Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
ke Mall


__ADS_3

Dia adalah pria yang banyak di kagumi oleh para betina.


.


.


.


.


" Ar.?" Sapa fahmi, yang saat Mawar dan Lisa sedang berada di kantin, memilih duduk di pojok dengan mereka yang menikmati jam istirahat sambil makan bakso.


Duduk di depan Mawar tanpa meminta ijin dulu, karena dirinya sudah begitu penasaran akan gosip yang beredar.


" Iya, ada apa Ar.?" jawab Mawar, seakan dirinya sudah malas sekali untuk bertemu dengan Fahmi, hanya karena seorang cowok dirinya harus berurusan dengan Bianca dan masuk ke ruang kepala sekolah.


" Apa benar Ar, gosip itu.!" Ucapnya ragu-ragu seakan Fahmi takut jika itu kenyataan.


" Gosip apa.?" Pancing Mawar.


" Gosip kamu sudah punya calon suami." Jawab lirih Fahmi.


" Kalau, iya kenapa." Bukannya Mawar yang menjawab tapi Lisa, dan itu membuat Mawar serta Fahmi menatapnya.


" Loe jangan bercanda Lis.!" Desah Fahmi, yang mulai sedikit cemburu.


" Kalau enggak percaya tanya saja tu sama Anaknya." Jawab Lisa, melihat Mawar dengan tersenyum.


" Apa benar itu Ar.?" Tanya Fahmi.


Melihat raut muka Fahmi yang sendu dan menatap sahabatnya yang sedang tersenyum serta memainkan alis, ingin rasanya ia menampol muka Lisa yang ceplas ceplos tanpa di pikir dulu.


" Iya." jawab Mawar lirih, masih terdengar oleh dua orang yang ada di hadapannya.


" Jangan bercanda Ar.!" Ucap Fahmi yang tak terima akan jawaban Mawar.


" Aku enggak bercanda Fahm." jawab Mawar dan menatap Fahmi agar dia percaya.


Patah hati, kecewa, ingin marah saat Mawar dengan tegas menjawab semuanya. Selama dua tahun iya selalu mencoba untuk mendekati Mawar, menunggu Mawar, menunggu cintanya di balas oleh Mawar tapi apa yang ia dengar saat ini sungguh menyakitkan.


Dia sudah mempunyai calon suami, calon suami yang begitu mapan darinya, tegas dan dewasa. Sedangkan dirinya masih seorang pelajar, wajar saja Mawar tak ingin dengannya.


Meninggalkan dua wanita pergi dari mereka begitu saja, tanpa ia menegur sapa dulu. Membuat dua wanita yang menatap kepergiannya dengan rasa kasihan.


" Kamu ini.!" gerutu Mawar dengan memukul tangan Lisa.


" Aww, sakit Ar.!" seru Lisa. " Kok aku jadi kasihan ya Ar.?" Ujarnya lagi.


" Aku juga, tapi mau gimana lagi. Kamu sudah terlanjur bilang gitu sama Fahmi." Cibir Mawar.

__ADS_1


" Ya kalau enggak gitu, dia akan tetap mengejar mu, terus kamu gak akan selesai-selesai masalahnya sama Bianca." Jawab Lisa, mengangguk dan membenarkan ucapan Lisa. Tapi dirinya juga merasa kasihan dan tak tega melihat fahmi seperti itu, kesannya seperti dirinya tak punya perasaan, membuat seorang cowok patah hati.


Menghembuskan nafas berat, dan tak ingin memikirkan lagi tentang gosip di sekolah dan tak ingin memikirkan Fahmi, sudah cukup rasanya dalam otaknya ini penuh dengan ghibahan para siswi dan tetangga.


Bell sudah berbunyi dan jam istirahat sudah selesai, para siswa pun kembali ke dalam kelas untuk memulai pelajaran ke tiga.


" Nanti jadi beli hp.?" tanya Lisa.


" Iya jadi, anterin cari ya." jawab Mawar.


" Oke." Jawabnya dan mulai konsen dengan mata pelajaran


Pelajaran yang sangat menguras pikiran, di tambah hari semakin siang, bel tanda pulang telah berbunyi, para murid merasa lega dan pulang dengan berhamburan.


Mawar dan Lisa berjalan keluar dari ruang kelas dan akan menuju parkiran, tapi terhenti lantaran melihat sebagian siswi sedang bergerumbul melihat ke depan sekolah membuat dua sahabat merasa penasaran.


" Ada apa sih.?" Tanya Lisa pada Mawar.


" Mana aku tau." kata Mawar dengan mengedikkan bahunya.


" Lihat bentar yuk Ar.?" Ajak Lisa.


" Ogah, ah.! ayok pulang, katanya mau nemenin aku cari hp." Ucap Mawar.


" Hah ... gini nich kalau punya temen yang gak suka kepoin orang. gak bisa di ajak ghibah plus ngintip keseruan." cibir Lisa, membuat Mawar menggelengkan kepala.


