Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
pilihan sulit


__ADS_3

" Mama tidak seharusnya berkata seperti itu pada Bima!" Tegur Zellin, setelah mengantarkan Bima ke depan rumah berpamitan pulang karena dirinya di usir oleh mamanya.


Dan sebagai harga diri seorang pria Bima pun pergi dari rumah Zellin dengan keadaan marah di dalam hati, tidak memperlihatkannya di hadapan Zellin, meskipun Zellin tau jika Bima marah pada Mamanya dan memendamnya sendiri.


" Emang kenyataankan dan enggak perlu di tutupi lagi! Lagian siapa dia, berani sekali melamar putri dari kalangan atas. Hanya karyawan biasa, kalangan menengah masih saja mau melamar putriku. Gak sederajat." Hina mama Zellin masih dengan pendiriannya, sombong dan percaya diri.


" Mama enggak mau ya kamu nikah sama dia, malu mama Zellin. Malu! sama kerabat dan kalangan bisnis papa kamu. Keluarganya mempunyai aib besar Zellin!" Ujarnya lagi, memperingatkan untuk kesekian kalinya. Agar putrinya tidak berbuat nekat dan ceroboh serta mempermalukan keluarga besarnya.


" Mama enggak bisa mengatur hidup Zellin. Zellin punya kehidupan sendiri ma! Zellin punya masa depan dan Zellin berhak bahagia."


" Masa depan! Masa depan dengan pria yang enggak jelas, Hah!! Masa depan yang belum tentu bisa membuat kamu bahagia Zellin, Masa depan dengan keluarganya yang penuh dengan aib kotor, dan bisa membuat kamu ikut di hina termasuk keluarga kita." Melototkan mata menatap nalang pada putrinya.


" Mama Bisa mengatur hidup kamu Zellin, Ini demi kebaikan dan masa depan kamu. Dan ini juga demi keluarga kamu!" Tekan Mama Zellin tidak kalah sengit dengan putrinya.


" Jika kamu tidak mau menikah dengan pilihan mama. Oke, jangan harap kamu bisa bertemu mama lagi untuk selamanya." Ancam Mama Zellin, beranjak pergi meninggalkan suami dan putrinya menuju kamarnya dan membantibg keras pintu kamar yang tertutup dari luar.


" Pa?" Lirih Zellin, melihat papa yang hanya diam tak bersuara sama sekali saat menyaksikan perdebatan antara dirinya dan mamanya.


Setiap dirinya dan mamanya berdebat, papanya selalu menengahinya dan selalu melerai agar mereka diam dan tidak lagi berdebat. Tapi di hadapannya sekarang, Papanya lebih banyak diam dan juga tidak melerainya sama sekali. Hanya menyaksikan dan memikir keras untuk menentukan jalan terbaik.


Sangat aneh dan sangat takut jika papanya berpihak pada mamanya. Tidak merestui hubungannya dengan Bima, Jika mama tidak merestui itu tidak masalah baginya karena masih ada papa yang selalu merestuinya. Tapi kini, Papanya tau semuanya sebelum dirinya menceritakan sendiri asal usul keluarga Bima. Dan bomerang dalam kehidupannya akan di mulai dari ketidak jujurannya.


" Pa?" Sapa Zellin sekali lagi.


" Tidak masalah jika kekasih kamu seorang Asisten, tidak masalah jika kekasih kamu orang tidak punya Lin. Papa tidak pernah mempermasalahkan itu." Ucap Papa Zellin, sedikit ada rasa lega dan senyum merekah di bibir Zellin.


" Tapi, Mama kamu ada benarnya. Latar belakang keluarga Bima sangat berantakan, aibnya terlalu besar dan itu akan membuat keluarga kita malu terutama putri papa yang akan tersiksa. Papa tidak ingin itu Zellin." Ujarnya lagi, senyumnya yang semula merekah kini sirna akan perkataan papanya yang sudah di pastikan tidak merestui hubungannya.


" Pa? Zellin enggak mau pisah dengan Bima. Zellin cinta pa sama Bima?" Ucapnya pada Papa Zellin.

