restu di saat dirinya sudah menikah dan membawa istrinya untuk pertama kali bertemu keluarganya. Entah ini benar atau tidak, tapi setidaknya dirinya bisa merasa lega nantinya jika ke dua orang tua dan keluarganya tau akan statusnya sekarang. Meskipun nanti akan ada kekecewaan di antara dua pihak.


" Kenapa mendadak?" Protes Mawar, belum ada persiapan sama sekali untuk bertemu dengan keluarga Kevin dan dirinya takut jika nanti akan membuat malu Kevin di hadapan keluarga besarnya. Karena statusnya yang berbeda.


" Tidak mendadak sayang? Sudah di siapkan satu minggu yang lalu dan aku sudah bilang ke kamu kan?" Kata Kevin, masih tersenyum menatap Mawar.


" Bilang? Kapan?" Mengerutkan kening menatap Kevin.


" Dua hari, saat kita sudah selesai bercinta." Jawab Kevin, membuat Mawar membulatkan mata, memukul lengan suaminya kala suaranya begitu keras, tanpa beban dan bisa terdengar di telinga sang sopir.


" Bisa pelan gak sih mas! Malu jika pak sopir dengar!" Lirih Mawar. seperti kepiting rebus, malu dengan sopir pribadi Kevin. Suami yang ceplos tidak tau malu mengucapakan adegan ranjang saat tidak berdua saja dengannya.


" Sudah jangan di bahas!" Melototkan mata, dimana suaminya akan menjawab ucapan istrinya setelah selesai tertawa dan menutup mulutnya kembali dan mengulum senyum, melihat istrinya mulai sebal dengannya.


Menggenggam tangan istrinya dengan lembut, tersenyum hangat untuk menenangkannya. Tau akan kegugupan dan kekhawatiran dari sang istri yang akan bertemu dengan keluarga besarnya.


" Jangan takut, ada aku. Kita hadapi bersama-sama." Kata Kevin.

__ADS_1


" Apapun resikonya?"


" Apapun resikonya, Aku akan hadapi sendiri, terima semuanya dan tidak akan melibatkan istriku." Tegas Kevin, dan tangan Mawar menggenggam kuat serta menggelengkan kepala tak setuju dengan ucapannya.


" Kita akan hadapi bersama, jangan bebani diri kamu sendiri mas. Aku akan tetap bersama kamu apapun keadaannya nanti." Kata Mawar, tersenyum akan kata istrinya yang mau menghadapi resiko apa yang akan menimpanya dan mau tetap bersamanya.


Mencium tangan Mawar, menatap lekat mata istrinya dengan kehangatan. " Makasih sayang? Maaf karena baru sekarang aku mengajak kamu untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga besarku."


" Tidak apa-apa mas?" Kata Mawar, membalas senyum suaminya. Meskipun ada rasa sedikit kecewa tapi setidaknya ia bisa lega dengan permintamaafan dari suaminya. Dan mau mempertemukannya dengan orang tuanya.


Berharap semua akan berjalan dengan lancar, bertemu dengan ke dua orang tua Kevin, meminta maaf dan meminta restu. walaupun nantinya ia tau jika dirinya pasti tidak akan di terima oleh keluarga besar suaminya. Atau, dirinya akan mendapatkan hinaan dari mertua atau dari saudara Kevin yang terpandang dari kalangan atas.


****


" Mama telpon, minta aku untuk pulang. Ada yang ingin di bicarakan. Katanya penting. " Ucap Zellin, menikmati paginya duduk di taman dekat apartemen. setelah selesai jogging paginya bersama dengan Bima.


" Aku ingin bertemu dengan keluarga kamu." Ujarnya lagi.


" Untuk apa?"


" Mau bilang, untuk tidak lagi menjodohkan putrinya. Biar putrinya tidak kabur-kabur dari rumah. Anak perempuan tidak baik kan pergi sendiri, apa lagi jauh dari keluarga dan tidak mengabarinya sama sekali." Kata Bima.


" Kamu enggak senang, aku di sini?" Tanya Zellin sedikit berubah sendu mendengar kata Bima.


" Bukan begitu? Aku senang kamu di sini, tapi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa tanpa orang tua kamu tau di mana kamu berada. Apa lagi tidak ada komunikasi sama sekali." Jelas Bima, meluruskan kesalah pahaman Zellin tentang perkataannya.


" Jika aku tidak kembali, apa kamu tidak sedih dan kangen aku Bim?" Tanyanya, seolah-olah dirinya sulut untuk bertemu dengan Bima lagi setelah pulang ke rumah orang tuanya dan pastinya akan di paksa lagi untuk menerima perjodohan yang sudah melekat di kalangan keluarga besar.

__ADS_1


Perjodohan untuk menyelamatkan perusahaan atau perjodohan untuk saling menguntungkan dalam bekerja sama membangun dan mengeratkan perusahaan. Sudah banyak seperti itu dari kalangan atas dan tidak bisa di sembunyikan lagi dari gosib yang beredar.


" Tidak." Kata Bima, membuat Zellin tersenyum sedih, menundukkan kepala. " Karena setiap hari aku akan telpon kamu, meskipun kita jauh dan aku akan berusaha menemui kamu di waktu libur kerja. " Imbuhnya lagi, dengan cepat menatap Wajah tegas Bima duduk di sampingnya yang tersenyum melihatnya. Dan dirinya pun ikut tersenyum.


Cinta memang terhalang dengan kasta dan perbedaan. Tidak mungkin untuk bisa mengharap lebih, meskipun sedikit ada celah untuk membuktikan jika mereka bisa bersama. walaupun rintangan begitu banyak.


Tapi mereka tau jika akan ada yang tersakiti dan terbebani bila mereka benar-benar bersama. Biarkan, bagaimana arus jalan kehidupan mereka tetap mengalir dengan sendirinya, jika memang di takdirkan untuk bersama, pastinya mereka akan berjuang dan tidak akan putus asa di tengah jalan.


" Pernah dengar gak dari pertemanan laki-laki dan perempuan, bisa menjadi pasangan suami istri suatu saat nanti." Tanya Zellin.


" Pernah? Tapi tidak begitu banyak dan mereka santai saja jika ada gosib yang menerpanya." Kata Bima, membuat Zellin mengerutkan kening.


" Teman yang sudah lama dengan kita, tau sifat dan prilaku kita bagaimana dan mereka tidak akan berpura-pura di hadapan siapapun termasuk orang di cintainya. berbeda dengan kekasih yang tidak tau sifat buruk baik dan prilakunya sebelum menikah. Tapi setelah menikah, kita akan tau bagaiman sifat dan prilaku yang sesungguhnya." Jelas Bima.


" Bisa nggak suatu saat aku dan kamu, menjadi suami istri." Kata Zellin dan Kini Bima yang terkejut dengan ucapan Zellin.


" Aku tidak mau di jodohkan!" Keluh Zellin. " Aku ingin bebas memilih masa depanku sendiri, walaupun aku tidak tau nantinya gimana pasangan ku itu, dia baik denganku atau tidak. Tapi, jika aku ingin memilih. Aku ingin pasanganku seperti kamu Bim. Selalu ada dan selalu nyaman jika aku bersama kamu." Imbuhnya lagi, mengungkapkan kejujurannya. Jika dirinya memang nyaman bersama Bima. Tidak memperdulikan Expresi Bima yang terkejut, menatap lekat dengannya.


Karena dirinya memang sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Meskipun malu mengungkapkannya secara langsung untuk pertama kali seorang wanita mengungkapkan cinta terlebih duluan.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2