
Mendengar suara ponsel berbunyi, Lisa segera mengambilnya di atas laci, duduk di tepi ranjang dan membukanya.
satu pesan dari Bima.
" Lis, dimana? Bisa ketemuan gak." Tulis pesan Fahmi, membuat lisa mengerutkan kening melihat pesan Fahmi yang mengajaknya bertemu di malam hari setelah tiga hari tidak bertemu dengannya di sekolah.
" Ada perlu apa?" Tanya Lisa, mencoba bertanya sebelum dirinya menentukan ajakan Fahmi.
" Ada yang ingin aku bicarakan penting." Balasnya, semakin membuat Lisa menautkan alisnya dan penasaran akan apa yang ingin Fahmi bicarakan padanya.
" Aku jemput ya sekarang di rumah kamu?" Tulis Bima lagi, untuk menjemput Lisa di rumahnya.
" Tidak usah Bim, ketemuan di mana biar aku yang nyamperin kamu ke sana." Kata Lisa, tidak enak malam-malam di jemput seorang cowok apalagi di kampung yang penuh dengan nyinyiran.
" Ya sudah, aku tunggu di taman dekat sekolah. Hati-hati."
" Iya." Jawab Lisa, sedikit menyunggingkan senyum melihat perhatian kecil Fahmi padanya.
Hanya bertemu dengan Fahmi, mengganti celana levis panjang dan memakai switer tidak perlu berdandan karena memang sudah terbiasa bertemu dengan Fahmi yang ala kadarnya.
Mengambil kunci motor dan helm, saat akan memakai helm Bapak Lisa datang mengerutkan kening melihat anaknya.
" Mau kemana Lis?" Tanya Bapak Lisa.
" Ada perlu sama teman sebentar pak?" Jawab Lisa. " Lisa pergi sebentar ya pak?" Pamitnya.
" Jauh?" Tanya Bapak.
" Enggak pak, dekat sini saja." Jawabnya
" Ya sudah jangan pulang malam-malam, hati-hati di jalan." Ucap Bapak, memberi nasehat putriny, tidak mau mengekang anaknya karena dirinya percaya jika putrinya tidak akan berbuat macam-macam di luar sana. Dan pastinya rasa takut pasti ada.
Hanya mengangguk dan berjalan cepat keluar rumah, menaiki motor dengan kecepatan sedang.
Melihat motor Fahmi terparkir di tepi jalan taman, dengan dia yang sedang menunggunya di atas motor.
" Fahmi?" Sapa Lisa, dari arah belakang membuat Fahmi menengok untuk melihat orang yang menyapanya.
" Lisa?" Sapa balik Fahmi dengan senyum, turun dari motor dan menghampirinya.
" Ada apa? Malam-malam ngajak ketemuan." Tanya Lisa langsung.
" Cari tempat ngobrol dulu yuk! Jangan di sini." Ujar Fahmi.
" Eh!"
__ADS_1
" Masak ngobrolnya di atas motor Lis? Di situ?" Kata Fahmi, menunjuk kursi panjang tak jauh dari pandangannya dan motor yang terparkir di tepi jalan.
" Hmm, jangan lama-lama. Nanti di grebek sama salpol pp." Kata Lisa, membuat Fahmi tertawa.
Berjalan terlebih dulu, dengan Fahmi mengikutinya di belakang. Duduk berdua di bangku taman malam hari, suasana terlihat sepi dan menenangkan. Berdiam berdua cukup lama, pikiran dan ucapan yang sulit sekali untuk mengungkapkan dan menjelaskan apa yang ingin di bicarakan.
" Kamu mengajakku ketemuan, ada apa?" Tanya Lisa, menatap Fahmi yang menundukkan kepala.
" Aku akan pergi?" Lirih Fahmi.
" Pergi?" Menautkan alis tak mengerti apa yang di katakan Fahmi.
" Aku akan pergi ke inggris." Ujarnya lagi.
" Inggris? Jauh sekali." Ucap Lisa, membuat Fahmi menatapnya.
" Mama, papaku sudah mendaftarkanku kuliah di sana Lis." Ucapnya.
" Wahh, bagus dong Fahm orang tua kamu sudah mendaftarkan kamu di sana! Nilai kamu juga bagus dan itu bukannya juga ke inginan kamu dulu kuliah di London." Semangat Lisa dengan senang mendengar temannya akan kulaih di luar negeri.
" Itu dulu, tapi sekarang tidak." Kata Fahmi, membuat Lisa bingung, menatap dalam wajah Fahmi yang tidak terlihat bahagia kala mengucapkannya.