__ADS_1


" Lupakan cinta kamu dengannya, turuti perkataan mama kamu. Jika kamu tidak mau, sama seperti perkataan mama, jangan harap melihat papa lagi Lin." Ancamnya dan pergi dari hadapan Zellin yang terkejut dengan ancaman papanya.


Tak pernah papanya mengancam seperti ini padanya, tidak pernah papanya melarang ataupun meminta padanya untuk menuruti kemauannya. Tapi ini, sangat jelas dan nyata untuk pertama kalinya. Papanya melarang dan meminta sesuatu padanya dan ancaman yang tidak akan main-main dari bibir papanya.


Menatap nanar kepergian dua orang tuanya yang tak mau membahas tentang pria yang bersamanya dan melarang keras untuk tetap bersama Bima dengan ancaman yang begitu sulit juga begitu menderita baginya.


Bima, pria yang baik, penyayang, sabar dan juga dewasa dalam menghadapinya. Pria yang membuatnya nyaman, tenang dan cinta dengannya. Pria yang bisa mengerti akan dirinya.


Bukan seperti ke dua orang tuanya, kini papanya lebih memilih perkataan mamanya, melarang untuk bersama Bima dan juga tidak merestuinya. Sangat sulit di antara dua pilihan, Papa dan Bima.


*****


" Enggak ada pekerjaan Mas?" Tanya Mawar, duduk di samping suaminya yang mengemudikan mobil. Menjemputnya di depan sekolah.


" Nanti dua jam lagi bertemu dengan klaen sayang." Jawabnya, hanya bersuara o untuk menjawabnya.


" Aku yang nentuin tempat makanan ya mas?" Senyum Mawar, hanya mengangguk dan juga mengacak rambut Istrinya gemas.


Sempat mengerutkan kening hanya beberapa meter saja mereka sudah sampai di tempat tujuan warung makan yang di pilih Mawar.


" Ayo turun?" Ajak semangat Mawar.


" Di sini sayang?" Tanya ragu-ragu Kevin, menatap warung makan begitu banyak pengunjung di siang hari lantaran jam istirahat.


" Iya? Kenapa?" Tanya balik Mawar, sebenarnya tau jika suaminya tak terbiasa makan di warung seramai ini.


" Enggak mau? Ya sudah kita cari tempat makn lain saja."


" Enggak papa. Ayo?" Sahut cepat Kevin, membuat Mawar terdiam sebentar dan tersenyum saat suaminya mau di ajak makan di tempat warung sederhana.

__ADS_1


Melepas jasnya, menekuk lengan kemeja sebatas siku dan keluar bersama dengan gadis berseragam sekolah, masuk ke dalam warung yang banyak antian di depan etalase makanan.


Banyak yang melihat dua insan, seperti bukan sepasang suami istri. Melainkan seperti adik kakak atau guru dan muridnya sedang makan siang bersama. Sangat membuat risih Kevin di tatap seperti itu dan dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


Menyentuh pinggang istrinya pun tak akan bisa, jika bisa pun ia akan di pukulin oleh para wanita atau pria yang sedang banyak menatap dirinya dan Mawar.


" Mau makan apa?" Tanya Mawar berada di depan etalase makanan. Sempat bingung dirinya harus makan apa karena ini pertama kalinya ia makan di warung sederhana.


" Ayam saja." Kata Kevin.


" Sayurnya apa?" Tanya Mawar.


" Hmm!" Bingung tidak tau apa menu makanan, karena tak ada papan daftar menu di warung itu.


" Aku ikut kamu saja." Pasrah Kevin, membuat Mawar mengulum bibir. Ingin tertawa ataupun tersenyum melihat wajah suaminya yang pasrah akan pilihannya sekarang.


" Nasi campur dua, es tehnya dua buk." Kata Mawar dan memilih tempat duduk depan warung agar tidak berdesakan dan kepanasan untuk suaminya.


Terkejut melihat dua gelas jumbo di depannya saat masnya mengantarkan minuman, dan lebih terkejut melihat makanan dengan lauk dan sayur begitu banyak hingga menutup nasi di bawahnya.


" Banyak sekali." Gumam Kevin, menelan saliva yang tidak terbiasa makan sebanyak itu di hadapannya sekarang. Dan Mawar merasa senang bisa mengerjai suaminya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2