Belum sempat menuju parkiran motor sekolah Mawar dan Lisa di tegur sapa oleh salah satu teman kelasnya.


" Ar, pacar kamu lagi nungguin tu di depan sekolah." Ucap teman kelas Mawar.


" Pacar.?" gumamnya dan menatap Lisa yang juga sama menatapnya.


" Cowok Gila.!" umpatnya dan berjalan meninggalkan Lisa yang mulai tertawa karena umpatannya, seakan dia mengerti dan mengikuti Mawar dari belakang.


Berjalan tergesa-gesa menuju depan gerbang sekolah hingga dirinya melihat Kevin yang bersandar di pintu mobil, dengan dia yang memakai kacamata hitam sambil memainkan ponsel.


" Kau kenapa kemari.!" Tegur Mawar, saat sudah berada di hadapan, Kevin tak mempedulikan beberapa siswi melihat mereka.


Beralih menatap Mawar, melepaskan kacamata dan menaruh ponselnya di saku.


" Apa kau tidak melihat pesanku.?" tanya balik Kevin.


"Pesan.! aku tidak lihat." Jawab ketus Mawar


" Ponsel jadul, mana mau di perlihatkan di depan umum." cibir Kevin, dan mendapatkan pelototan dari Mawar. " Ayo cepat masuk, panas.!" Perintahnya sebelum Mawar membalas ucapannya.


Mengerucutkan bibir serta menghentakkan kaki karena tak bisa membalas ucapan Kevin, dan masuk ke dalam mobil dengan dia yang melihat Lisa tersenyum serta melambaikan tangannya.


" Lain kali gak usah jemput, tebar pesona saja." gerutu Mawar.

__ADS_1


" Gr banget, siapa juga yang mau jemput kamu. Gak perlu tebar pesona, semua cewek sudah terpesona dengan ku." jawabnya santai.


" Sok yes." lirih Mawar


" Emang." Jawab Kevin, membuat Mawar mengertakkan gigi gemas ke arahnya, dan malas sekali berdebat dengan biawak buntung hingga dirinya memilih menatap luar jendela.


Sedangkan Kevin menahan senyum saat Mawar kalah berdebat dengannya dan suka melihat Mawar yang cemberut.


Menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan masih menyisahkan waktu banyak sebelum kembali ke kantor, hingga dirinya membelokkan mobilnya ke Mall yang tak jauh dari apartemennya.


Mengerutkan kening saat mobil Kevin berbelok ke arah mall.


" Ayo turun." Ucapnya saat sudah memarkirkan mobilnya.


" Ngapain ke sini.?" tanya Mawar.


" Enggak usah banyak tanya, ayo cepetan turun." Perintahnya, membuang nafas kasar dan turun dari mobil dengan dirinya yang memakai jaket untuk menutupi seragam sekolahnya.


Berjalan beriringan dengan mereka yang tak berbicara sedikit pun, sedikit risih saat banyak wanita yang menatapnya dan juga menatap Kevin dan Kevin pun tak memperdulikan itu. Mengikuti Kevin yang entah kenama di bawa oleh dia. Hingga Kevin memasuki toko ponsel yang terkenal.


Berdiri di samping Kevin yang sedang melihat beberapa ponsel keluaran baru, sedangkan dirinya juga sedang melihat-lihat harga ponsel yang membuatnya langsung menelan saliva melihat harga ponsel yang begitu mahal.


" Bagus warna apa.?" tanya Kevin, membuat Mawar menatapnya dengan mengerutkan kening.


" Aku tanya bagusan warna apa." Tanyanya lagi.


" Buat siapa." Tanya Mawar.


" Buat teman, kamu kan tau selera cewek." Jawabnya.


" Warna putih bagus." jawabnya, menatap ponsel berlambang apel yang sudah di gigit dengan tiga kamera di belakang, sungguh sangat menggiurkan dan sangat di inginkan bagi siapapun.


Tapi tidak bagi Mawar, karena ia tau jika harganya sangat mahal dan tak mungkin dirinya bisa beli. Mencoba mencari ponsel yang harganya sedikit murah dengan bajet yang sekiranya tak menguras kantong.


" Yang ini saja." Ucap Kevin pada pegawai dan memberikan kartu kredit hitam miliknya, melihat ke arah Mawar yang sedang melihat-lihat ponsel, hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


Menerima ponsel yang sudah ia beli serta mengambil kartu kreditnya.


" Ayo." Ucap Kevin dan di anggukkan oleh Mawar.


" Mau cari makan atau langsung pulang." tanya Kevin.


" Pulang saja, nanti kalau makan di sini takut di suruh bayar." Jawab Mawar.


" Aku traktir." Kata Kevin.


" Yakin.!"


" Iya." jawabnya dan menggandeng tangan Mawar menuju restoran terdekat, tanpa disadari mereka seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2