" Aku tidak mau kuliah di London Lis."
" Kenapa!" Saut cepat langsung Lisa, penasaran akan Fahmi yang sudah tidak ada lagi minat akan kulaih di luar negeri.
Masih setia untuk meminta jawaban saat cowok di sampingnya tidak bersuara dan hanya menundukkan kepala. Entah kenapa dirinya juga ada rasa sedih saat melihat wajah cowok di sampingnya.
" Masih berharap dengan cewek yang kamu cintai?" Tanya Lisa, menatap bulan sabit yang terang di malam hari.
Terkejut mendengar perkataan Lisa. " Aku sudah tidak mencintainya lagi. Dia sudah bahagia dengan pilihannya." Kata Fahmi.
" Terus? Kenapa enggak mau kuliah di luar negeri. Dulu kamu bilang padaku begitu menginginkannya, tapi sekarang. Kenapa enggak mau." Ucap Lisa, kembali menatap Fahmi.
" Karena aku enggak mau jauh dari kamu." Jawab Fahmi. " Aku suka dengan kamu Lisa." Ujarnya lagi, membuat Lisa membulatkan mata mendengar pengakuan Fahmi yang menyukainya.
****
" Sayang!!" Teriak wanita paruh baya dengan semangat saat pintu apartemen terbuka dari dalam, memperlihatkan gadis itu terkejut saat melihatnya.
" Mama?" Ucapnya, tidak percaya akan kehadiran ibu mertua di apartemen suaminya.
" Mawar sayang?" Sapa Mama Kevin, memeluk menantunya dengan rasa rindu. " Mama kangen kamu Ar?" Ujarnya lagi masih memeluk menantunya.
" Mawar juga kangen Mama." Jawab Mawar dengan senyum setelah melepaskan pelukan.
__ADS_1
" Papa?" Sapa Mawar untuk papa mertua di belakang dan menyalimi tangan pria paruh baya itu.
" Gimana kabar kamu Ar?" Tanya Papa Kevin.
" Sehat pa?" Jawabnya dengan senyum. " Ayo masuk Pa, Ma?" Ajaknya, membuat ke dua mertuanya mengangguk dan masuk ke dalam apartemen Kevin.
" Mawar!!" Teriak dari luar sebelum pintu tertutup dari dalam, hingga Mawar membuka dan melihat siapa yang teriak memanggil namanya.
" Mbak Intan!" Seru Mawar, melengkung sempurna di bibir tipis Mawar melihat kakak ipar bersama suami dan anaknya datang juga ke apartemennya.
Saling memeluk dan saling tertawa saat mereka kembali bertemu.
" Janjian nich sama mama?" Tanya Mawar, merasa heran keluarga Kevin datang bersamaan.
" Iya dong!!" Semangat Intan. " Lagi Mau buat heboh nich." Ujarnya lagi dengan bangga, hingga Mawar mengerutkan kening.
" Buat heboh apaan mbak!" tanya Mawar penasaran saat dirinya tidak tau apa-apa tentang rencana keluarga Kevin.
" Mas Kevin belum bilang Ar?" Tanya balik Intan.
" Enggak." Jawab Mawar sambil menggelengkan kepala.
" Ada apa ini?" Ucap Mama Kevin. " Ayo masuk, jangan di tengah pintu saja." Tegurnya Mama Kevin, membuat anak dan menantunya tersenyum kikkuk karena salah mengobrol di tengah pintu masuk rumah.
" Gimbul!!" Seru Mawar, melihat ponakan yang semakin gendut dan menggemaskan.
" Sini, sini sama tante." Ujarnya lagi, mengambil gendongan dari kakak iparnya.
Arsya yang melihat tantenya pun tertawa senang dan cepat mau pindah gendongan dari papanya ke tantenya. Masuk bersama ke dalam apartemen tidak terlalu luas dan kini ke datangan keluarga Kevin yang membuat isi apartemen ramai hingga Mawar tak sendirian lagi.
" Kevin mana Ar? Tanya papa Kevin.
" Di kantor pa?" Jawabnya, duduk di sofa bersebelahan dengan Intan dan memangku Arsya yang terlihat nyaman dengan Mawar.
" Belum pulang?" Tanya Mama Kevin.
" Sebentar lagi pul-," Belum sempat menjawab suara bel apartemen kembali berbunyi, membuat Mawar tersenyum dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan sore hari.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Mau nyelesain ini dulu ya, insyaAllah jika kisah Mawar sudah selesai mau lanjutin kisah Bang Hendra.😀😀